Peran Jepang Cetak Alquran Pertama di Indonesia

Peran Jepang Cetak Alquran Pertama di Indonesia
info gambar utama

Sejarah panjang pencetakan alquran di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pemerintah Jepang. Menjelang masa penjajahannya berakhir di Indonesia, pada September 1944, Jepang berjanji akan mencetak alquran di Indonesia.

Agar memuluskan hal itu, pihak Masyumi mengirimkan utusan ke Cirebon guna mengadakan perundingan dengan Ali Afif dan A. Kodir Afif (pemimpin penerbit dan percetakan al-Misriyyah Cirebon). Dari perundingan tersebut, tercapailah kesepakatan bahwa al-Misriyah akan mencetak 100 ribu mushaf alquran.

“penguasa Jepang menciptakan sejarah Islam yang jauh lebih penting lagi dengan mencetak Alquran untuk pertama kalinya di bumi Indonesia, di Jakarta,” tulis Benda dalam Bulan Sabit dan Matahari Terbit yang dilansir Dari Historia.

Pencetakan mushaf secara besar-besaran baru terjadi pada 11 Juni 1945 dan dipimpin seorang ulama yang juga pemilik percetakan al-Misriyyah, yakni Abdullah Afif. Prosesi dimulainya pencetakan dihadiri oleh pemuka-pemuka Shumubu (Kantor Urusan Agama) dan Masyumi, di antaranya A. Wahid Hasjim, A.K. Muzakkir, Djunaedi, dan M. Zaim Djambek.

Baca juga Anak Bangsa asal Gowa Raih Juara Kompetisi Al-Quran di Australia

“Hal ini tentu akan disambut dengan gembira oleh segenap rakyat karena Alquran adalah suatu barang yang amat penting dalam penghidupan umat Muslimin,” lanjut Sinar Baroe, 12 Juni 1945.Keterlibatan Jepang dalam pencetakan alquran kembali terjadi lima belas tahun kemudian. Seusai diadakannya

Perundingan pampasan perang, pada pertengahan tahun 1951, Amerika Serikat memprakarsai Konferensi Perdamaian San Francisco untuk merundingkan perjanjian damai dan pampasan antara Sekutu dengan Jepang.

Konferensi Nihon-koku tono Heiwa Jayaku ini menawarkan kepada Jepang kesempatan untuk meraih kembali posisinya di kalangan masyarakat internasional. Sebagai bagian dari hasil konferensi, pada 20 Januari 1958 perjanjian pampasan ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Fujiyama dan Menteri Luar Negeri Subandrio

Perjanjian itu menetapkan bahwa Jepang akan membayar US$223,080 juta selama 12 tahun dengan cicilan US$20 juta setiap tahun dalam bentuk barang modal dan jasa, menghapuskan utang niaga sebesar US$176,920 juta, dan memberikan bantuan ekonomi sebesar US$400 juta.

Masashi Nishihara (Profesor Akademi Pertahanan Nasional Jepang) menyebutkan bahwa perjanjian pampasan perang tersebut memuat enam kategori, yakni transportasi dan komunikasi, pengembangan tenaga, pengembangan industri, pengembangan pertanian dan perikanan, pertambangan, dan jasa atau pelayanan.

Sejumlah departemen sangat antusias untuk mendapatkan alokasi dana tersebut, termasuk Departemen Agama yang meminta bagian harta guna mencetak mushaf al-Qur`an. Meskipun tuntutan ini dikabulkan, namun ternyata masih menyisahkan muncul sikap pro dan kontra di kalangan masyarakat Indonesia.

Karena K.H. Wahib Wahab (Menteri Agama ke-7: 1959–1960 dan 1960–1962) menunjuk Jepang sebagai tempat pelaksanaan proyek itu. Perusahaan Jepang yang menggarap proyek ini adalah Toppan Printing Co., Ltd.

"Alquran yang dicetak sebanyak 5 juta eksemplar dengan biaya US$1.800,” tulis Nishihara.

Perkembangan percetakan Al-Quran di Pulau Jawa

Dalam perkembangan selanjutnya, usaha untuk mencetak mushaf al-Qur`an di Indonesia banyak dilakukan oleh beberapa perusahaan di pulau Jawa.

Di DKI Jakarta, PT. Sinar Kebudayaan Islam telah mencetak alquran pada tahun 1951, Tinta Mas mushaf hasil cetakannya telah selesai ditashih pada tahun 1373 H/1954, Penerbit Yamunu mendapatkan tashih pada tahun 1967.

PT. Tegal Yoso Utama Kramat Raya Jakarta mendapatkan izin cetak pada tahun 1974, serta PT. Al-Hikmah mendapat pentashihan tahun 1979.Di Provinsi Jawa Barat, terdapat Penerbit PT. Al-Ma’arif Bandung yang sudah mulai mencetak alquran pada tahun 1950.

Terdapat pula Yayasan Pembina Penerbitan Alquran Bandung yang mendapatkan pentashihan pada tahun 1967, serta Penerbit Diponegoro Bandung yang telah mencetak alquran sejak tahun 1968.

Sementara itu, di Bandung muncul mushaf alquran yang diperuntukkan bagi para tunanetra, lazimnya dinamakan “alquran Braille”. Adalah Abdullah Yatim, sosok yang bertugas menjadi penulis mushaf itu.

Di bawah naungan lembaga Yayasan Penyantun Wiyata Guna (YPWG) Bandung, ia mulai mengerjakan proyek tersebut pada 1976 dan selesai pada 1979.

Baca juga Uli Satria, Jagoan Indonesia di Lomba Tahfiz Asia Tenggara

Terkait dengan aktivitas pencetakan alquran Braille, Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis) Yogyakarta, telah mulai mencetak lebih dahulu dari pada YPWG Bandung. Usaha mencetak alquran Braille dimulai pada tahun 1964, dengan hanya mencetak beberapa ekslempar Juz ‘Amma.Pada tahun 1968, Yaketunis menjalin kerja sama dengan The National Federation for the Walfare of the Blind di Pakistan, Al-Markaz al- Namuzaji lirri’ayah wa taujih al-Makfufin di Zaitun dan Al-Madrasah Ulaiyah bil Birrah al-Tabi’ah li Wizaratisyunil Ijtima’iyyah di Yordania. Setelah itu, Yaketunis mendapat sponsor dari Departemen Agama Republik Indonesia untuk mencetak alquran Braille pada tahun 1969.

Di Provinsi Jawa Tengah, terdapat penerbit Menara Kudus yang telah mencetak alquran sejak tahun 1959 M. dan PT. Thoha Putra Semarang yang mendapat lembar tashih pada tahun 1977 M. Di Provinsi Jawa Timur terdapat Penerbit Salim Nabhan Surabaya yang mencetak alquran sejak tahun 1951.

Pada tahun 1974 dicetak Juz ‘Amma yang dikhususkan bagi Pembelajaran al-Quran. Pada tahun-tahun berikutnya, pencetakan al-Quran mulai berkembang pesat. Muncullah penerbit-penerbit alquran seperti Penerbit Bina Progresif yang berdiri tahun 1960, CV Mahkota di Surabaya, CV Madu Jaya Makbul, dan lain-lain.

Alquran digital untuk melawan tantangan zaman

Pada era ini, perkembangan pencetakan mushaf kian pesat. Hal ini ditandai dengan munculnya variasi tampilan Mushaf alquran yang disesuaikan dengan segmen pembacanya, seperti anak-anak, wanita, pengkaji fiqh atau ushul fiqh, saintifik, dan lain sebagainya.

Setelah terbitnya Mushaf Standar, para penerbit mushaf dasawarsa 1980-an hingga awal dasawarsa 2000-an pada umumnya masih meneruskan tradisi lama dalam memproduksi mushaf. Era baru dalam produksi mushaf mulai muncul sejak awal dasawarsa 2000-an, ketika teknologi computer semakin maju.

Kemudian terbit The Miracle : the Reference, terbitan Syamil, yang dilengkapi dengan audio-pen yang bila disentuhkan ke ayat/kata alquran yang diinginkan, maka pen tersebut akan mengeluarkan suara rekaman, sesuai kata yang ditunjukkan.

Perkembangan saat ini merambah pada era Mushaf digital. Mushaf digital banyak dikembangkan seiring dengan meningkatnya teknologi IT. Umumnya dikemas dalam bentuk visual dan audio, atau audio-visual.

Untuk jenis visual dan audio-visual biasanya dihiasi dekorasi atau iluminasi yang indah dan menarik dilihat, begitu pun khat yang disalin dalam alquran digital tersebut.

Hal ini terlihat dari aplikasi Alquran digital bernama Quran Best Indonesia. Selama dua pekan sejak peluncurannya, jumlah pengunduhnya telah mencapai 100 ribu lebih. Aplikasi itu bebas digunakan secara gratis.

Baca juga Gadis Sukabumi ini Juara Tilawah Al-Quran di Abu Dhabi

Marketing Executive Officer Idham Fitriadhi mengatakan, aplikasi itu dibuat sejak Oktober 2018. Peluncurannya pada 8 Mei 2019 di Bandung.

"Sekarang 100 ribuan menuju 200 ribu pengunduh, targetnya sampai 1 juta orang selama bulan puasa ini,” katanya yang dilansir Tempo.

Kementerian Agama (Kemenag) sendiri telah merilis empat produk layanan ke-Alquranan berbasis digital. Empat produk ini antara lain, Quran Kemenag Android, Quran Kemenag in Ms Word, lima Judul Film Dokumenter Tafsir Ilmi, serta Distingsi Terjemahan Alquran Edisi Penyempurnaan Tahun 2019.

"LPMQ Kemenag terus berkomitmen melakukan pengembangan dan perbaikan layanan di bidang Alquran. Empat produk yang diluncurkan hari ini merupakan hasil pengembangan yang kami lakukan, dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat," kata Kepala LPMQ, Muchlis Hanafi, saat merilis empat produk layanan digital ini, dalam keterangan yang didapat Republika, Rabu (27/1).

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini