Menilik Sejarah Wayang Kulit Jawa Tengah

Menilik Sejarah Wayang Kulit Jawa Tengah
info gambar utama

Penulis: Ega Krisanawati

#WritingChallenge#InspirasidariKawan#NegeriKolaborasi

Saat ini wayang kulit menjadi salah satu pertunjukan yang paling digemari oleh turis asing di kota budaya, Yogyakarta. Setiap minggu terdapat dua sampai empat pentas yang biasa berlangsung selama semalaman penuh.

Pertunjukan wayang kulit yang digelar semalaman penuh biasanya berlangsung dari pukul 21.00 hingga 05.00 WIB. Apabila digelar siang hari, umumnya dimulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Kendati demikian, di tangan para dalang modern, pentas wayang digelar hanya dua hingga empat jam. Begitu yang disampaikan oleh laman Tempo.co.

Kisah yang sering kali diangkat oleh dalang adalah perseteruan antara keluarga Pandawa dari Kerajaan Amarta. Kerajaan Amarta memiliki makna kejujuran, kebaikan, kebenaran, keberanian, kemuliaan, dan tanggung jawab.

Diceritakan bahwa Kerajaan Amarta harus melawan keluarga Kurawa dari Ngastina. Keluarga Kurawa memiliki makna angkara murka, kerakusan, kesombongan, arogansi, dan kelicikan. Lantas, pertikaian itu berujung pada peperangan kedua keluarga dalam Baratayuda.

Baca juga: Mengenal Yuniarto, Pendesain Pertunjukan Wayang di "Raya and The Last Dragon Shadow Puppet"

Sejarah wayang kulit di Jawa Tengah

Wayang kulit | Foto: CNN Indonesia
info gambar

Wayang kulit biasa disebut dengan wayang purwa. Prasasti Kuti bertarikh 840 M dari Joho, Sidoarjo, Jawa Timur mencatat bahwa istilah “dalang” semula dikenal dengan istilah “haringgit”.

Hal itu juga disampaikan oleh guru besar arkeologi Universitas Gadjah Mada Timbul Haryono, dalam “Masyarakat Jawa Kuna dan Lingkungannya Pada Masa Borobudur” yang termuat di 100 Tahun Pasca Pemugaran Candi Borobudur. Kala itu, dalang memimpin dan memainkan pertunjukan wayang di lingkungan istana.

Lalu, Arkeolog Dyah W. Dewi dalam “Kesenian Wayang Pada Masa Jawa Kuno dan Persebarannya di Asia” menyebutkan bahwa pertunjukan wayang mempunyai arti khusus. Menurutnya, setiap pertunjukan wayang pasti ditujukan untuk memperingati suatu kejadian.

Dikutip dari laman Indonesia Kaya, beberapa ahli pewayangan, seperti R.M. Mangkudimedja, menduga bahwa bentuk wayang mengalami transformasi dari masa ke masa. Semula, bahan dasar pembuatan wayang adalah daun lontar, bukan kulit hewan ternak seperti saat ini.

Baca juga: Mengintip Motor Listrik Wayang Buatan Tangerang

Kendati demikian, para ahli arkeologi lainnya membantah dugaan R.M. Mangkudimedja. Salah satunya Soedarso Sp. yang meyakini bahwa wayang sudah terbuat dari kulit sejak dahulu. Argumen tersebut ia dapatkan dari isi Kakawin Arjunawiwaha anggitan Mpu Kanwa bertarikh 1036 Masehi.

Kemudian, perkembangan wayang kulit telah memasuki babak baru pada masa kesultanan Islam. Pada perkembangannya, wayang kulit tidak lagi ditujukan untuk lingkungan istana saja.

Selain itu, para pendakwah Islam di Jawa membawa wayang kulit ke masyarakat akar rumput. Mereka mengubah bentuk-bentuk wayang agar relevan dengan ajaran Islam dan tujuan dakwah. Salah satu pendakwah Islam yang paling terkenal adalah Sunan Kalijaga.

Sementara lakon dalam pertunjukan wayang kulit masa Islam masih mengambil kisah-kisah dari Mahabharata. Kendati demikian, para pendakwah Islam memasukkan beberapa istilah dan tokoh baru dalam lakon-lakon itu. Beberapa di antaranya, yaitu Semar, Petruk, Bagong, dan Gareng.

Mulai mendunia

Sejak Indonesia merdeka, terdapat sejumlah sekolah tinggi dengan jurusan pedalangan. Maka dari lembaga pendidikan tersebut, pengembangan wayang kulit pun kembali bergulir.

Baca juga: Jejak Masa Kecil Soeharto, Bocah Bertelanjang Dada yang Sampai ke Istana

Hal itu dibuktikan dengan wayang kulit yang menyebar ke penjuru dunia. Oleh karena itu, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (Unesco) menetapkan wayang kulit sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia.

Literatur tentang wayang kulit juga tercatat pada relief di candi-candi Jawa Timur abad ke-10 seperti Candi Surawana, Candi Jago, Candi Tigawangi, dan Candi Panataran. Kehadiran wayang kulit dalam relief candi di tiga wilayah tersebut menegaskan bahwa kesenian ini telah menyebar ke berbagai tempat.

Berbicara tentang wayang sebagai salah satu kesenian budaya di Indonesia, Kawan juga bisa lho menceritakan kebudayaan lainnya dari negeri ini melalui Writing Challenge Kawan GNFI Batch 3 bertema "Inspirasi dari Sekitar.

Mari menjadi bagian dalam menyebarkan informasi baik yang belum banyak diketahui. Untuk informasi lebih lanjut silakan kunjungi media sosial @kawangnfi.*

Referensi: Tempo.co | Indonesia.go

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini