Menjajal Commuter Line Rute Yogyakarta-Solo, KRL Pertama di Luar Wilayah Jabodetabek

Menjajal Commuter Line Rute Yogyakarta-Solo, KRL Pertama di Luar Wilayah Jabodetabek
info gambar utama

Transportasi perkeretaapian di Indonesia sejatinya semakin menunjukkan kredibilitas dengan operasional yang mumpuni, bahkan untuk kereta berbasis Commuter atau Kereta Rel Listrik (KRL) yang tidak dimungkiri mempermudah mobilitas masyarakat antar perkotaan.

Awalnya fasilitas KRL memang baru bisa dinikmati di wilayah Jabodetabek, namun seiring dengan keberhasilan memberikan layanan yang diperlukan dan sejalan dengan dibutuhkannya fasilitas transportasi serupa di berbagai wilayah lain di Indonesia, PT Kereta Commuter Indonesia akhirnya berkomitmen untuk menghadirkan KRL Commuter Line di berbagai wilayah lain di Indonesia.

Yogyakarta-Solo rupanya menjadi wilayah kedua setelah Jabodetabek yang mendapat keistimewaan untuk bisa memiliki transportasi cepat yang sudah termodernisasi ini, setelah melalui serangkaian uji coba di awal tahun 2021, layanan transportasi KRL Commuter Line rute Yogyakarta-Solo akhirnya secara resmi beroperasi secara komersil terhitung sejak 10 Februari 2021.

Baca juga KRL Yogyakarta-Solo Pakai Kereta "Berkain Batik" yang Ramah Lingkungan

KRL Yogyakarta-Solo menggantikan Prambanan Ekspres (Prameks)

Sebelum hadirnya KRL Commuter Line Yogyakarta-Solo, bukan berarti tidak ada transportasi berjenis kereta yang tidak dapat diandalkan bagi masyarakat yang ingin melakukan mobilitas antar wilayah, Prambanan Ekspres (Prameks) menjadi kereta api lokal yang diandalkan sebelumnya.

Kereta Rel Diesel (KRD) Prameks sejatinya sudah beroperasi selama 27 tahun melayani rute Yogyakarta-Solo dan sebaliknya, sejak pertama kali diluncurkan dan beroperasi pada tahun 1994. Kereta yang digunakan oleh Prameks sendiri mulanya menggunakan KA Kuda Putih sebagai KRD pertama di Indonesia yang meluncur tahun 1960.

Mengutip Solopos.com, (12/2/2021), awalnya rute Prameks hanya tersedia untuk wilayah Yogyakarta-Solo, namun kemudian diperluas dengan tambahan rute Kutoarjo-Yogyakarta-Solo yang melayani total 22 perjalanan setiap harinya.

Saat pertama kali KRL Commuter Line Yogyakarta-Solo beroperasi sebagai pengganti, beredar kabar bahwa KRD Prameks akan dipensiunkan sepenuhnya dan tidak lagi melayani rute perjalanan.

Namun, hal tersebut rupanya ditampik oleh Direktur Utama PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter) Wiwik Widayanti, pihaknya menyatakan bahwa KRD Prameks akan tetap beroperasi dengan perubahan rute, yaitu hanya melayani rute Kutoarjo-Yogyakarta dan sebaliknya yang memang belum dijangkau oleh KRL Commuter Line, dengan total 8 perjalanan setiap harinya.

Baca juga Kereta Prameks, Penyambung Hidup Warga Yogya-Solo

Kesan menjajal KRL Commuter Yogyakarta-Solo

Terlepas dari hadirnya transportasi berbasis Commuter Line serupa seperti yang ada di wilayah Jabodetabek, tentu ada beberapa perbedaan yang dimiliki dalam operasional KRL Commuter yang hadir di Yogyakarta-Solo ini.

Pertama, dari segi harga tiket yang harus dibayarkan untuk bisa menikmati layanan transportasi satu ini, pada KRL Jabodetabek dikenakan tarif progresif yang dimulai dari Rp3.000 per 25 km pertama, kemudian dikenakan tarif lanjutan Rp1.000 per 10 km berikutnya dan berlaku kelipatan.

Lain halnya dengan KRL Yogyakarta-Solo yang dikenakan tarif tetap tanpa memperhitungkan jauh dekatnya jarak relasi perjalanan yang dilakukan oleh penumpang, yaitu sebesar Rp8.000 per keberangkatan.

Kedua, dari segi peta rute dan jadwal keberangkatan. Sejalan dengan tingginya mobilitas masyarakat yang ada di wilayah Jabodetabek, maka tidak heran jika banyaknya perjalanan yang tersedia bisa mencapai lebih dari 100 keberangkatan per harinya untuk total rute KRL se-Jabodetabek. Selain itu jeda waktu ketersediaan kereta yang tersedia pun tidak terlalu jauh, ada di kisaran 5-15 menit tergantung kepadatan dan biasanya dipengaruhi oleh jam kesibukan.

Baca juga Di Tahun 2020 Masyarakat Banten Akan Bisa Nikmati KRL

Beda halnya dengan KRL Yogyakarta-Solo yang hanya memiliki 1 rute dengan 11 stasiun pemberhentian, dan untuk saat ini baru tersedia total 22 pemberangkatan dengan jadwal yang normalnya berjarak setiap kurang lebih 1 jam sekali.

Rute KRL Commuter Solo Yogyakarta di Stasiun Yogyakarta
info gambar

Walau begitu, kondisi rute perjalanan yang masih terbatas tentu sesuai dengan kepadatan mobilitas yang terjadi di tengah masyarakat Yogyakarta-Solo, kehadiran KRL Commuter yang menggantikan KRD Prameks ini bahkan mendapat respons dan sambutan baik bagi pengguna layanan transportasi milik Kereta Commuter Indonesia ini.

Seperti yang diungkapkan Ayu Ningsih (32), salah satu pengguna harian KRL Yogyakarta-Solo sejak pertama kali transportasi ini dihadirkan.

“…lebih nyaman itu pasti, dari segi fasilitas keretanya terutama sistem tiket, kalau sebelumnya waktu masih pakai Prameks buat pembelian tiket kan masih konvensional, beli offline di tempat sebelum keberangkatan harus siap, walau bisa juga beli secara online. Tapi kalau KRL ini jelas lebih praktis, karena kita tinggal tap di gate aja pakai kartu harian yang dipunya” jelas Ayu kepada GNFI, Rabu (2/6/2021).

KRL Commuter Solo Yogyakarta dengan protokol kesehatan
info gambar

Di lain sisi, KRL Yogyakarta-Solo ini sejatinya memang hadir di tengah situasi pandemi. Namun, tidak menghalangi niat pihak Kereta Commuter Indonesia untuk menghadirkan layanan yang lebih baik bagi perkeretaapian antar kota di luar wilayah Jabodetabek. Terbukti, sama halnya dengan KRL Jabodetabek, untuk wilayah Yogyakarta-Solo ini pun diterapkan protokol kesehatan dengan pembatasan jarak penumpang yang cukup ketat.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga menyatakan bahwa kedepannya rute KRL Commuter Line kedua yang hadir di Indonesia ini akan diperpanjang sampai ke Kutoarjo untuk wilayah barat dan ke Madiun untuk wilayah timur di masa yang akan datang, sebagaimana diberitakan oleh Antara, (28/02).

Baca juga Kereta Cepat Mirip Shinkansen akan Dibuat di Madiun?

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini