Varian Baru Virus Corona yang Dinilai Lebih Berbahaya

Varian Baru Virus Corona yang Dinilai Lebih Berbahaya
info gambar utama

Saat ini, varian baru virus corona telah ditemukan di Indonesia. Tiga varian tersebut yakni B.1.1.7, B.1.6.1.7, dan B.1.3.5.1. Ketiganya diperkirakan lebih cepat menular dibanding varian sebelumnya dan mesti diwaspadai.

Pihak WHO baru-baru ini mengumumkan nama baru untuk varian virus SARS-CoV-2 yang telah terdeteksi di berbagai negara. Sebelumnya, varian-varian baru tersebut lebih dikenal sebagai nama negara pertama kali terdeteksi. Misalnya, B.1.1.7 dikenal sebagai varian Inggris, B.1.617 varian India, dan B.1.351 sebagai varian Afrika Selatan.

Sebagai pengganti, varian B.1.1.7 kini disebut Alpha, B.1.351 disebut Beta, dan B.1.617 disebut Delta. Apa perbedaan ketiga varian virus baru ini? Berikut penjelasannya:

Varian B.1.1.7 Alpha

Mutasi virus varian Alpha pertama kali ditemukan di Inggris pada September 2020. Varian ini dikhawatirkan lebih berbahaya karena penularannya lebih cepat dan mudah. Sejak September hingga Desember 2020, varian ini telah menyebabkan 60 persen kasus aktif Covid-19 di Inggris.

Tepat setahun Covid-19 di Indonesia, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono melaporkan temuan dua kasus mutasi ini di Tanah Air.

Mengapa varian ini harus diwaspadai? Sebab gejala yang disebabkan lebih berat sehingga ada kemungkinan kebal akan vaksin. Namun di sisi lain, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat menyatakan bahwa belum ada bukti soal varian ini menyebabkan kematian.

Varian Alpha juga diprediksi 40-70 persen lebih infeksius atau menular. Ini akan menyebabkan lebih banyak kasus dan semakin membebani sistem perawatan kesehatan.

Untuk gejala infeksi varian Alpha antara lain sakit tenggorokan, kelelahan, sensasi nyeri pada tubuh, demam dan panas dingin, mual dan muntah, sakit kepala, dan ruam kulit.

Varian B.1.351 Beta

Varian Beta pertama kali ditemukan pada bulan Oktober 2020 di Afrika Selatan dan sudah menyebar ke banyak negara. Beta juga menjadi perhatian WHO dan dinamakan varian of concern (VOC) dan dikhawatirkan berdampak pada peningkatan penularan, memicu infeksi parah, dan efikasi vaksin alias tingkat kemanjuran vaksin dalam melawan suatu penyakit

Riza Arief Putranto, peneliti genomik molekuler dan anggota Konsorsium COVID-19 Genomics UK, mengatakan bahwa Delta digambarkan sebagai ‘varian raja’ di kalangan rekan-rekannya yang melakukan riset genomic atau virolog.

Varian Delta ini tebukti menurunkan efikasi vaksin corona. Contohnya, pada vaksin Novavax, efikasinya turun dari 96 persen menjadi 60 persen. "Karena dia merupakan varian yang mengumpulkan mutasi yang banyak dan memungkinkan untuk escape antibodi dan sudah dibuktikan di dunia,” kata Riza, seperti dikutip Detik.com.

Varian B.1.617 Delta

Varian corona baru yaitu Delta pertama kali ditemukan di India dan dan diyakini menjadi penyebab utama lonjakan kasus infeksi Covid-19 di gelombang kedua pandemi global. Jenis virus ini disebut 40 persen lebih menular dari Alpha. Kekhawatiran dari varian ini adalah kemampuan infeksinya yang mudah menyerang anak-anak.

Mengutip Katadata.co.id, ahli virologi senior India Shahid Jameel menjelaskan bahwa varian Delta mengandung dua mutasi kunci pada bagian luar “lonjakan” virus yang menempel pada sel manusia. Pihak WHO menyatakan garis keturunan utama Delta pertama kali diidentifikasi di India Desember lalu, meskipun versi sebelumnya terlihat pada Oktober 2020.

WHO pun mendeskripsikan Delta sebagai “varian minat” karena terkesan memungkinkan memiliki mutasi yang akan membuatnya mudah menular, menyebabkan penyakit parah, hingga kebal vaksin.

Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan ada 32 kasus infeksi virus corona varian B.1.617.2 di Indonesia.

Daftar wilayah yang terdeteksi kasus varian Delta antara lain DKI Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, dan Sumatra Selatan.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini