Geopark Maros-Pangkep, dari Lukisan Gua Tertua hingga Kekaguman Alfred Wallace

Geopark Maros-Pangkep, dari Lukisan Gua Tertua hingga Kekaguman Alfred Wallace
info gambar utama

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno, dalam kunjungannya ke Sulawesi Selatan mengecek kesiapan proses pengajuan Geopark Maros-Pangkep sebagai UNESCO Global Geopark (UGG), yang akan ditinjau dan dinilai tim asesor UNESCO pada Juli 2021 mendatang.

"Saya hari ini memberikan dukungan penuh terhadap Maros-Pangkep, geopark yang kita ajukan sebagai UNESCO Global Geopark," kata Sandiaga saat meninjau pusat informasi Geologi Maros-Pangkep, Kamis (17/6/2021).

Pada pertengahan tahun 2020, 15 taman bumi nasional, termasuk di dalamya Geopark Maros-Pangkep diajukan oleh berbagai kalangan menjadi UNESCO Global Geopark (UGG). Pada akhir tahun 2020, pihak UNESCO Global Geopark telah memilih dua Geopark yang memenuhi persyaratan, yakni Geopark Maros-Pangkep dan Geopark Ijen Banyuwangi.

Menteri Sandiaga di Maros - Pangkep | FB Sandiaga uno
info gambar

Mengapa pengakuan ini penting? Menurut Sandiaga, dengan berkaca pada kesuksesan Belitung yang telah terlebih dahulu mendapatkan pengakuan, hal ini dapat meningkatkan daya tarik wisata terutama dari segi kelestarian alam dan lingkungan, membuka lapangan kerja seluas-luasnya, menangkap kearifan lokal.

Penilaian dari UNESCO nantinya akan berpusat pada tiga hal utama, yakni lingkungan, budaya, dan sosial.

"Banyak pekerjaan rumah, tentu kita akan berkoordinasi dengan berbagai pihak. Tadi kita lihat infrastruktur apa yang perlu kita hadirkan di sini, kita berkomitmen untuk sama-sama mendukung," kata Sandiaga.

Muhammad Ikhwan, aktivis lingkungan yang aktif mendorong penetapan geopark ini, berharap penetapan Geopark Maros-Pangkep bisa terealisasi, karena selain bisa memberi manfaat ekonomi bagi warga dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung, juga akan menjamin keberlangsungan ekosistem yang ada.

Menurut Dedi Irfan, General Manager Badan Pengelola Geopark Nasional Maros-Pangkep, Geopark Maros-Pangkep sendiri telah ditetapkan sebagai salah satu kawasan strategis pengembangan pariwisata di Sulawesi Selatan, khususnya wisata alam dan petualangan yang memiliki alam geodiversity (geologi), biodiversity (flora fauna), dan cultural diversity (budaya), yang bertaraf Internasional.

Ia berharap dengan kunjungan menteri untuk mengecek dan memberi dukungan akan memperkuat konektivitas berbagai pihak yang terlibat dalam upaya pengakuan ini.

Melalui kedatangan pak menteri diharapkan terjalin sebuah konektivitas sehingga terbangun kawasan pariwisata Geopark Maros Pangkep yang terintegrasi dan berkelanjutan di masa depan,” katanya.

Mengenal Geopark Maros-Pangkep

Geopark Maros-Pangkep sendiri adalah sebuah konsep manajemen pengelolaan kawasan yang menyerasikan keragaman geologi, hayati, dan budaya, melalui prinsip konservasi, edukasi, dan pembangunan yang berkelanjutan yang secara administratif berada di dua kabupaten, yaitu Maros dan Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan.

Geopark ini resmi ditetapkan pada tahun 2015 dan menyandang status geopark nasional sejak 2017. Geopark Maros-Pangkep adalah salah satu dari 15 geopark nasional yang dimiliki oleh Indonesia dan satu-satunya geopark berstatus nasional di Pulau Sulawesi.

Delineasi kawasan Geopark Maros-Pangkep meliputi 2 kabupaten (Maros dan Pangkep), dengan wilayah darat seluas 2.243 km persegi dan kawasan laut dengan luas 2.815 km persegi, dengan presentase luas daratan sebesar 44,6 persen dan lautan 55,4 persen, serta panjang garis pantai 88,5 km. Semuanya tercakup dalam 7 jalur Geotrail dan 30 Geosite. SJumlah populasi manusia yang mendiami kawasan sebesar 665.000 jiwa, bersuku Bugis dan Makassar.

Dedi menjelaskan bahwa sebagai geopark, terdapat berbagai destinasi pariwisata berbasis alam nan berkelanjutan yang ada di Maros-Pangkep. Mulai dari situs geografis, situs biologi, dan situs budaya. Situs geografis seperti Kompleks Rijang Bantimala, Kompleks Metamorfik Pateteyang-Cempaga, Batuan Kerak Samura Parenreng, dan lainnya.

Sementara situs biologi seperti Hutan Keilmuan Bengo-Makaroewa, Karaenta Primary Forest, Taman Kehati, Taman Botanik Tonasa, juga Taman Argo Botanik Puncak. Sedangkan situs budaya seperti Komplek Prehistorik Bellae, Taman Prehistorik Sumpang Bita, Situs Berburu, dan lainnya.

“Kawasan ini diatapi oleh puncak gunung Bulusaraung, 1300 mdpl sebagai jalur pendakian petualangan dengan pemandangan sunrise terbaik. Memiliki perbukitan dengan tipe tower karst terluas kedua di dunia yang di dalamnya terdapat sejumlah spot wisata air terjun dan landscape yang indah, seperti air terjun Bantimurung, Lengang dan Lacolla dan kawasan Pattunuang,” jelas Dedi.

Kawasan ini juga dikenal memiliki 400 gua dengan ornamen mempesona dengan proses pembentukan jutaan tahun, termasuk lukisan dinding gua yang berumur puluhan ribu tahun. Pada tahun 2014, ditemukan lukisan cap tangan dan babi rusa berusia sekitar 40.000 tahun di Leang Timpuseng, memecahkan rekor usia lukisan tangan yang ditemukan di El Castillo, Spanyol.

Paling tua, yang baru ditemukan beberapa tahun terakhir, seperti dipublikasikan Science Advances awal tahun 2021, adalah lukisan bergambar babi kutil Sulawesi (Sus celebensis) di gua Leang Tedongnge, yang diperkirakan berumur 45.500 tahun.

Lukisan berukuran 136 cm x 54 cm ini dicat menggunakan pigmen oker merah tua dan memiliki jambul pendek dengan rambut tegak, serta sepasang kutil wajah seperti tanduk yang menjadi ciri khas pejantan dewasa dari spesies tersebut.

Leang Tedongnge sendiri terletak di lembah terpencil yang dikelilingi tebing kapur terjal dan merupakan tempat yang terisolasi. Bahkan masyarakat setempat tidak mengetahui keberadaan situs gua tersebut, hingga akhirnya ditemukan pada 2017 silam oleh Basran Burhan, arkeolog asal Indonesia yang juga mahasiswa doktoral di Griffith University Australia.

Menurut catatan LIPI (2005), gua terpanjang dan terdalam di Indonesia juga ditemukan di kawasan karst Maros. Gua terdalam berbentuk sumur tunggal dengan kedalaman 260 meter ditemukan di Leang Leaputte. Sementara gua terpanjang diperkirakan ditemukan di sistem gua Salukkan Kallang, yang panjangnya mencapai 2.700 meter.

Papilo Adamantius
info gambar

Di kawasan ini juga terdapat 245 spesies kupu-kupu sehingga kemudian dijuluki The Kingdom of Butterfly. Sedikitnya terdapat 20 jenis kupu-kupu yang dilindungi pemerintah dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999. Beberapa spesies unik bahkan hanya terdapat di kawasan ini, yaitu Troides Helena Linne, Troides Hypolitus Cramer, Troides Haliphron Boisduval, Papilo Adamantius, dan Cethosia Myrana.

Selain itu ditemukan 154 jenis burung, antara lain yang cukup populer: Julang Sulawesi (Aceros cassidix), Cekakak- Hutan Tunggir-Hijau (Actenoides monachus), Udang-Merah Sulawesi (Ceyx fallax), Kangkareng Sulawesi (Penelopides exarhatus), Elang Sulawesi (Nisaetus lanceolatus) dan Perkici Dora (Trichoglossus ornatus).

Di kawasan ini juga ditemukan 116 jenis Anggrek alam, dimana 6 jenis di antaranya berstatus dilindungi yaitu Ebony (Diospyros celebica), Palem (Livistona chinensis, Livistona sp.), Anggrek (Ascocentrum miniatum, Dendrobium macrophyllum, Phalaenopsis amboinensis dan Dendrobium macrophyllum).

Ascocentrum miniatum | John E Erickson
info gambar

Tidak hanya daratan, sebagian besar wilayah Geopark Maros Pangkep adalah wilayah laut dengan gugusan Spermonde mencakup 120 pulau di dalamnya, menjadi salah satu spotdiving dengan akuarium bawah laut, jenis ikan, terumbu yang sangat indah.

Salah satu lokasi diving yang paling terkenal adalah Pulau Kapoposang Pangkep, yang dianggap sebagai surga bagi diver. Di tempat ini wisatawan dapat menemui 14 spot diving, empat di antaranya yang cukup populer adalah Januar Point, Aquarium Point’, dan Tanjung Points, Shark Point.

Daya tarik lain kawasan ini karena menjadi salah satu lokasi yang dikunjungi Alfred Russel Wallace (1823-1913) seorang naturalis antroplog, ahli biografi dan biologi asal Inggris dalam ekspedisinya selama 8 tahun (1854-1862) di Kepulauan Melayu (Singapura, Malaysia dan Indonesia).

Dari sekitar 125.660 spesimen yang dikumpulkan, sebagian di antarannya berasal dari Maros-Pangkep. Ia berusia 34 tahun menjejakkan kaki di Maros, pada Juli-November 1857.

Dalam catatan perjalanannya, ia menulis kekagumannya akan tempat ini, dengan segala kekayaan dan keunikan flora fauna dan bentang alamnya.

“Saya menjumpai ngarai, jurang dan tebing melimpah di sini. Saya belum pernah menjumpai hal yang sama selama menjelajahi Nusantara. Permukaannya miring hingga sembilan puluh derajat, dindingnya lebar, dengan permukaan batu yang kasar, yang dapat pada setiap bukit kapur, sambung menyambung seolah memagari lembah.”

Ditulis oleh: Wahyu Chandra - Kontributor Makassar

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini