Burung Endemik Seriwang Sangihe Kini Terancam Pertambangan Emas

Burung Endemik Seriwang Sangihe Kini Terancam Pertambangan Emas
info gambar utama

Nama Sangihe mungkin belum akrab di telinga sebagian orang. Ini adalah kabupaten di Sulawesi Utara dengan luas wilayah 736,98 km² dan per tahun 2020 memiliki penduduk sebanyak 139.262 jiwa. Sangihe merupakan pulau kecil terluar di utara wilayah Indonesia

Kabupaten Kepulauan Sangihe terletak di antara Pulau Sulawesi dengan Pulau Mindanao Filipina. Ia berada di bibir Samudera Pasifik dan menjadi tempat tinggal terakhir burung Seriwang sangihe yang sangat langka.

Seriwang Sangihe, burung endemik yang sempat punah seabad

Seriwang Sangihe (Eutrichomyias rowleyi) adalah burung berukuran kecil dengan panjang hingga 18 cm. Mengutip Burung.org, burung ini memiliki ciri khas warna tubuhnya dominan biru dari kepala hingga ekor tetapi bagian dadanya berwarna putih. Pada burung yang berusia muda biasanya identik dengan ekor pendek abu-abu.

Seriwang Sangihe menjadi satu-satunya anggota dari genus Eutrichomyias. Masyarakat lokal menyebutnya sebagai Manu’ Niu. Ini adalah burung yang memang hanya ada di kawasan Sangihe. Habitat Seriwang Sangihe sendiri adalah hutan di ketinggian 450-750 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kebanyakan masyarakat mungkin tidak terlalu mengenali atau sering menjumpai burung ini karena habitatnya cenderung spesifik. Seriwang Sangihe dikenal sebagai penghuni hutan primer, ia suka hidup di lereng-lereng lembah yang curam atau di dasar lembah dekat sungai.

Burung ini adalah tipe insectivora alias pemakan serangga. Perilaku konsumtifnya lazim mencari makan di kanopi pohon dan sub kanopi dengan ketinggian hingga 15 meter.

Keberadaan burung ini pun jarang diketahui, mengingat sempat dianggap telah punah selama 100 tahun dan hanya dikenal lewat spesimen. Namun, sekitar 23 tahun lalu, Seriwang Sangihe mulai terlihat kembali di Sangihe.

Seperti ditulis Mongabay.co.id, keberadaan Seriwang Sangihe tak pernah tercatat kembali sejak pertama dikoleksi oleh naturalis berkebangsaan Jerman, AB Meyer, pada 1873. Pernah pada tahun 1978 di sekitar Gunung Awu, bagian utara Sangihe, burung ini diyakini telah kembali meski tidak ada bukti yang kuat.

Hingga pada tahun 1998 di sekitar Gunung Sahendaruman di bagian Pulau Sangihe, burung endemik ini benar-benar ditemukan kembali pada sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh John Riley dan James C Wardill dari University of York dan University of Leeds, Inggris.

Populasi kecil, status kritis, dan ancaman kepunahan total

Meski telah ditemukan kembali setelah dianggap punah, tetap saja Seriwang Sangihe masih tergolong dalam status kritis. Ini karena daerah sebaran sempit dan populasinya sangat kecil. Bahkan, diperkirakan kurang dari 150 ekor.

Sudah statusnya kritis, keberadaan Seriwang Sangihe juga semakin terancam akibat rencana pertambangan emas di Sangihe. Rencana eksploitasi emas di Sangihe tentunya akan berpotensi "menghancurkan" hutan tempat mereka tinggal.

Mengutip BBC.com, Perusahaan Tambang Mas Sangihe (TMS) telah mengantongi izin lingkungan dan izin usaha produksi pertambangan emas di gunung purba seluas lebih dari 3.500 hektare, dari total 42.000 hektare izin wilayah yang meliputi setengah bagian selatan Pulau Sangihe.

TMS akan mengeksploitasi emas dan tembaga Kepulauan Sangihe selama 33 tahun ke depan. Kawasan yang dieksploitasi meliputi 6 kecamatan yang terbagi menjadi 80 kampung. Saat ini, pihaknya tengah melakukan pendekatan ke masyarakat untuk pembebasan lahan.

Potensi emas di Sangihe memang tak main-main. Menukil Kompas.com, wilayah ini menyimpan sumber daya terunjuk sebesar 3,16 juta ton dengan kadar emas 1,13 gram per ton (g/t) dan perak 19,4 g/t.

Manager Tambang PT TMS, Bob Priyo Husodo, menyebutkan bahwa nantinya penambangan dilakukan secara terbuka (open pit). Setiap tahun, komponen bijih emas yang akan dikeruk mencapai 904,471 ton dari 4 juta ton batuan.

Bila hal ini terjadi, bukan hanya Seriwang Sangihe yang terancam punah. Setidaknya ada 9 jenis burung endemik lain yang hidup di Gunung Sahendaruman, Kepulauan Sangihe, ikut terancam keberadaannya, termasuk 4 jenis berstatus kritis dan 5 termasuk rentan.

Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini