Cerita Seorang Jenderal yang Risau dengan Lingkungan dan Kondisi Hutan

Cerita Seorang Jenderal yang Risau dengan Lingkungan dan Kondisi Hutan
info gambar utama

Purnawirawan bintang tiga Doni Monardo memberi teladan bagaimana sikap seorang pemimpin. Ia menjadi sosok yang cukup lantang menyuarakan pentingnya pelestarian lingkungan demi hajat hidup orang banyak. Pria kelahiran Cimahi, Jawa Barat, 10 Mei 1963 ini mengaku seorang pecinta tanaman. Kecintaan ini bermula dari perkarangan rumahnya sendiri.

Doni mengisahkan, hal ini bermula kekagumannya saat melihat biji tanaman liar yang tumbuh tunas di dekat rumahnya. Biji itu kemudian dipindahkan ke halaman rumah dan tumbuh besar.

"Yang jelas saya meniru dari ibu dan nenek saya. Keduanya sangat mencintai tanaman terutama bunga, dan saya selalu punya rasa hutang pada pohon. Seperti ada ikatan histroris dengan tumbuhan," ucap mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam acara yang bertema ''Bincang Alam Premier: Tanya Tentang Tata Kelola Alam'', yang diselenggarakan Mongabay Indonesia, Sabtu (5/6/2021).

Hal ini ternyata terbawa saat dirinya melaksanakan tugas sebagai prajurit, karena bagi pria berusia 58 tahun ini hutan layaknya rumah keduanya.

Baca juga Cerita Berseminya Hutan Cogong Pasca Perambahan Selama Dua Dekade

"Ketika saya bertugas di Baret Merah Koppasus TNI, saya mulai sadar bahwa hutan seperti rumah kedua. Hutan punya unsur sosial budaya, ekonomi, sumber daya alam, dan nilai lainnya yang perlu dilestarikan," ungkap Doni.

Perhatiannya yang tidak putus kepada lingkungan ini akhirnya membawa lelaki berdarah Lintau, Sumatra Barat, ini menerima penghargaan gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) dari IPB University beberapa waktu lalu.

Doni dinilai melakukan pengabdian dan jasa luar biasa bagi kemajuan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang ilmu pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan, pendidikan, pembangunan pertanian dalam arti luas, serta kemanusiaan.

"Saya selalu menginisiasi gerakan peduli lingkungan di mana pun ditugaskan. Saya selalu menanam pohon. Jika tidak percaya silahkan cek saja rekam jejak saya,” sebut Doni dalam petikan obrolannya.

Terlibat langsung dengan masyarakat peduli lingkungan

Melihat sepak terjang Doni, seperti sebuah oase ditengah padang pasir. Hal ini melihat sedikitnya pejabat sipil, TNI/Polri yang terlibat dalam perusakan ekosistem, dia malah bertindak nyata.

Beberapa yang pernah digagasnya seperti Program ''Emas Biru'' dan ''Emas Hijau'' untuk kesejahteraan rakyat Maluku. Juga pemulihan Sungai Citarum yang digagasnya saat menjadi Pangdam Siliwangi.

"Soal lingkungan memang mesti ada yang mempelopori. Ketika saya ditugasi negara. Saya mempelajari betul karakteristik setiap daerah dan keunggulan tiap daerah itu. Selalu saya optimalkan agar isu lingkungan bisa digaungkan. Melalui pendekatan semacam ini, mudah merangkul semua komponen," tandasnya lagi sembari tertawa.

Doni mengaku keterlibatan dalam masyarakat sesuai dengan filosof Lao Tse. Hal ini yang juga dibawanya saat mengemban jabatan sebagai Jenderal Kopassus.

"Datanglah kepada rakyat, hiduplah bersama mereka. Belajarlah dari mereka dan cintailah mereka. Mulailah dari apa yang mereka tahu. Bagunlah dari apa yang mereka punya. Tetapi, pendamping yang baik adalah ketika pekerjaan selesai dan tugas dirampungkan," paparnya.

Baca juga Apresiasi untuk Penjaga Hutan dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Indonesia

Lulusan Akademi Militer (Akmil) 1985 ini mengaku terkesan saat berbincang dengan ahli berkebangsaan Jerman. Hasil dari perbincangan itulah yang membulatkan tekadnya untuk melindungi lingkungan.

“Dia tanya, Doni kamu tahu bangsa yang tercerdas di dunia? Saya bilang yaa bangsa Jerman. Kamu tahu kenapa bisa begitu? Saya jawab tidak tahu. Lalu diberikan penjelasan karena air yang kami minum berkualitas.” paparnya.

Karena itulah baginya menyelamatkan kehidupan, menjadikan bangsa sehat dan punya sumber daya manusia unggul perlu akses air bersih. Tapi sekarang jelasnya, masyarakat terancam tidak akan lagi mendapat sumber mata air yang berkualitas karena kerusakan hutan.

"Jika TNI dan Polri bisa bersama-sama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam upaya mitigasi hutan kita. Maka, saya yakin alam akan terpelihara. Semoga kita semua selalu memberikan pengabdian terbaik kepada bangsa dan negara," tegasnya.

Keragaman vegetasi untuk mitigasi bencana

Doni juga menerangkan bahwa Indonesia adalah daerah yang rawan bencana. Karena itulah banyaknya vegetasi lingkungan yang dimiliki bisa menjadi modal awal dalam mitigasi bencana.

"Terlebih Indonesia memiliki banyak jenis tanaman yang bermanfaat untuk mengurangi timbulnya resiko korban jiwa saat terjadi bencana. Mitigasi berbasis ekosistem harus menjadi strategi utama kita dalam menghadapi potensi bencana," ucapnya.

Bank Dunia menyebutkan bahwa Indonesia adalah salah satu dari 35 negara dengan tingkat ancaman bencana tertinggi di dunia. Sementara itu Menteri Keuangan menyebutkan negara rugi Rp22 triliun per tahun akibat dampak bencana.

Doni juga menerangkan bahwa infrastruktur untuk menghadapi bencana tidak terlalu efektif. Dirinya mencontohkan Jepang yang mengeluarkan banyak dana, namun tetap tidak bisa menahan bencana yang datang berulang.

Baca juga Tumbuhan Langka dari Sulawesi, Getahnya Mengandung Banyak Nikel

"Vegetasi kita beragam dan sudah terbukti di beberapa daerah mampu menahan abrasi pantai dan melindungi dari potensi bencana di pesisir. Model mitgasi ini adalah solusi paling mudah dan murah," tegasnya.

Karena itulah, Ia sering menginisiasi agar kepala daerah mau untuk mengontrol vegetasi di wilayah mereka. Terutama alih fungsi kawasan. Masalah biasanya muncul pada peralihan musim. Banyak terjadi bencana hidrometerologi cukup masif.

"Bahkan tren kerusakannya sudah kian mengkhawatirkan. Begitu juga musim kemarau, krisis air begitu nyata ada dihadapan kita. Tentu ini perlu dipikirkan. Bencana ini tidak hanya mengacam jiwa tetapi menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit nominalnya," ungkap bapak tiga orang anak ini.

Bermula dari perubahan perilaku untuk mencintai lingkungan

Doni menyampaikan bahwa perubahan perilaku menjadi aspek penting dalam kampanye perlindungan lingkungan. Ia menyadari bahwa rendahnya literasi di tengah masyarakat menjadi awal mula minimnya keterlibatan.

Selain itu, keterlibatan antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, menjadi hal yang penting. Baginya perlindungan lingkungan tidak boleh hanya dikerjakan oleh satu kelompok saja.

"Kolaborasi adalah kunci. Solusi yang dicanangkan secara parsial tak akan mampu bisa berjalan. Semua butuh dikerjakan secara pararel dan simultan. Baik pemerintah, akademisi, masyarakat serta media mesti gerak berirama. Tentu agar upaya yang dilakukan dapat terukur."

Ia memang mencontohkan dengan masih aktif berkegiatan dalam pembibitan berbagai macam jenis pohon, termasuk pohon-pohon langka, untuk dibagikan di berbagai tempat di Indonesia.

Setidaknya, bersama Paguyuban Budiasi, dia sudah menyemaikan beragam bibit pohon, termasuk jenis pohon endemik Indonesia yang sudah mulai langka, seperti ulin, eboni, torem, rao, palaka, dan cendana.

Baca juga Kemerdekaan Indonesia dan Upaya Memerdekakan Hutan

Sejak tahun 2006 sampai dengan tahun 2020, Budiasi telah memproduksi sekitar 15 juta bibit dari 151 spesies tumbuhan. Lebih dari 10 juta bibit telah didistribusikan. Tidak hanya di berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga hingga ke Timor Leste.

"Mereka sudah sadar dan peduli akan ekosistem dan kelestarian alamnya. Itu baik," jelasnya.

Pada masa purnabakti ini ia mengaku masih risau saat banyak pihak yang tidak menghargai pohon. Dirinya mencontohkan sebatang pohon ulin yang telah ditebang saat umurnya masih muda.

"Saya contohkan pohon ulin. Biji pohon ini baru muncul tunasnya jika sudah 3 bulan. Sebatang ulin ditebang biasanya saat berumur 200 tahun. Tapi ia ditebang hanya dalam waktu 5-10 menit pohonnya hilang," kisahnya.

Baginya praktik penebangan ini telah merugikan tidak hanya hutan, tapi juga masyarakat. Karena telah mengurangi jumlah air minum yang bisa dikonsumsi

"Satu orang mengkonsumsi satu liter, dikali satu desa, satu kecamatan, satu kota, dan satu provinsi. Maka niscaya akan keluar angka triunan hanya untuk kebutuhan air," katanya.

Bagi Doni seharusnya setiap pihak harus sadar bahwa Indonesia memiliki salah satu wilayah hutan tropis yang paling luas di dunia. Sebetulnya apabila dimanfaatkan dengan baik mungkin bisa menjadi bangsa yang makmur dan unggul.

"Untuk itu, saya ingin tekankan kepada para penegak hukum. Kita perlu menjaga sisa-sisa hutan alam yang masih ada. Jangan menebang hutan. Kalau ingin menebang pohon sebaiknya tebang pohon yang ditanam sendiri. Kira-kira itu pesan saya," pungkasnya.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini