Belajar Rasa Toleransi Beragama dari Masyarakat Pulau Dewata

Belajar Rasa Toleransi Beragama dari Masyarakat Pulau Dewata
info gambar utama

Penulis: Ega Krisnawati

#Writingchallenge#Inspirasidarisekitar#Negerikolaborasi

Indonesia dikenal sebagai negara dengan masyarakat yang majemuk. Pasalnya, Indonesia terdiri dari ribuan kultur etnis, bahasa, dan agama. Meski begitu, perbedaan itu acap kali menjadi berkah atau bisa juga sebaliknya. Namun, pada praktiknya, perbedaan di Indonesia mudah memunculkan konflik di lapangan.

Adapun beberapa konflik yang pernah terjadi di negeri ini. Namun, ada yang berbeda dengan masyarakat di Pulau Dewata, Bali. Mereka mampu memaknai perbedaan sebagai berkah.

Sikap toleransi terhadap perbedaan oleh masyarakat Bali pun diwujudkan sebagai bentuk mengasihi penciptanya. Berikut penjelasan terkait toleransi yang ditunjukan oleh masyarakat Bali.

Toleransi agama

Toleransi Agama | Foto: Unsplash
info gambar

Baca Juga Pesona 3 Pantai di Bali yang Masuk Daftar Pantai Terbaik Versi TripAdvisor

Dikutip dari jurnal milik Amalia dan Nanuru, sebagian besar masyarakat Bali menganut agama Hindu. Selain itu, mereka juga merupakan minoritas di pulau ini. Kendati demikian, masyarakat Bali adalah masyarakat multiagama dan hampir semua agama di Indonesia hadir di pulau Bali.

Beberapa literatur menuliskan bahwa di Bali interaksi antaretnis, agama, dan budaya bukan barang langka. Hal ini disebabkan karena masyarakat Bali sudah saling berinteraksi dengan multietnis dan agama sejak zaman dahulu.

Sejak zaman dahulu, masyarakat Bali sudah menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi antarmanusia (horizontal), manusia (vertikal), sesama (pawongan), dan lingkungan (palemahan). Konsep ini disebut dengan Tri Hita Karana.

Namun, semenjak budaya Bali berorientasi pada jasa, yaitu dengan maraknya industri pariwisata, sikap masyarakat Bali mulai kurang harmoni. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Bali untuk mempertahankan nilai-nilai yang telah dianutnya.

Toleransi etnis

Tradisi Ngejot | Foto: Asaljeplak.my.id
info gambar

Baca juga Ngejot Tradisi Berbagai Makanan, Bukti Toleransi di Bali

Toleransi etnis masyarakat Bali ditunjukan dengan adanya tradisi ngejot. Tradisi ngejot adalah tradisi memberikan makanan kepada para tetangga sebagai rasa terima kasih. Dikutip dari laman Tirto.id, seorang warga berasal dari Yogyakarta yang bernama Ratna Yulianasari menyatakan bahwa rasa rindunya terhadap kampung halamannya itu cukup terbayarkan ketika tinggal di Bali.

Pasalnya ketika Idulfitri tiba, Yulianasari mengaku kesepian karena tidak bisa mudik ke Solo, kampung halaman orang tuanya. Dengan tradisi ngejot, ia tetap merasa bahagia karena bisa mengantarkan makanan ke tetangga yang beragama Hindu.

Tradisi ngejot dilakukan oleh umat Hindu dan Islam. Umat Islam melakukan tradisi tersebut menjelang Idulfitri, sementara umat Hindu menerapkannya kala perayaan Galungan, Nyepi, dan Kuningan.

Istilah "ngejot" dalam bahasa Bali artinya "memberi." Jenis pemberiannya bisa berupa makanan, jajanan, atau buah-buahan. Di keluarga Ratna, yang sering dijadikan hantaran adalah makanan khas lebaran yang tersedia di rumahnya, seperti opor, ketupat, dan sambal goreng krecek.

Tatkala tetangganya merayakan Galungan dan Kuningan, mereka berbagi makanan juga untuk keluarga Ratna. Makanan yang biasanya mereka hantarkan adalah makanan sesajen di upacara tersebut, yaitu buah dan jajanan tradisional seperti jaje uli dan begine.

Tradisi ini dipercaya sudah hadir sejak ratusan tahun silam. Ketika itu, wilayah desa Angantiga, daerah tempat ngejot berasal, dikuasai kerajaan Hindu. Beberapa waktu mendatang, masyarakat pendatang yang beragama Islam dari Bugis datang dan tinggal di daerah tersebut.

Baca juga Pelesiran ke Desa Mas di Ubud, Kampungnya Para Seniman di Bali

Tradisi ini pertama kali hadir ketika Islam dikisahkan datang ke Bali dalam rangka mengiring raja, bukan untuk menyebarkan agama. Para pemimpin di kerajaan Bali saat itu menyambut umat Islam dengan baik.

Mereka diberikan tempat tinggal, tanah pertanian, dan juga tempat untuk mendirikan masjid. Tidak ada raja di Bali yang menekan umat Islam agar mengganti keyakinannya menjadi penganut Hindu.

Peran raja-raja di Bali tersebut semakin mengokohkan eksistensi kehadiran Islam di Bali dan sekaligus menjadikan masyarakat Hindu di Bali terbuka serta bersahabat terhadap muslim. Hubungan dekat ini di Bali disebut sebagai ‘nyama selam’, yang artinya "saudara Islam."

Eksistensi nyama selam ditujukan agar umat Islam dan umat Hindu saling menjaga kerukunan. Maka itu, masyarakat berusaha membangun toleransi dengan saling membantu dan berbagi makanan ketika hari raya keagamaan mereka masing-masing.

Kawan, mari selalu saling menjaga sikap toleransi di mana pun, kapan pun, dan kepada siapa pun. Dengan begitu, kita dapat hidup rukun bersama dengan masyarakat berlatar belakang berbeda.*

Referensi: Jurnal Darussalam; Jurnal Pendidikan, Komunikasi dan Pemikiran Hukum Islam Vol. X, No 1: 150-161. | Tirto.id

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini