Jejak Masa Kecil Soeharto, Bocah Bertelanjang Dada yang Sampai ke Istana

Jejak Masa Kecil Soeharto, Bocah Bertelanjang Dada yang Sampai ke Istana
info gambar utama

Putaran nasib setiap manusia memang hanya milik Sang Pencipta. Istilah ini memang bisa menggambarkan satu tokoh yang pernah menguasai negara selama 32 tahun, Soeharto.

Soeharto, Presiden ke-2 Republik Indonesia (RI) lahir pada tanggal 8 Juni 1921, di desa Kemusuk Argomulyo Godean, sebelah barat Yogyakarta. Ia merupakan putra ketiga dari pasangan Sukirah dan Kertoredjo (kemudian berganti nama jadi Kertosudiro), ayahnya bekerja sebagai petugas irigasi desa atau hulu-hulu.

Soeharto hidup dalam suasana sebagaimana anak-anak pedesaan Jawa pada umumnya. Ia tumbuh tidak dalam suasana kemegahan sebagaimana kalangan bangsawan atau keluarga kaya.

Soeharto begitu mengingat bagaimana dirinya terhina oleh ledekan teman-teman masa kecilnya. Walau sudah berpuluh-puluh tahun, ejekan itu masih terekam dikepalanya.

"Den Bagus tahi mabul! Den Bagus tahi mabul."

Baca juga (21 Mei 1998) Soeharto Pilih Lengser Keprabon, Madeg Pandhita Ikuti Raja Jawa

Mbah buyut Soeharto, Notosudiro, memang masih ada hubungan dengan pengawas di keraton, karena itu masih dipanggil Den. Dari situ pula Soeharto sering dapat ejekan. Kehidupan Soeharto yang melarat, ia merasa risih dipanggil Den.

"Saya selalu menolak dipanggil begitu, tapi mereka terus juga menjengkelkan saya," kata Soeharto dalam biografi ''Soeharto, Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya'' yang ditulis G Dwipayana dan Ramadhan KH.

Pada tahun 1970-an, tersebar kabar bahwa sebenarnya Soeharto adalah keturunan keraton. Namun, Soeharto membantahnya. Disebutkan, ada kemungkinan Soeharto adalah anak Padmodipoero, seorang ningrat Jawa yang masih keturunan Sultan HB II, namun keberadaannya tidak diakui.

“Saya mengalami banyak penderitaan yang mungkin tak dialami orang lain,” katanya.

Soeharto begitu menyimpan banyak kenangan pahit saat masa kecil. Bukan hanya pahit, tapi juga menyakitkan hatinya.

Ceritanya, saat itu Mbah Notosudiro pulang membawa baju. Soeharto yang baru berumur lima tahun disuruh mencoba baju tersebut. Saat itu Soeharto belum punya pakaian. Dia masih bertelanjang dada dan hanya punya celana pendek selutut.

Setelah baju dicoba, ternyata mbah Notosudiro malah memanggil sepupu Soeharto yang bernama Darsono, kemudian baju itu diberikan pada Darsono. Soeharto pun sakit hati, terlebih dia tahu anak budenya itu sudah punya baju.

"Saya merasa nista. Saya nelangsa sedih sekali. Waktu itu saya merasa hidup ini kok begini. Saya berpikir, kami sama-sama cicitnya, tetapi diperlakukan lain. Mas Darsono sudah mempunyai baju, sedang saya belum. Mengapa saya tidak dibuatkan dan yang dibuatkan itu malah Mas Darsono?"

Berasal dari keluarga yang tidak harmonis

Selain miskin, Soeharto juga lahir dari keluarga yang tidak harmonis. Kehidupan masa kecil Soeharto diwarnai perceraian orang tuanya. Ia akhirnya dirawat Mbah Kromodiryo, dukun bayi di desa.

Di pelukan Mbah Kromo, Soeharto menemukan kasih sayang. Mbah Kromo memberi makan Soeharto, merawatnya kala sakit, dan mengajar mengenal kehidupan desa.

"Memang terasa sekali sampai sekarang betapa sayangnya beliau pada saya," kata Soeharto.

Setelah berusia empat tahun, Sakirah menjemput Soeharto. Kemudian mengajak putranya itu tinggal bersama suami barunya yang bernama Atmopawiro.

Baca juga Desas-Desus Petrus, Saat Orang Hapus Tato Agar Tak Ditembak

Sebagai anak dari keluarga yang bercerai, Soeharto hidup berpindah-pindah dari satu keluarga asuh, ke keluarga asuh lainnya. Setelah masa kecilnya diasuh oleh kakek-neneknya, kemudian kembali ke ibunya, Soeharto diambil oleh Kertosudiro dan dititipkan kepada adik perempuannya.

Di rumah bibinya di Wuryantoro itu, Soeharto tinggal selama setahun dan kemudian kembali diasuh oleh ibu kandungnya di Kemusuk. Setelah setahun tinggal bersama ibunya, dia kembali ke Wuryantoro, di bawah asuhan keluarga bibinya.

Sejak saat itulah Soeharto baru punya "keluarga tetap". Dia tinggal dengan tenang dan nyaman di rumah bibinya tersebut, sampai usai masa remaja dan mulai bekerja.

Soeharto bisa menyelesaikan sekolah menengahnya pada usia 18 tahun. Namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja. Sekolah bukan hal menarik baginya.

"Dia juga tidak terstimulasi oleh gagasan-gagasan intelektual atau oleh pentingnya konteks yang lebih luas di mana dia hidup… dan jelas tak terpengaruh oleh kegiatan gerakan perjuangan nasionalis Indonesia tahun 1920-an dan 1930-an.”

Dasar hidup Soeharto, adalah pandangan dunia pedesaan dan kota kecil Jawa Tengah sempit dengan batas-batas sosial yang pasti dan nyata. Jika sebagian besar pemimpin dan pemikir republik ini lebih dekat dengan tradisi rasionalisme, terutama barat, Soeharto justru lebih dekat dengan nalar mistis Jawa.

Majalah Tempo menulis cerita, bagaimana sejak muda, Soeharto gemar bersemadi di sejumlah gua keramat, seperti Gua Jambe Lima, Gua Jambe Pitu, dan Gua Suci Rahayu. Di Gua Semar, yang terletak di Pegunungan Dieng, konon ia menerima wangsit untuk menjadi pemimpin.

Bermula di tentara berakhir di Istana

Tangga karir Soeharto remaja mulai terbuka saat ketika ada pengumuman pendaftaran masuk KNIL atau Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger yaitu tentara Kerajaan Hindia Belanda. Ia diterima masuk Korteverband di Gombong.

Ini merupakan dinas pendek yang latihannya mirip milisi dalam waktu pendidikan tiga tahun. Soeharto dipuji sebagai serdadu yang cerdas dan baik. Soeharto adalah orang lapangan dan tahun 1942 sudah mendapat pangkat sersan.

Tahun 1943, saat Jepang berkuasa, ia mendapat posisi komandan kompi Peta (Pembela Tana Air) dan dikenal sebagai sosok yang efisien dan dapat diandalkan.

Baca juga (7 Mei 1994) - Panen Raya di Merauke

Setelah Indonesia merdeka, karier militer Soeharto naik daun. Ia menjadi salah satu anggota pasukan yang membasmi pemberontakan eks-KNIL di Sulawesi Selatan. Pertengahan 1956, ia menjadi panglima Divisi Diponegoro.

Kesuksesan Soeharto terus berkibar dengan diangkatnya sebagai Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Mayor Jenderal Soeharto dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat dan segera membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sampai ke akar-akarnya.

Tepat pada tanggal 3 Oktober 1965, Mayjen Soeharto diangkat sebagai Panglima Kopkamtib. Jabatan ini memberikan wewenang besar kepadanya untuk melakukan "pembersihan" terhadap orang-orang yang dituduh sebagai pelaku G-30-S/PKI. Sebuah catatan kelam yang hingga sekarang masih diperdebatkan kebenarannya.

Soeharto kemudian resmi menjadi presiden pada tanggal 27 Maret 1968 setelah ditunjuk oleh MPRS. Dia menggenggam jabatan tersebut selama lebih dari 30 tahun.

Dia juga menerima penganugerahan Bintang Lima atau Pangkat Jenderal Besar saat berusia 76 tahun pada tanggal 29 September 1997. Memang tidak ada yang menyangka 40 tahun kemudian, anak kecil yang berdada telanjang dari desa terpencil itu dilantik menjadi Presiden RI kedua.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini