Kebun Binatang Gembira Loka Sambut Kelahiran Bayi Orang Utan Kalimantan

Kebun Binatang Gembira Loka Sambut Kelahiran Bayi Orang Utan Kalimantan
info gambar utama

Kebun Binatang Gembira Loka di Yogyakarta tengah berbahagia karena kelahiran seekor bayi orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) pada 4 Juni 2021.

Bayi orang utan tersebut lahir dengan berat badan 1,57 kilogram. Dua hari setelah dilahirkan, sang bayi orang utan dirawat manusia (hand-rear) karena sang induk belum mau menyusui, bahkan memiliki kecenderungan berperilaku agresif pada malam hari.

Petugas kebun binatang berupa melakukan pelatihan agar induk mau mendekat dan menyusui bayinya. Selama belum terjadi, petugaslah yang memberikan susu pada bayi orang utan setiap tiga jam.

Kondisi terakhir bayi orang utan pun baik dan suhu tubuhnya stabil. Sang bayi pun lancar minum susu sebanyak 150-160 mililiter per hari. Bayi pun telah mengalami kenaikan berat badan hingga 1,61 kilogram. Pengamatan terus dilakukan secara intensif guna memastikan bayi dan induknya dalam kondisi baik.

Kelahiran orang utan ini pun tentu merupakan kabar baik bagi kita semua. Sebab, sang bayi turut meningkatkan populasi orang utan di Indonesia.

Menurut hasil kajian Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) tahun 2016 yang dihelat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), jumlah orang utan kalimantan sebanyak 57.350 di habitat seluas 16.013.600 hektare.

Orang utan termasuk satwa yang populasi dan habitatnya terancam. Bahkan, namanya telah masuk ke dalam status kritis (critically endangered) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Fakta menarik orang utan

Secara umum, orang utan ialah satwa sejenis kera atau monyet dengan ukuran lebih besar dan lengannya lebih panjang. Di Indonesia, ada tiga spesies orang utan, yaitu orang utan Sumatra (Pongo abelii), orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan orang utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis).

Ketiga spesies sama-sama berstatus kritis berdasarkan daftar merah IUCN. Ini karena hilangnya hutan yang jadi habitat orang utan. Primata satu ini juga merupakan satwa yang dilindungi oleh hukum nasional berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Dalam Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) atau konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam, dinyatakan bahwa ketiga spesies orang utan berstatus Appendix I. Artinya spesies ini tidak boleh diperjualbelikan.

Ancaman yang dihadapi orang utan Kalimantan adalah kehilangan habitat, kebakaran hutan, pembalakan liar, perburuan karena dianggap hama oleh masyarakat di sekitar habitat, perdagangan untuk jadi hewan peliharaan.

Karakter orang utan Kalimantan

Spesies orang utan Kalimantan seperti yang baru lahir di Kebun Binatang Gembira Loka merupakan mamalia arboreal (selalu hidup di atas pohon) terbesar. Ciri khas spesies ini bisa dilihat dari rambut panjang berwarna merah kecokelatan yang kusut.

Warna pada bagian wajahnya merah hingga hitam. Orang utan Kalimantan memiliki pelipis seperti bantal sehingga wajahnya tampak lebih besar. Ia juga punya jakun yang bisa menggelembung untuk menghasilkan suara keras, guna memanggil atau memberi tahu keberadaan mereka.

Berat orang utan Kalimantan jantan bisa mencapai 50-90 kilogram saat dewasa, dengan tinggi badan 1,25-1,5 meter. Sedangkan untuk betina dewasa, beratnya bisa 30-50 kilogram dan tingginya hingga satu meter.

Memiliki lengan panjang, orang utan biasanya memanfaatkan bagian tubuh ini untuk meraih makanan seperti buah dan berayun dari satu pohon ke pohon lain. Meski bisa berjalan dengan kedua kaki, ini jarang ditemukan. Mereka lebih dapat bergerak cepat dengan berayun dari pohon ke pohon.

Kebanyakan orang utan Kalimantan ditemukan di hutan dataran rendah. Ia suka menjelajah kawasan hutan dan lahan gambut karena lebih banyak tanaman berbuah besar. Sebenarnya orang utan merupakan hewan omnivora, tetapi sebagian besar mereka lebih banyak mengonsumsi buah, kulit pohon, bunga, dedaunan, jamur, dan beberapa jenis serangga.

Berbeda dengan simpanse dan gorila, orang utan cenderung tidak hidup dalam kawanan besar. Mereka merupakan hewan semi-soliter. Orang utan jantan biasa menghabiskan waktu seorang diri, sedangkan betina pergi meninggalkan sang jantan setelah melahirkan bersama anak-anaknya.



Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini