Vaksin Covid-19, Apa Bedanya Sinovac dan AstraZeneca?

Vaksin Covid-19, Apa Bedanya Sinovac dan AstraZeneca?
info gambar utama

Program vaksinasi Covid-19 di Indonesia masih terus berlangsung. Pemberian vaksin sendiri merupakan upaya untuk memicu sistem imunitas tubuh untuk melawan virus dan menurunkan tingkat kematian akibat virus SARS-CoV-2.

Ketika vaksin diberikan secara massal, maka dapat mendorong terbentuknya kekebalan kelompok (herd immunity) dalam masyarakat. Saat seseorang divaksin, ia juga bisa melindungi orang-orang di sekitar yang tidak bisa mendapat vaksin, misalnya bayi baru lahir, lansia, atau orang dengan kelainan sistem imun.

Untuk mencapai herd immunity sendiri, setidaknya minimal 70 persen penduduk di negara tersebut harus sudah divaksin. Dilansir Merdeka.com, sebanyak 17.775.918 orang Indonesia telah menerima vaksin Covid-19 dosis pertama per Juni 2021.

Pada tahap pertama, pemerintah menggunakan vaksin buatan Sinovac, CoronaVac. Kemudian, muncul vaksin jenis lain yaitu AstraZeneca. Kira-kira apa ya perbedaan kedua jenis vaksin ini?

CoronaVac-Sinovac

Sinovac merupakan vaksin pertama yang masuk ke Indonesia. Jenis vaksin ini diimpor dari perusahaan Sinovac Biotech ke Indonesia, kemudian diolah, dikelola, dan didistribusikan oleh PT Bio Farma.

Vaksin buatan Sinovac menggunakan virus utuh yang sudah dimatikan. Menurut WHO, metode ini terbukti manjur dan memang sudah digunakan dalam pengembangan vaksin lain, termasuk flu dan polio.

CoronaVac telah diuji klinis di Indonesia dan melibatkan 1.600 orang. Hasil pengujian tersebut, efek perlindungan terhadap Covid-19 mencapai 65, 3 persen.

Zullies Ikawati, Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, mengatakan banyak yang kecewa dengan tingkat perlindungan sebesar 65,3 persen karena dinilai rendah. Namun, ia menjelaskan bahwa menurut FDA, WHO, dan EMa pun persetujuan untuk vaksin adalah 50 persen.

“Artinya, secara epidemiologi, menurunkan kejadian infeksi sebesar 50 persen itu sudah sangat berarti dan menyelamatkan hidup banyak orang,” kata Zullies, seperti dikutip Bisnis.com.

Menurut keterangan WHO, vaksin CoronaVac ini pembuatannya membutuhkan fasilitas laboratorium khusus untuk mengembangkan virus dan bakteri secara aman, produksinya membutuhkan waktu lebih lama, dan kemungkinan akan butuh dosis dua hingga tiga suntikan.

Vaksin Sinovac aman digunakan oleh orang berusia 18-59 tahun dalam kondisi sehat dan akan diberikan dua kali dengan jarak 14 hari. Untuk sekali vaksin, dosis yang diberikan sebanyak 0,5 ml.

Untuk pasien diabetes melitus tipe 2, vaksin Sinovac bisa diberikan. Namun, dengan catatan diabetesnya terkontrol dengan HbA1C di bawah 58 mmol/mol atau 7,5 persen. Pasien dengan riwayat penyakit paru-paru, asma, atau TBC bisa diberikan Sinovac bila kondisinya terkontrol. Sedangkan penderita HIV dengan nilai CD4 di bawah 200 atau tidak diketahui, tidak bisa menerima vaksin ini.

AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca atau AZD1222 adalah hasil kerjasama antara Universitas Oxford dan AstraZeneca yang telah diuji klinis di Inggris, Brazil, dan Afrika Selatan. Nilai efikasi atau efek perlindungan terhadap Covid-19 sebesar 63,09 persen.

Beda dengan Sinovac, vaksin AstraZeneca tidak mengandung virus Corona yang dimatikan. Namun, menggunakan virus hasil rekayasa genetika (viral vector).

Mengutip Kompas.com, virus yang dimodifikasi ini akan membawa sebagian virus Corona yang disebut protein spike, bagian mirip paku yang ada di permukaan virus SARS-CoV-2. Ketika vaksin diberikan kepada sel-sel manusia, vaksin akan memicu respons kekebalan terhadap bagian spike. Kemudian, akan memunculkan antibodi dan sel memori yang bisa mengenali virus penyebab Covid-19.

Sederhananya, cara kerja vaksin ini adalah memberi stimulus pada tubuh untuk membentuk antibodi yang bisa melawan infeksi virus SARS-Cov-2. Untuk pemberian vaksin sebenarnya sama, yaitu sejumlah 0,5 ml sekali suntuk dan penyuntikkan dilakukan dua kali dengan jaral 4-12 minggu.

Adapun efek samping yang perlu diketahui setelah vaksin menggunakan AstraZeneca antara lain nyeri atau gatal di area suntik, sakit kepala, tubuh terasa lelah dan tidak enak badan. Anda mungkin akan merasakan otot dan sendi nyeri, demam, muntah, menggigil, serta mengalami gejala flu.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini