Kisah Lupus, Cerita Romantika Pemuda Permen Karet yang Jadi Kenangan Masa SMA

Kisah Lupus, Cerita Romantika Pemuda Permen Karet yang Jadi Kenangan Masa SMA
info gambar utama

Kabar duka datang dari dunia kepenulisan Tanah Air. Penulis sekaligus seniman, Gusur Adhikarya, meninggal dunia pada hari Jumat (18/6/2021) di usia 59 tahun. Kabar ini pertama kali diumumkan oleh sahabatnya, Hilman Hariwijaya di halaman Instagramnya.

“Innalillaahi wa inna ilayhi rooji'uun, sahabat kita Gusur Adhikarya meninggal hari Jumat 18 Juni 2021, Sabtu ini mau dimakamin jam 10 pagi. Mohon doanya ya… Mohon maaf atas kesalahan almarhum,” tulis Hilman.

Menurut informasi dari Hilman, almarhum Gusur telah dimakamkan di TPU Selapajang, Tangerang. Pemakaman digelar pada, Sabtu (19/6), sekitar pukul 10.00 WIB.

"Almarhum Gusur dimakamkan pagi tadi. Foto bersama anak cowoknya Gusur; Tegar dan sahabat-sahabat Gusur,” ujar Hilman.

Beredar kabar Gusur tutup usia karena terjangkit penyakit akibat virus Corona atau Covid-19. Kabar ini dibenarkan oleh rekannya, Gol A Gong, di Instagram pribadinya, @golagong.

“Gusur Adhikarya wafat. Diawali sakit, diduga oleh dokter terkena Covid-19. Hati-hati, kawan. Jaga kesehatan. Covid-19 sudah hidup bersama kita. Percaya tidak percaya, bermasker, jaga jarak, dan cuci tangan adalah tindakan pencegahan,” tulis Gol A Gong.

Baca juga Kisah Ali Topan Anak Jalanan dan Wajah Anak Muda Jakarta Era 70-an

Semasa hidup, Gusur Adhikarya dikenal menulis novel Lupus bersama Hilman Hariwijaya dan Boim Lebon. Tokoh fiksi yang awalnya merupakan karangan Hilman Hanwijaya ini terbit dalam bentuk cerita yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1986 berjudul ''Lupus I: Tangkaplah Daku Kau Kujitak''.

Tidak hanya berperan dalam penulisan tokoh fiksi Lupus, Gusur juga diketahui memiliki peran di film ''Lupus III: Topi-topi Centil''. Film yang pertama kali dirilis pada tahun 1989 tersebut juga dibintangi oleh sang penulis Hilman H. Dari situlah namanya semakin dikenal tidak hanya sebagai aktor atau penulis tetapi juga sebagai seorang sastrawan.

Kemudian di tahun 2000-an, seorang tokoh fiksi berhasil menuai perhatian publik terutama anak-anak. Tokoh fiksi tersebut adalah Saras Superhero yang tidak lain merupakan karya lain dari Gusur. Tokoh ini sukses diadaptasi dalam sejumlah karya lain mulai dari sinetron, komik, hingga merchandise.

Gusur juga kembali berhasil meraih kesuksesan dengan melahirkan sebuah tokoh fiksi, Lulu. Tokoh fiksi yang dibuat dalam bentuk seri tersebut adalah perluasan atau spin-off dari kisah Lupus. Buku serial Lulu yang diceritakan sebagai adik Lupus tersebut rilis pertama kali pada September 1993 silam.

Cerita sukses Lupus hingga dibuat film

Lupus adalah pelajar SMA Merah-Putih yang aktif menulis sebagai wartawan sebuah majalah, senang mengunyah permen karet, cuek, dan sangat jahil. Ia mengganggu siapapun, temannya, ibunya, adiknya, kepala sekolah, orang yang baru dikenalnya. Kejahilannya ini lebih bernada humor daripada menyakiti dan berniat jahat. Ada maksud baik sesekali dalam candanya itu.

Sifat-sifat inilah yang bisa dianggap mewakili remaja pada era 80-an. Pada film ini, dikisahkan hubungan pacarannya dengan Poppy yang seolah "off" dan "on" terus-menerus. Tetapi karena kesibukan Lupus sebagai wartawan muda, sehingga ia tidak memiliki waktu bersama Poppy.

Ditambah lagi saat Lupus mewawancarai artis baru Evita Fanny, bersama sang sahabat Gito (Gito Gilas). Lalu foto-foto mereka beredar luas, Poppy pun makin cemburu.

Baca juga 3 Sutradara Film Senior Indonesia yang Mendunia di Tahun 1990-an

Dalam jalur kisah ini, ditampilkan kejahilan Lupus dalam hidupnya sehari-hari, baik di rumah, sekolah maupun di jalanan. Tidak ada jalur lurus, ceritanya yang berjalan ke sana ke mari.

Lupus memiliki teman-teman seperti Boim, Gusur, Anto, Aji, Fifi Alone, Adi Darwis, Gito (teman massa dewasanya). Iko-iko, Pepno, Happy, Uwi, dan masih banyak lagi (teman masa kanak-kanak dan remajanya).

Ia memiliki seorang adik bernama Lulu dan mereka berdua kini tinggal bersama sang Mami yang bernama Anita. Sedangkan sang Papi yang bernama Mulyadi, telah meninggal saat Lupus kelas 1 SMA.

Lulu, sang adik saat itu tengah bingung karena ada laki-laki paruh baya yang bernama Om Pinokio (Hengky Solaiman) suka padanya. Disekolah Lupus ada anak pemilik kantin berparas cantik yang bernama Rini (Cornelia Agatha) hingga banyak siswa yang naksir padanya.

Hingga kantin itu difitnah menjual minuman keras oleh seorang siswi yang iri. Rini pun berjualan di terminal, dan tanpa sengaja berjumpa dengan Lupus. Ternyata ini ulah kawan Lupus yang bernama Ruri yang disuruh oleh Tante Merry yang sangat ambisius untuk menguasai kantin sekolah. Akhirnya Lupus dan kawan-kawannya melaporkan hal ini pada kepala sekolah.

Novel ini berawal dari cerpen karya Hilman Hariwijaya di majalah Hai dan dibukukan menjadi sebuah novel yang laku keras diera tahun 80-an. Karena laku keras, Novel Lupus ini pun pernah difilmkan dengan pemerannya adalah aktor almarhum Ryan Hidayat. Juga pernah di jadikan serial di Indosiar dengan pemerannya Oka Sugawa.

Meski sepanjang penokohannya bergonta-ganti pemeran, Ryan Hidayat adalah tokoh ikonis pemeran Lupus. Aktor yang meninggal dunia pada 8 Februari 1997 ini jadi Lupus dalam Tangkaplah Daku Kau Kujitak (1987), Makhluk Manis Dalam Bis (1987), Anak Mami Sudah Besar (1990), dan Iih..., Syereem! (1991).

Ryan Hidayat adalah aktor yang paling sukses memerankan tokoh Lupus ini. Jika ditanya hal apa yang membuat sukses film ini, apakah sang aktor ataukah ceritanya. Jawaban yang paling tepat adalah keduanya saling melengkapi.

Akting Ryan Hidayat sangat menjiwai tokoh Lupus ini. Sementara Lupus sendiri memang sudah memiliki detail karakter yang kuat dari sang penulis. Hilman demikian teliti memberikan gambaran secara tertulis.

Mulai dari penampilan fisik sampai dengan kesukaan tokoh ini mengunyah permen karet. Sifat Lupus yang jahil dan lucu juga menambah warna dalam ceritanya. Model rambut jambul Lupus yang meniru penampilan bassist band Duran Duran, John Taylor, juga menjadi tren anak muda di masa itu.

Lupus dan romantika anak muda pada Zamannya

Novel ini merupakan novel remaja yang terkenal di zamannya dan menjadi salah satu novel yang mewakili remaja pada saat itu. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Wening Udasmoro melalui penelitiannya yang berjudul When The Teens Narrate The Selves In Indonesian Literature: Gender, Subject, And Power.

"Identitas Lupus adalah identitas penulis, atau lebih khusus, penulis menciptakan Lupus sebagai potretnya sendiri. Dalam praktik sosial, novel ini menginspirasi anak laki-laki untuk mengikuti tren mode yang dipromosikan oleh Lupus dalam novel," ungkapnya.

Novel Lupus mengambil tema besar mengenai gaya hidup yang dilakukan kebanayakan remaja kota. Penulis membungkus kebiasaan-kebiasaan remaja dengan balutan kehidupan keluarga yang terlihat kompak dan lucu.

Baca juga 3 Film Indonesia yang Bakal Diproduksi Ulang di Hollywood

Kebiasaan remaja yang disorot pada novel ini adalah fase-fase jatuh cinta yang dialami oleh para remaja. Penulis bukan hanya memfokuskan tokoh Lupus dan Lulu yang sedang mengalami perubahan psikologis akibat perkembangan usianya.

Namun, juga menghubungkan tokoh-tokoh lain (teman-teman Lupus) sebagai bahan untuk mendeskripsikan perilaku remaja pada umumnya, yaitu memulai ketertarikan kepada lawan jenis. Latar yang digambarkan pada novel Lupus ABG memang menjelaskan tentang masa pubertas yang dialami oleh tokoh Lupus dan kawan-kawannya.

Pada novel Lupus, latar sosial budaya yang masuk dalam cerita mengenai pola hidup masyarakat kota dengan menampilkan beberapa kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang kota. Seperti menonton bioskop, pergi ke orkestra, dan kencan ke mal.

Novel Lupus ABG merupakan novel remaja yang memiliki nilai-nilai kekeluargaan yang besar. Kisah keluarga yang terdapat di dalamnya menjadi sebuah faktor yang memengaruhi siklus hidup seorang anak dan berpengaruh terhadap proses kehidupan anak.

Keluarga di dalam novel tersebut dijadikan sebagai benteng utama untuk mendorong motivasi kehidupan anak. Terlebih ketika anak tersebut mengalami depresi.Hal tersebut terbukti pada saat tokoh Lulu mengalami penolakan dari pria yang ia taksir, namun tokoh Mami dan Lupu sigap sedia berada di sampingnya untuk menghibur sekaligus memberikan masukan yang baik.

Kekompakan keluarga Lupus merupakan nilai utama yang harus ditiru, walaupun dalam penceritaannya dilengkapi dengan hal-hal yang tidak

dapat diterima akal seperti saat keluarga Lupus memutuskan untuk mengirit air. Namun, di balik peristiwa-peristiwa tidak masuk akal tersebut, kekompakan yang mereka lakukan membuktikan adanya kebahagiaan dan keceriaan dalam membangun keluarga.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini