Legenda Kanjeng Ratu Kidul, Simbolisasi Indonesia Sebagai Bangsa Bahari

Legenda Kanjeng Ratu Kidul, Simbolisasi Indonesia Sebagai Bangsa Bahari
info gambar utama

Kanjeng Ratu Kidul adalah ekspresi ideal penggambaran wanita perkasa. Dirinya adalah Ratu Pantai Selatan. Sosoknya juga dianggap juru selamat yang menjaga eksistensi Kerajaan Mataram.

Pada Babad Tanah Jawa, hubungan antara Kerajaan Mataram dengan Ratu Pantai Selatan ini bermula saat Danang Sutawijaya/Panembahan Senopati bertapa di Parangkusumo. Dikisahkan, Ratu Kidul berjanji membantu mengabulkan keinginannya dan membantu Danang Sutawijaya untuk menjadi raja. Juga menjaga ketentraman rakyat Mataram hingga turun temurun.

"Panembahan Senopati diajak Kanjeng Ratu Kidul ke istana Keraton Laut Selatan di dasar samudera, lalu terjalinlah cinta dan itu merupakan awal kisah pernikahan spiritual antara Kanjeng Ratu Kidul dan Danang Sutawijaya," jelas Siti, Sabtu (15/8/2020), dilansir Antara.

Baca juga Nyi Roro Kidul, Inspirasi Karakter Baru Mobile Legends

Kanjeng Ratu Kidul memiliki nama asli Dewi Retno Suwodo seorang putri dari Raja Pajajaran. Dirinya diusir dari kerajaan karena menderita penyakit akibat diguna-guna oleh penyihir dan membuat malu anggota keluarga.

Karena merasa kecewa dan sedih, akhirnya dia mengakhiri hidupnya dengan cara menceburkan diri ke Pantai Selatan. Jika masyarakat Sunda menyebut bahwa putri tersebut Kanjeng Ratu Kidul, namun menurut masyarakat Jawa, justru putri itu bukanlah sang kanjeng ratu, melainkan pesuruhnya yang dikenal juga dengan nama Nyi Roro Kidul.

Legenda penguasa Laut Selatan memang banyak tersebar di seluruh daerah Indonesia. Pada etnis Sasak di Pulau Lombok, saat ini masih menyimpan sebuah legenda yang bernilai sakral tinggi tentang Putri Mandalika.

Masyarakat Sumatra Utara dan Aceh juga mengenal sebuah legenda bahureksa lautan yang perkasa. Dikenal sebagai legenda Putri Hijau. Sementara itu di Kepulauan Maluku, misalnya, dikenal keberadaan Ina Kabuki, ratu yang bertahta di dasar Teluk Kayeli.

Masyarakat Lamalera di Flores, tak kecuali. Mereka menyebut laut sebagai “Ina Fae Belé” yang artinya Ibunda yang maharahim, “Ina Lefa” (Bunda Lautan). Mitos ini, langsung atau tidak memang memiliki korelasi kuat dengan jejak-jejak sejarah Indonesia sebagai bangsa bahari.

Munculnya simbolisasi “perkawinan spiritual” antara Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram juga dianggap menjadi penanda masih adanya poros imaginer kesatuan antara darat dan laut. Istilah Tanah Air sebagai sinonim menyebut bangsa ini jelas lahir dari khazanah tersebut.

Simbolisasi Indonesia sebagai bangsa bahari

Latar belakang Indonesia sebagai negara kepulauan bukan tak mungkin telah memantik kemunculan mitos Dewi Laut. Tak dimungkiri memang, dua pertiga wilayah Indonesia memang berupa lautan dengan 17.504 pulau yang tersebar (data BPS 2016).

Menyimak konteks ekologis ini, mudah diterka corak kebudayaan yang mengacu pada lautan tertentu yang pernah menjadi orientasi utama dari pandangan dunia (weltanscahauung) masyarakat penghuninya.

Merujuk artikel berjudul ''BerbagaiMitos Tentang Laut: Mengungkap Konsep Bahari Bangsa Indonesia'' karya Yoseph Yapi Taum (2013), menurutnya, dalam pandangan berbagai etnis di Indonesia, laut pada umumnya dipandang sebagai “ibu”.

Berbeda dengan mitologi Hindu yang memandang laut sebagai laki-laki atau maskulin, di Indonesia sosok bahureksa laut mendapat artikulasi feminim dan mengambil bentuk sosok perempuan.

Baca jugaMemahami Narasi Rohani dari Wayang Purwa Yogyakarta (Dumadining Gunung Merapi)

Keberadaan perempuan sebagai penjaga alam dalam sosok Kanjeng Ratu Kidul menunjukkan bahwa perempuan diyakini sebagai sumber kehidupan, perempuan sebagai ibu kehidupan, Ibu Pertiwi.

Selain itu, Kanjeng Ratu Kidul sebagai penguasa samudra menunjukkan bahwa sosok ibu sebagai pemberi cinta dan kehidupan yang ada di lautan. Tanpanya, Panembahan Senapati tidak akan bisa menjadi raja Mataram.

Hubungan ini pun dipertahankan melalui tradisi tahunan bernama labuhan. Acara itu adalah upacara mengirim hadiah kepada Ratu Kidul lewat atas rakit yang dibiarkan dibawa ombak menuju Samudra Hindia.

Upacara dilakukan atas perintah Raja Yogyakarta. Melalui tradisi itu pula, orang-orang memahami pertalian antara para penguasa di dunia manusia dengan Kanjeng Ratu Kidul sebagai salah satu penguasa dunia gaib.

Sesajen labuhan biasanya terdiri dari kain parang rusak awisan-dalem dengan kemben hijau (kain cangkring, sumekan gaadung) dan batik pola hijau-putih bernama gadung mlati, yang merupakan nama roh halus pelindung Pantai Parangtritis (Nyai Gadung Melati).

Warna hijau jadi unsur penting dalam sesajen, karena diyakini sebagai warna kesukaan Ratu Kidul. Segala sesajen itu biasanya disiapkan pihak Keraton Yogyakarta.

Uniknya, batik gadung mlati sering digunakan para penari di Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta saat memainkan tarian suci Bedoyo Ketawang (Kesunanan) ataupun Bedoyo Semang (Kesultanan), diyakini merupakan salah satu ritual kuno, yakni untuk mengundang roh halus Ratu Kidul untuk datang dan bersetubuh dengan raja.

Mitos dan upaya untuk menjaga keseimbangan alam

Selain mitos Kanjeng Ratu Kidul, terdapat juga pantangan lainnya, semisal dilarang menggunakan pakaian hijau di wilayah Pantai Selatan. Dipercaya, siapapun yang menggunakan pakaian berwarna hijau akan ditangkap oleh pasukan Laut Pantai Selatan.

Laut Selatan diselimuti banyak misteri karena ganasnya laut menimbulkan berbagai kecelakaan di sana, namun mitos bahwa insiden di laut berhubungan dengan Ratu Kidul sebetulnya bisa dijelaskan secara ilmiah.

Perlu diketahui, bahwa pada samudra yang luas warna air di dekat daratan berkisar antara biru, hijau dan bahkan hijau kekuning-kuningan. Pantai Selatan sendiri merupakan bagian dari Samudra Hindia yang dekat dengan Kepulauan Jawa.

Selain itu, melansir Super Adventure, warna hijau dapat membuat hiu melakukan serangan. Pasalnya warna hijau dapat menjadi sinyal bagi hiu untuk melepaskan serangan. Lain lagi menurut Aryono dari Historia.id, berdasarkan beberapa kajian, banyak korban berjatuhan di sana karena arusnya memang kencang.

Baca juga Menikmati 5 Padang Pasir Indah di Nusantara

"Kalau bawa botol kosong, lemparkan ke salah satu sudut laut, jika botol terapung dan kembali ke pantai, arus lautnya minimal. Kalau botol terus terbawa ke tengah laut, lokasi itu punya arus laut tinggi."

Begitu pula tentang larangan memakai baju hijau di pantai selatan yang konon disebabkan warna itu identik dengan Ratu Kidul.

Mengutip Pram, Aryo mengatakan warna hijau identik dengan seragam VOC. Larangan itu dibuat agar orang-orang melupakan keterkaitan antara warna hijau dengan seragam VOC, katanya.

Kendati demikian, sejarawan Ong Hok Ham, menilai hal itu masih dalam taraf wajar. Kata Ong, mitos Nyi Roro Kidul merupakan mitos yang positif. Penciptaan mitos dan pemanfaatnya jelas untuk melanggengkan kekuasaan Mataram. Bahkan Ong menambahkan hal itu adalah hal yang biasa terjadi, baik di masa lalu maupun masa kini.

“Mitos Nyi Roro Kidul justru memperkuat legitimasi raja. Hal ini berlainan dengan orang kaya yang berhubungan dengan Nyi Blorong. Yang disebut terakhir adalah negatif, sedangkan yang pertama, yakni hubungan Raja Mataram dengan Nyai Roro Kidul adalah positif. Demi kian pula dengan roh halus lain yang melindungi Raja Mataram, yakni Sunan Lawu di Gunung Lawu,” tulis Ong Hok Ham dalam buku ''Dari soal priyayi sampai Nyi Blorong'' (2002), yang dikutip dari VOI.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini