Konsumsi Susu di Indonesia Masih Rendah dan Hubungannya dengan Stunting

Konsumsi Susu di Indonesia Masih Rendah dan Hubungannya dengan Stunting
info gambar utama

Stunting masih jadi salah satu permasalahan kesehatan di Indonesia. Penyebab terjadinya stunting sendiri adalah kurangnya asupan gizi dalam kurun waktu cukup lama hingga menyebabkan gangguan pertumbuhan pada anak berupa tinggi badan lebih pendek dari anak seusianya.

Tak cuma soal tinggi badan, stunting juga bisa memengaruhi kesehatan si anak dalam jangka panjang. Anak bisa mengalami gangguan dalam perkembangan otak, metabolisme tubuh, pertumbuhan fisik, kecerdasan di bawah rata-rata, sistem kekebalan tubuh kurang baik sehingga ia mudah sakit, hingga memiliki risiko tinggi terhadap penyakit semacam diabetes, strok, jantung, dan kanker.

Untuk itu, stunting harus dicegah dengan memberikannya asupan gizi berkualitas yang dibutuhkan, terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan.

Konsumsi susu di Indonesia masih rendah

Selama ini, susu dikaitkan dengan pencegahan stunting karena memang terbukti mengandung berbagai protein, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh dan menunjang kesehatan. Meski kebutuhan susu dinilai sangat penting, nyatanya tingkat konsumsi masyarakat Indonesia akan susu masih terbilang rendah.

Aryani Gumelar, Kepala Sub Bagian Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian, mengatakan bahwa menurut data BPS 2021, tingkat konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia tahun 2020 adalah 16,27 kg/kapita/tahun, meningkat 0,25 persen dari tahun 2019.

Memang terjadi peningkatan dari tahun 2019 ke 2020, tetapi tetap saja jumlahnya masih jauh di bawah negara ASEAN lain. Malaysia, misalnya, konsumsi susu di Negeri Jiran ini mencapai 36,20 kg/kapita/tahun, Myanmar 26,7 kg/kapita/tahun, dan Thailand 22,2 kg/kapita/tahun.

DI negara maju, tingkat konsumsi susunya lebih jauh lagi. Misalnya di Belanda sudah mencapai 320,15 kg/kapita/tahun, Swedia 355,86 kg/kapita/tahun, dan Finlandia dengan 351,6 kg/kapita/tahun.

Mengapa konsumsi susu di Indonesia masih rendah? Penyebabnya adalah karena masih dianggap makanan mahal atau mewah. Suprayoga Hadi, Tim Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (Stunting)/TP2AK, mengatakan, rendahnya konsumsi susu terutama dilihat dari keterjangkauan.

“Susu dilihat sebagai luxurious goods. Agak mahal dalam konteks ini dipersepsikan sama dengan daging. Tapi, bagaimana pun perlu ada semacam kampanye, selain substitusi produk hewani lainnya,” kata Hadi seperti dikutip Kompas.com.

Ketersediaan susu segar di Indonesia

Dedi Setiadi, Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI), mengatakan ada yang harus dibenahi dalam upaya mendongkrak kuantitas dan kualitas susu segar dalam negeri (SSDN). Ini termasuk ketersediaan pakan ternak, bibit sapi, kepemilikan sapi, produktivitas, hingga kualitas susu.

Kata Dedi, dibutuhkan bibit rumput unggul demi meningkatkan produktivitas sapi perah yang menghasilkan susu berkualitas. Kenyataannya, produksi SSDN memang masih belum ideal hingga konsumsi susu perkapita di Indonesia masih rendah.

Dilansir Bisnis.com, populasi sapi perah di Indonesia saat ini tercatat ada 584.582 ekor, dengan produksi SSDN pertahun sebesar 997.35 ribu ton/tahun. Dari jumlah tersebut baru mencukupi 22 persen dari total kebutuhan, yaitu 3,8 juta ton/tahun.

Pentingnya susu bagi kesehatan dan pencegahan stunting

Prof. Dr. dr. Saptawati Bardosono, ahli nutrisi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengatakan kalau susu dibutuhkan untuk melengkapi asupan gizi yang belum terpenuhi dari makanan sehari-hari.

“Saat bayi sampai usia 24 bulan diutamakan pemberian ASI sesuai anjuran WHO. Setelah 24 bulan, susu bisa dikonsumsi untuk melengkapi asupan zat gizi yang belum terpenuhi dari makanan saja,” kata Saptawati kepada Kompas.com.

Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Dokter Spesialis Nutrisi dan Penyakit Metabolik pada Anak, menekankan pentingnya protein hewani termasuk dari daging, ikan, telur, ayam, dan susu untuk tumbuh kembang anak pada 1000 hari pertama kehidupan.

Kata Damayanti, protein hewani mengandung asam amino lengkap yang penting untuk pertumbuhan sel-sel otak anak. Ia mengatakan, protein hewani merupakan investasi gizi untuk tumbuh kembang anak dari sisi fisik dan kognitif.

Tak hanya anak, ibu hamil juga disarankan minum susu berkualitas demi mengatasi permasalahan seperti malnutrisi dan stunting.

Hasto Wardoyo, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), berkata kepada Antaranews.com bahwa ibu hamil perlu minum susu yang mengandung mikronutrien, Fe (zat besi), vitamin D, DHA omega 3, dan asam folat yang diperlukan untuk pertumbuhan otak janin, membentuk plasenta, dan meningkatkan kesehatan bayi.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini