Mengenal Surdharnoto, Pencipta Lagu Garuda Pancasila

Mengenal Surdharnoto, Pencipta Lagu Garuda Pancasila
info gambar utama

Penulis: Ega Krisnawati

#WritingChallenge#InspirasidariKawan#NegeriKolaborasi

Untuk merayakan perbedaan dan keberagaman, Indonesia memiliki Garuda Pancasila sebagai identitas bangsa. Oleh para pemangku kepentingan bangsa, lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini divisualisasikan sebagai Garuda Pancasila dengan semboyan "Bhineka Tunggal Ika" sebagai bentuk sintesis dari persatuan.

Dalam buku Budaya Visual Indonesia (2007:185) karya Agus Sachari dituliskan, pada saat UUD 1945 dan Pancasila mulai diberlakukan, gambar negara belum dirancang. Kemudian, baru pada saat pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) dan penyusunan Konstitusi Republik Indonesia Serikat (KRIS) lambang negara tersebut mulai digagas dan disayembarakan.

Mohamad Hatta menyatakan bahwa ketika sayembara lambang negara itu digelar, terdapat sejumlah gambar yang diterima oleh panitia. Namun, mereka hanya memilih dua dari sekian gambar yang diserahkan, yakni milik Muhammad Yamin dan Sultan Hamid II.

Tanggal 1 Juni lalu diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Hal ini membuat kita sebagai generasi muda kembali lagi mengingat, siapa pencipta lagu Garuda Pancasila sebenarnya? Ia adalah Sudharnoto.

Baca juga: Mengingat Perjalanan Pers Indonesia di Era Kolonial

Sosok di balik lagu "Garuda Pancasila"

Sudharnoto | Foto: GenPi.co
info gambar

Garuda Pancasila

Akulah pendukungmu

Patriot proklamasi

Sedia berkorban untukmu

Pancasila dasar negara

Rakyat adil makmur sentosa

Pribadi bangsaku

Ayo maju, maju

Ayo maju, maju

Ayo maju, maju!

Itulah lirik lagu "Garuda Pancasila" yang ditulis oleh Sudharnoto dipakai dan ditetapkan sebagai lagu nasional. Lirik mars ini berisi tentang semangat perjuangan dan kesetiaan rakyat Indonesia kepada Pancasila sebagai ideologi dan falsafah negara.

Sudharnoto adalah seniman Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Sudharnoto, sebagaimana dilansir dalam laman Tirto.id, lahir di Kendal, Jawa Tengah pada 24 Oktober 1925. Walaupun pernah sekolah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia--hanya sampai tingkat dua--tapi Sudharnoto lahir dari keluarga yang mencintai musik.

Ayahnya adalah seorang dokter pribadi Mangku Negara VII di Surakarta. Ia sangat gemar bermain gitar, seruling dan biola. Sementara sang ibu pandai bermain akordeon.

Melalui hobi dari orang tuanya itu, Sudharnoto mulai gemar dengan dunia musik Meskipun kedua orang tuanya bisa memainkan alat musik, Sudharnoto tetap belajar tentang musik dari sejumlah seniman seperti Jos Cleber, Daljono, Soetedjo hingga R.A.J. Soedjasmin.

Dikutip dari laman Historia.id, dalam perjalanan kariernya sebagai musikus, Sudharnoto pernah mengisi siaran RRI Solo bersama orkes pimpinan Maladi bernama Orkes Hawaiian Indonesia Muda.

Baca juga: 3 Sutradara Film Senior Indonesia yang Mendunia Tahun 1990-an

Kemudian, pada tahun 1952, Sudharnoto menjadi kepala seksi musik di RRI Jakarta dan menjadi pengisi acara di Hammond Organ Sudharnoto. Tidak hanya itu, Sudharnoto juga mendirikan Ensambel Gembira, sebuah kelompok penyanyi Istana, bersama sejumlah seniman seperti Bintang Suradi dan Titi Soebronto K. Atmojo.

Akan tetapi, pasca-meletusnya tragedi 1965, seluruh anggota Lekra diburu, ditangkap, ditahan, serta dibunuh tanpa melalui proses pengadilan. Sudharnoto tidak bisa lari dari peristiwa itu. Ia diberhentikan dari RRI dan ikut dijebloskan di Rumah Tahanan Salemba.

Akibatnya, Sudharnoto kehilangan pekerjaan. Setelah keluar dari penjara, ia bekerja serabutan mulai dari menjadi penyalur es, sopir taksi, hingga sopir di Bank Indonesia. Tapi, pada tahun 1969, ia kembali terjun ke dunia musik dengan menjadi pianis di sebuah restoran dan di hotel di Jakarta.

Baca juga: Mengenal Sindoedarsono Bapak Seni Lukis Indonesia

Sudharnoto menutup usia dan dimakamkan di TPU Karet pada 11 Januari 2020. Tidak hanya menggubah “Mars Pancasila” yang kini dikenal sebagai lagu “Garuda Pancasila”, Sudharnoto juga telah banyak menciptakan lagu wajib nasional seperti, “Asia-Afrika Bersatu”, “Dunia Milik Kita” dan “Bunga Sakura". Lagu "Dunia Milik Kita".

Semua karyanya itu dikoleksi ke dalam album perdana milik Paduan Suara Dialita yang berisikan lagu-lagu ciptaan para komponis penyintas tahanan politik 1965 selama berada di penjara pengasingan, termasuk Sudharnoto. Dialita, adalah akronim dari Di Atas Lima Puluh Tahun, sebuah paduan suara yang terdiri dari perempuan yang peduli terhadap korban kekerasan sejarah 1965.*

Referensi: Tirto.id | Historia.id

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini