Mengenal Lebih Jauh Arti dan Tahapan Emotional Blackmail

Mengenal Lebih Jauh Arti dan Tahapan Emotional Blackmail
info gambar utama

Penulis: Habibah Auni

#Writingchallenge#Inspirasidarisekitar#Negerikolaborasi

Menjalin hubungan sehat dengan orang-orang tersayang merupakan mimpi bagi sebagian besar orang. Selain makan dan minum, mendapatkan cinta, merasakan kasih sayang, dan didekap dengan begitu erat sudah menjadi kebutuhan pokok manusia. Mengingat manusia adalah makhluk sosial, tentu saja mereka tidak bisa hidup sendirian.

Namun, tidak sedikit orang-orang yang memanfaatkan kebutuhan lahiriah ini sebagai kesempatan untuk melakukan penipuan. Mereka melumpuhkan kestabilan mental lawan bicaranya untuk kepentingan pribadi, seperti untuk melanggengkan kekuasaan, mendulang banyak uang, kepuasaan pribadi, dan berbagai alasan lainnya.

Di antara banyaknya taktik menipu perasaan, ada satu taktik yang sering digunakan tetapi luput dari penglihatan banyak orang, yaitu emotional blackmail. Emotional blackmail merupakan gaya menipu dengan mengontrol perilaku lawan bicara agar sesuai dengan keinginan pelakunya.

Ilustrasi Blackmail | Foto:Avris
info gambar

Menurut Dr. Susan Forward, terapis yang juga membuat buku bertajuk, Emotional Blackmail: When the People in Your Life Use Fear, Obligation, and Guilt to Manipulate You (1997), emotional blackmail dilakukan secara implisit dengan maksud “membahayakan” lawan bicaranya.

Karla Ivankovich mengungkapkan bahwa contoh dekat emotional blackmail adalah saat orang terdekat Kawan menggunakan informasi pribadi kita yang bersifat sensitif. Biasanya, para pelaku memperlihatkan kekecewaan berlebih dengan menunjukkan perubahan pada bahasa tubuhnya.

Misalnya, Kawan sedang dekat dengan seseorang secara romantis dan kebetulan pasangan Kawan memiliki seekor kucing. Nah lantaran Kawan pecinta kucing, Kawan senang menghabiskan waktu dengan kucing itu ketika di rumah pasangan. Pasangan pun cemburu dengan hubungan Kawan-kucing dan berkata, “Kalau Anda meninggalkan saya, Anda tidak akan pernah melihat kucing ini lagi.”

Baca Juga: Cara Mudah Membuat Life Plan Agar Hidup Lebih Terarah

Bagaimana cara kerjanya?

Sebenarnya, cara kerja emotional blackmail mirip sekali dengan blackmail, di mana para pelakunya memanipulasi lawan bicara untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Namun bedanya adalah, pelaku emotional blackmail melancarkan aksinya untuk mempermainkan emosi lawan bicara, ketimbang menyimpan segudang rahasia.

Tentu emotional blackmail terdengar sangat mengerikan, lantaran ini sifatnya cukup sulit untuk dideteksi, terlebih jika pelakunya adalah orang terdekat Kawan. Namun, biar Kawan tidak lengah, Kawan perlu mengetahui cara kerja emotional blackmail. Berikut tahapan-tahapan emotional blackmail.

Tahap pertama, memaksa Kawan untuk mengikuti permintaan si Pelaku

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Baca Juga: Kilas Balik Sejarah dan Kehadiran Komputer di Indonesia

Nah, langkah pertama yang dilakukan si Pelaku ini bisa Kawan deteksi untuk menghindarkan Kawan dari marabahaya emosional. Tanpa Kawan sadari, banyak orang di sekitar Kawan yang menggunakan cara seperti ini agar bisa menaklukkan jiwa dan emosi Kawan.

Contoh mudahnya, si Pelaku bilang secara terang-terangan, “Saya rasa Anda tidak perlu bergaul dengan si x atau y lagi.” Sekilas, tidak ada yang masalah dengan perkataan ini. Namun, jika Kawan pikirkan baik-baik, pelakunya mengungkapkan pernyataan ini lantaran cemburu dengan hubungan Kawan dengan si atau ya.

Logikanya, teman Kawan yang tulus sudah seharusnya berkata apa adanya, bukan berkata dengan penuh bias, seperti, "Saya tidak suka cara mereka memandang Anda. Mereka tidak baik untuk Anda." Meskipun si Pelaku memenuhi permintaan Kawan, mereka tepat mengupayakan agar Kawan bimbang dan tunduk di bawah pengaruhnya.

Tahap kedua, si pelaku melawan dengan membuat Kawan merasa bersalah

Jika Kawan tidak memenuhi keinginan si Pelaku sebagaimana pada tahap pertama, si pelaku akan berkata, "Anda tidak baik, jadi saya tidak nyaman mengizinkan Anda mengendarai mobil saya."

Tahap ketiga, si Pelaku menekan emosi Kawan secara berlebihan

Biasanya, si pelaku menekan emosi Kawan dengan berbagai cara manipulasi emosi, seperti mengulangi perkataan mereka seolah-olah memikirkan masa depan Kawan, menyebutkan kalau cara penolakan Kawan bisa memperburuk emosi mereka, merendahkan Kawan, dan berbagai metode keji lainnya.

Baca Juga: Sering Salah Tik? Lakukan 5 Hal Ini Agar Teliti

Tahap keempat, mengancam dengan sangat keras

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Terdapat dua cara yang dilakukan si Pelaku dalam mengancam jiwa Kawan, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Untuk ancaman secara langsung, si Pelaku akan mengungkapkan kata-kata seperti, “Kalau Anda pergi keluar dengan teman-teman Anda malam ini, saya bakal angkat kaki dari rumah.”

Sementara untuk ancaman tidak langsung, si Pelaku bisa saja melontarkan ucapan seperti, “Kalau Anda tidak tinggal bersama saya malam ini, lihat saja, nanti ada yang menggantikan posisi Anda.”

Tidak menutup kemungkinan ancaman dilontarkan dengan nada positif, seperti, “Kalau Anda tinggal di rumah malam ini, kita akan memiliki waktu banyak daripada saat Anda pergi keluar. Ini penting untuk hubungan kita."

Tahap kelima, memaksa Kawan untuk patuh

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Tentu Kawan akan merasa kelelahan dengan menerima ancaman si Pelaku secara terus-menerus. Alhasil, Kawan memilih untuk menyerah, angkat tangan, memenuhi permintaan mereka, dan membenarkan kelakuan Kawan yang dianggap salah di mata si Pelaku.

Nah, dengan membiarkan si Pelaku memperlakukan seperti ini ke Kawan, Kawan akan merasa semakin kelelahan. Begitu Kawan menyerah, yang ada hanya lah konflik baru ketimbang perdamaian. Inilah yang diinginkan lawan bicara dari diri Kawan.

Tahap terakhir, mengulang kelima tahap sebelumnya tanpa henti

Nah, karena Kawan sudah memilih untuk menyerah, emosi Kawan akan membentuk perilaku untuk mempertahankan hidup. Kawan bakal lebih memilih untuk menerima apa saja perilaku mereka apa adanya. Hingga akhirnya tahapan-tahapan ini menjadi pola yang terus berlangsung secara berulang.

Ditipu secara emosional oleh orang-orang terkasih memang sangat menyakitkan. Ini bisa membuat diri Kawan tidak percaya lagi dengan orang lain maupun membina hubungan. Semoga dengan membaca informasi seputar emotional blackmail Kawan dapat terhindar dari orang-orang jahat, ya!*

Referensi:Healthline Media | Huffpost

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini