Mengenal 3 Sosok Ulama Indonesia dengan Kecerdasannya yang Diakui Dunia

Mengenal 3 Sosok Ulama Indonesia dengan Kecerdasannya yang Diakui Dunia
info gambar utama

Penulis: Habibah Auni

#Writingchallenge#Inspirasidarisekitar#Negerikolaborasi

Indonesia dikenal sebagai negara dengan mayoritas penduduknya menganut agama Islam. Penyebaran agama Islam di bumi nusantara tak luput dari peranan para ulama. Mereka menyebarkan dakwah Islam sesuai dengan kearifan lokal sehingga dakwah sangat diterima oleh masyarakat.

Tak sampai di situ saja, ulama-ulama ini juga memberikan dampak besar bagi kemajuan Indonesia, khususnya di bidang ilmu pengetahuan. Syekh Nawawi misalnya. Ratusan judul kitabnya telah menjadi kurikulum wajib di pesantren dan madrasah di tanah air. Berkat inilah dirinya dijuluki Bapak Kitab Kuning.

Ada pula Syekh Ahmad Khatib, ulama kelahiran Kota Tuo yang ratusan karyanya juga dijadikan rujukan oleh ulama dunia. Tak ayal produktivitas Syekh Ahmad Khatib membuat banyak tokoh besar Indonesia berburu untuk berguru kepadanya.

Baik Syekh Nawawi, Syekh Ahmad Khatib, dan beberapa ulama lainnya, kontribusi mereka terhadap peradaban membuat masyarakat dunia mengakui keberadaan mereka. Jasa besar mereka memberikan pengaruh besar hingga kini, sehingga nama mereka terus dikenang sepanjang masa.

Tak perlu berlama-lama lagi, berikut beberapa sosok ulama Indonesia yang mendunia. Yuk, disimak kisah perjuangan mereka.

Baca Juga Sepenggal Kisah Hidup Syekh Ihsan, Ulama Asal Kediri

Syekh Nawawi al-Bantani

Syekh Nawawi al-Bantani | Foto: Tirto.ID
info gambar

Sosok ulama besar yang menjadi guru dari tokoh-tokoh penting dalam dunia Islam, seperti Syekh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syaikh Junaid, dan Syekh Ahmad Dimyati. Tidak lupa menjadi salah satu tokoh publik paling berpengaruh di dunia Islam nusantara. Ialah Syekh Nawawi al-Bantani, sang Bapak Kitab Kuning yang merupakan putra dari Sunan Gunung Jati.

Ulama yang lebih dikenal sebagai Syekh Nawawi ini, memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu’ti Muhammad bin Umar al-Tanara al-Jawi al-Bantani. Ia lahir di Tanara, Serang, Banten pada 1813 dan dimakamkan di kota suci Mekah pada 1897.

Melansir medcom.id, Syeikh Nawawi diketahui telah mendapatkan pendidikan agama sejak dirinya masih kecil. Pendidikan agamanya dimulai dengan tempaan langsung dari ayahnya saat masih kecil, dilanjutkan dengan berguru kepada Kiai Sahal di dekat tanah kelahirannya, kemudian berada di dalam naungan Kiai Yusuf di Purwakarta.

Ketika Syekh Nawawi beranjak umur 15 tahun, dirinya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan agamanya di tanah Mekkah, dengan berguru langsung pada dua lama besar di kota megah itu, yaitu Syekh Muhammad Khatib dan Syekh Ahmad Zaini Dahlan.

yekh Nawawi menjalani kegiatannya ini dengan penuh semangat, dan terus belajar tanpa mengenal patah arang. Saking produktifnya, ia diketahui telah melahap berbagai ilmu cabang keilmuan, di mana inilah yang menjadikan Syekh Nawawi sebagai sosok cendekia yang begitu cerdas.

Produktivitas Syekh Nawawi tidak berlangsung di masa mudanya saja, dirinya terus giat mencari ilmu, bahkan menelurkan ratusan judul kitab yang hingga kini menjadi rujukan ulama-ulama di Asia Tenggara dan Jazirah Arab. Karya-karya itu pun menjadi saduran wajib dalam pembelajaran di pesantren dan madrasah.

Di samping dunia keilmuan, Syeikh Nawawi juga berhasil membina murid-muridnya menjadi salah tokoh penting dalam perjuangan nasional, di antaranya ada KH Hasyim Asyarin (Pendiri Nahdlatul Ulama (NU)), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan KH Mas Adurrahman (pendiri Mathlaul Anwar).

Berkat kontribusi besarnya dalam kemajuan intelektual di dunia Islam, Syaikh Nawawi diberikan gelar sebagai Sayyid Ulama Hijaz. Dirinya pun telah menaikkan pamor Indonesia, membuat intelektualitas nusantara diakui oleh dunia.

Baca Juga Legenda Kyai Sengkelat, Keris yang Bisa Usir Wabah Penyakit dari Majapahit

Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi

Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi | Foto: MerahPutih.com
info gambar

Berikutnya ada Syekh Ahmad Khatib, sosok ulama Nusantara yang pernah dipercaya menjadi imam besar di Masjidil Haram, dan juga karya-karyanya dijadikan rujukan oleh ulama-ulama besar di dunia.

Sebelumnya, Syekh Ahmad Khatib lahir di Kota Tuo - Balai Gurah, IV Angkek, Agam, Sumatera Barat pada 1860 dengan nama lengkap al Allamah asy Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah bin Abdul Lathif bin Abdurrahman. Ia dimakamkan di kota suci Mekkah pada 1916 silam.

Perjalanan Syekh Ahmad Khatib di dunia islam Nusantara dimulai dari saat dirinya masih kecil, suatu masa dimana ia dididik oleh Syekh Abdul Lathif, yang tak lain adalah ayahnya sendiri.

Pada usia 10 tahun, Syekh Ahmad Khatib dititipkan ke beberapa ulama besar di Mekkah untuk belajar langsung dari mereka, seperti Sayyid Umar bin Muhammad bin Mahmud Syatha al Makki asy Syafi’i, Sayyid Utsman bin Muhammad Syatha al Makki asy Syafi’i, serta Sayyid Bakri bin Muhammad Zainul Abidin Syatha ad Dimyathi al Makki asy Syafi’i.

Di bidang keilmuan, Syekh Ahmad Khatib diketahui telah menelurkan ratusan judul buku, yang beberapa di antaranya dijadikan rujukan oleh ulama-ulama dunia. Karya-karya itu adalah Hasyiyah an Nafahat ala Syarhil Waraqat lil Mahalli Al Jawahirun Naqiyyah fil Amalil Jaibiyyah, ad Da’il Masmu ala Man Yuwarritsul Ikhwah wa Auladil Akhwan Maa Wujudil Ushul wal Furu, serta Raudhatul Hussab.

Tak hanya itu saja, Syekh Ahmad Khatib pun berperan besar dalam upaya Islamisasi Nusantara. Dirinya menjadi pencetus gagasan pembaharuan di Minangkabau, dan mencetak beberapa sosok ulama besar Indonesia.

Baca Juga: Wapauwe, Masjid Kuno Peninggalan Islam yang Tak Lekang oleh Waktu

Syekh Muhammad Yasin al-Fadani

Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani | Foto: Republika.co.id
info gambar

Tak ketinggalan, Syekh Yasin juga memberikan dampak yang besar bagi kemajuan Islam di tanah Air. Ulama kelahiran Padang, Sumatera Barat pada 1915 silam ini, berhasil menuliskan hampir ratusan karya yang mana membuat kagum Ulama besar al-Allamah Habib al-Segaf bin Muhammad Assegaf.

Tentu pencapaian Syekh Yasin tidaklah mudah, dirinya memulai pendidikan agama dari Syekh Muhammad Isa al-Fadani, yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Setelah itu, Syekh Yasin melanjutkan pendidikannya di Madrasah ash-Shautiyyah, Mekkah. Saat beranjak dewasa, dirinya mengajar di Masjid al-Haram dan juga membangun madrasah Darul Ulum al-Diniyyah.

Melansir Republika.co.id, kecerdasan Syekh Yasin diakui dunia, membuat dirinya mendapatkan beberapa gelar terbaik, seperti “Gudang Sanad Dunia Abad ke-20” lantaran kedalaman ilmunya dan “Samudra Ilmu” karena pengetahuan sanad yang dimilikinya.

Itulah beberapa sosok ulama Indonesia dengan kecerdasan yang diakui dunia. Semangat belajar mereka telah memberikan dampak besar bagi kemajuan pendidikan dan Islam di Indonesia dan dunia. Ini menjadi bukti, kalau kerja keras dapat membuahkan pada kesuksesan.*

Referensi: Afdillah, M. (2016). Peran Ulama Di Nusantara Dalam Mewujudkan Harmonisasi Umat Beragama. Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan, vol. 4, no. 1, hh. 80-95. | Indonesia Daily | Indrawati, N. N. (2016). Peran Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi (1860-1916 M) dalam Islamisasi Nusantara. Tamaddun, vol. 4, no. 1, hh. 177-200.| medcom.id | Republika.co.id

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini