Jembatan Ampera, Ikon Kebanggaan Kota Tertua di Indonesia

Jembatan Ampera, Ikon Kebanggaan Kota Tertua di Indonesia
info gambar utama

#WritingChallenge#InspirasidariKawan#NegeriKolaborasi

Dikenal sebagai kota dengan ciri khas kuliner pempek, Kota Palembang dikenal sebagai kota tertua di Indonesia sebagaimana yang tertulis pada sebuah Prasasti Kedukan Bukit. Disebutkan bahwa Kota Palembang didirikan pada 16 Juni 682 Masehi pada masa Kerajaan Sriwijaya dengan julukan "Venesia dari Timur".

Tak hanya kulinernya yang khas, adapun sebuah jembatan di sana yang menjadi ciri khas kota ini. Ialah Jembatan Ampera, tepatnya berlokasi di Kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan. Jembatan Ampera dijadikan sebagai ikon atau lambang dari kota tertua di Indonesia sebab menjadi penghubung kawasan seberang ilir dan seberang hulu yang membentang di atas Sungai Musi.

Jembatan Ampera memiliki panjang mencapai hingga 1.117 meter dengan lebar 22 meter. Tahukah Kawan GNFI? Menariknya, jembatan ini pernah dinobatkan sebagai jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Selain itu, jembatan ini juga tergolong canggih pada masanya, dikarenakan bagian tengah jembatan dapat diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat di bawahnya tidak tersangkut oleh badan jembatan.

Baca Juga: Bosan di Rumah? Ini Saatnya Jelajah Air Terjun di Bogor

Nah, saat bagian tengah jembatan diangkat, biasanya banyak kapal berukuran besar dengan tinggi maksimal mencapai hingga 44 meter dapat melewati Jembatan Ampera. Sayangnya, untuk saat ini pemandangan tersebut sudah tidak bisa dilihat lagi, dikarenakan memasuki tahun 1970, pengangkatan bagian tengah jembatan tidak lagi lagi dilakukan.

Bukan tanpa alasan, waktu 30 menit yang digunakan untuk mengangkat jembatan, dianggap menganggu arus lalu lintas kendaraan. Selain itu, sudah tidak ada lagi kapal besar yang memang berlayar di kawasan Sungai Musi.

Sejarah pembangunan jembatan

Potret Jembatan Ampera tempo dulu | Foto: Flickr/Ferdian Musliansyah
info gambar

Mengutip dari situs ibs.sumselprov.go.id, ide pembangunan jembatan untuk menyatukan kedua daratan di Kota Palembang ini sebenarnya sudah ada sejak zaman Gementee Palembang, di tahun 1906. Namun, proyek pembangunan itu tidak pernah terealisasikan.

Meskipun begitu, pada tahun 1924, saat jabatan walikota diduduki oleh Le Cocq de Ville sempat muncul kembali gagasan untuk membangun jembatan tersebut. Akan tetapi, kembali lagi, sampai masa jabatan Le Cocq de Ville berakhir bahkan saat Belanda meninggalkan Indonesia, jembatan tidak pernah dibangun.

Kemudian, pada masa kemerdekaan, gagasan pembangunan jembatan kembali muncul. DPRD peralihan Kota Besar Palembang kembali mengusulkan lagi pembangunan jembatan saat sidang pleno yang berlangsung pada 29 Oktober 1956.

Baca Juga: Selain Palembang, 5 Kota Ini Dinobatkan Sebagai Kota Tertua di Indonesia

Pembangunan jembatan ini terbilang cukup nekat. Sebab pada saat itu, anggaran yang dimiliki sebagai modal awal untuk pembangunan jembatan hanya sekitar Rp30.000. Hingga pada tahun 1957, dibentuklah panitia pembangunan, yang terdiri dari Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, Gubernur Sumatera Selatan, H.A Bastari, Wali Kota Palembang, M.Ali Amin dan Wakil Wali Kota, Indra Caya.

Tim inilah yang kemudian melakukan pendekatan kepada Presiden Soekarno untuk turut serta dalam mendukung pembangunan jembatan tersebut. Setelah bertemu, gagasan tersebut akhirnya disetujui oleh Bung Karno, dengan syarat dibuat juga taman terbuka di kedua ujung jembatan.

Kemudian pada tahun 1962, barulah pembangunan jembatan dimulai. Fakta lainnya, biaya pembangunannya diambil dari dana rampasan perang Jepang. Tak hanya itu, jembatan ini pun juga menggunakan tenaga ahli dari Jepang.

Perubahan nama hingga peremajaan

Keindahan Jembatan Ampera | Foto: KSM Tour
info gambar

Pembangunan memakan waktu selama 3 tahun. Sebelum bernama Jembatan Ampera, jembatan ini diberi nama Jembatan Bung Karno yang diresmikan oleh Letjen Ahmad Yani pada tanggal 30 September 1965. Hal tersebut, merupakan bentuk apresiasi kepada presiden pertama Indonesia, yaitu Ir.Soekarno yang telah memperjuangkan masyarakat Kota Palembang untuk memiliki sebuah jembatan.

Namun pada tahun 1966, dikarenakan permasalahan politik tanah air, nama yang sebelumnya diambil dari nama presiden pertama Indonesia, kemudian diubah menjadi AMPERA (Amanat Penderitaan Rakyat), yang sebelumnya pernah dijadikan slogan bangsa Indonesia pada kisaran tahun 1960-an. Hingga saat ini, jembatan dijuluki sebagai Jembatan Ampera.

Sebagai ikon kebanggaan kota tertua di Indonesia ini, Jembatan Ampera terus mengalami perubahan dan peremajaan. Mulai dari perubahan warna, di mana yang sebelumnya saat awal pembangunan berwarna abu-abu.

Kemudian, pada tahun 1992 di cat untuk pertama kalinya berwarna kuning, dan terakhir pada tahun 2002 di cat kembali menjadi warna merah. Warna merah menjadi warna dari Jembatan Ampera sampai saat ini.

Baca Juga:Dari Pembuangan Sampah Hingga jadi Tempat Wisata di Gresik

Banyak yang berpendapat, menyaksikan Jembatan Ampera di kala malam hari, layaknya menyaksikan eksotika Venesia di Italia, dikarenakan jembatan ini saat malam hari dihiasi oleh banyaknya lampu, sehingga terlihat nampak indah dan eksotis.

Ditambah lagi pada tahun 2018, tepatnya saat pelaksanaan Asian Games, Jembatan ini dipasangi dua buah jam analog dengan ukuran besar yang diletakkan pada kedua menara jembatan, sehingga membuat kesan yang lebih keren dan modern.

Katanya, berkunjung ke Kota Palembang akan terasa kurang jika belum mengunjungi ikon kota ini. Apalagi jika belum menyaksikan keindahannya saat malam hari. Nah, buat Kawan GNFI yang belum pernah berkunjung ke sana, tunggu apalagi? Saksikan secara langsung keindahan dari Jembatan Ampera!*

Referensi:Kompas | Kumparan

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BS
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini