Berpulangnya Toeti Heraty, Penulis dan Aktivis Perempuan yang Disegani

Berpulangnya Toeti Heraty, Penulis dan Aktivis Perempuan yang Disegani
info gambar utama

Penulis senior Indonesia, Toeti Heraty Noerhadi, meninggal dunia Minggu (13/6/2021). Almarhumah mengembuskan napas terakhirnya pukul 05.10 WIB di Rumah Sakit (RS) MMC Jakarta. Kabar tersebut dikonfirmasi oleh pihak keluarga. Penulis buku "Seserpih Pinang Sepucuk Sirih" itu meninggal karena sakit.

Kepala Humas dan KIP UI, Amelita Lusia, menyebut Toeti sebagai sosok dosen yang berintegritas dan berdedikasi tinggi.

“UI turut berduka cita dan merasa kehilangan atas kepergian Prof Dr Toeti Heraty Noerhadi binti R. Roosseno. Semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT,” kata Amelita dalam keterangan tertulis di hari yang sama.

Kepergian Toeti Heraty tentu menyisakan duka mendalam bagi banyak pihak. Bukan hanya bagi anak-anak dan cucunya, tapi juga kolega, sahabat, rekan kerja, dan banyak pihak yang kerap berinteraksi dengannya.

Baca jugaTjong A Fie, Tionghoa Dermawan yang Danai Pembangunan Masjid Raya Medan

Mendiang Toeti Heraty dikebumikan di TPU Karet Bivak, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada hari yang sama saat ia kembali keharibaan Sang Pencipta. Di sana ayahnya (Prof. Roosseno), penyair Chairil Anwar, novelis Pramoedya Ananta Toer, dan pahlawan nasional Momahad Husni Thamrin juga beristirahat untuk selamanya

Dikutip Ensiklopedia.kemdikbud.go.id, Toeti merupakan anak sulung dari enam bersaudara. Ia lahir di Bandung, 27 November 1933, dari pasangan Dr. Roosseno Soerjohadikoesoemo dan R.A. Oentari.

Ia juga dikenal sebagai seorang penyair, dosen, pejabat, pakar filsafat dan kebudayaan. Banyak karyanya, baik sastra maupun ilmiah, yang telah diterbitkan menjadi buku.

Toeti pernah menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 1951-1955, kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, pada 1955-1962.

Toeti dan aktivis perempuan

Ketertarikan Toeti terhadap isu gender dan feminisme mendorongnya untuk menjadi salah satu pendiri Yayasan Jurnal Perempuan yang lahir pada 1995. Jurnal Perempuan termasuk publikasi feminis pionir yang memuat opini dan penelitian permasalahan perempuan dan gender di Indonesia.

Salah satu gerakan aktivismenya terjadi pada unjuk rasa yang digelar di Bundaran HI, 23 Februari 1998. Rapat-rapat untuk mematangkan aksi diselenggarakan di gedung Biro Oktroi Roosseno, milik Toety.

Dikutip dari pemberitaan Harian Kompas, 24 Februari 1998, Suara Ibu Peduli (SIP) menyuarakan keprihatinan ibu-ibu rumah tangga Indonesia yang paling merasakan akibat harga-harga membubung.

Toeti pun dinilai sebagai pribadi yang komplit. Bahkan dirinya pernah menjadi bagian dari Majalah Mitra, sebuah majalah yang khusus menyajikan artikel tentang filsafat. Di majalah itu, Toeti Heraty adalah pemimpin Redaksi, sementara Eka Budiatna dan Karlina Supeli sebagai Redaktur Pelaksana.

Baca jugaEduard dan Ernest Douwes Dekker, Nama Sama Beda Persona

"Toeti dikenal sebagai pemikir paling progresif dan aktivis serbabisa di Indonesia. Kegiatannya bervariasi dari urusan perempuan, hukum, sastra, ekspor rempah, bisnis penginapan, koleksi lukisan, hingga filsafat,” ujar penyair Eka Budianta, kepada VOI.

Sementara menurut aktivis media sosial Denny JA, almarhumah adalah sosok feminis dan tokoh pemberdayaan perempuan. Dirinya juga kerap diundang sebagai pembicara dan menulis isu-isu perempuan dari berbagai sudut pandang.

Sebagai contoh, ia memberikan orasi feminis pada peluncuran Jurnal Perempuan 98 tentang Perempuan dan Kebangsaan setelah 20 tahun reformasi pada 2018. Dalam orasi tersebut, Toeti mengungkapkan bahwa perspektif feminis masih jarang disertakan dalam narasi nasionalisme Indonesia.

Toeti tercatat pernah menjadi Ketua Asian Patent Attorney Association untuk grup Indonesia, dan menjadi Ketua Association Internationalle Pour La Protection De La Propertie Industrielle (AIPPI), anggota ASEAN Intellectual Property Association (AIPA), dan anggota Indonesia Intelectual Property Society (IIPS).

Selain itu, Toeti aktif dalam berbagai organisasi, seperti menjadi anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) untuk bidang budaya, anggota Dewan Riset Nasional (DRN), pernah menjadi anggota Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI), dan Center for Information and Development Studies (CIDES).

Tradisi menulis dan karya sastra

Tradisi menulis memang tak asing bagi almarhumah. “Ibu Toeti juga penyair, ia menulis banyak buku puisi. Bahkan dia dianggap satu dari sangat sedikit penyair utama perempuan di dunia lelaki. Ibu Toeti juga pemikir,” kata Denny yang mengimbuhkan kalau almarhumah juga seorang pengajar dan menjadi ketua jurusan Filsafat UI.

Dilansir situs Satupena, Toeti aktif mengikuti festival penulis internasional seperti Festival Penyair Internasional di Rotterdam (1981) dan International Writing Program di Universitas Iowa (1984). Tak hanya bagi pembaca di Indonesia, pembaca di luar negeri pun dapat menikmati puisi-puisi Toeti yang telah diterjemahkan dalam bahasa Belanda, Inggris, Jerman, dan Prancis.

Sosok Toeti di dunia kepenyairan termasuk menonjol, mengingat lebih sedikitnya perempuan penyair yang dikenal publik luas dibandingkan laki-laki penyair. Satupena menulis, puisinya melibatkan ambiguitas yang disengaja, dengan perumpamaan asosiatif dan tak disangka-sangka, serta penggunaan ironi dalam menyoroti rendahnya posisi perempuan di dunia patriarkal.

Baca juga J.A. Latumeten, Psikiater Indonesia yang Pernah Hajar Orang Belanda

Toeti Heraty mulai menulis sajak pada tahun 1966. Kumpulan sajaknya diterbitkan menjadi buku dengan judul Sajak-Sajak 33 (1973), Mimpi dan Pretensi (1982), serta sajak-sajak Toeti juga dimuat dalam buku Contemporary Indonesian Poetry (1975). Bahkan, karya sastra Toeti juga diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Jerman, dan Prancis.

Beberapa karyanya yang lain, di antaranya Emansipasi Wanita Menurut Simon du Beauvoir (karya skripsinya, 1961), Wanita Multidimensional (1990), Woman in Asia: Beyond the Domestic Domain (1989), Calon Arang-kisah perempuan korban patriarki (2000), dan Hidup Matinya Sang Pengarang (2000).

Toeti juga dikenal akan kedermawanannya seperti diungkap oleh Eka Budianta. “Ia sering memberikan donasi untuk berbagai kegiatan. Dia juga menyediakan rumahnya untuk kantor organisasi, tempat menginap dan juga galeri untuk berpameran. Dan dia tak segan memberikan apresiasi untuk mereka yang menulis,” terangnya.

Jadi wajar kalau banyak sekali orang yang merasa sedih atas kepergian Toeti Heraty. Karangan bunga dari banyak tokoh seperti keluarga BJ Habibie, Ahok, sastrawan Goenawan Muhammad, Anggota DPR RI Benny K. Harman, Rektor Universitas Indonesia, hingga Fery Farhati--istri Anies Baswedan--dan masih banyak lagi, adalah bukti bagaimana pergaulannya selama ini.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini