Misteri Kuncen Berkepala Anjing di Gunung Sanggabuana

Misteri Kuncen Berkepala Anjing di Gunung Sanggabuana
info gambar utama

Gunung Sanggabuana, gunung yang terletak di daerah Loji, Karawang, Jawa Barat, ini menyimpan banyak cerita misteri. Gunung ini menjadi salah satu lokasi yang cukup ramai dikunjungi oleh warga lokal bahkan luar kota Karawang.

Gunung Sanggabuana mempunyai ketinggian 1.291 mdpl dan menjadi pembatas 5 daerah sekaligus, yakni Karawang, Cianjur, Bogor, Purwakarta, dan Bekasi. Saat ini, status kawasan hutan Gunung Sanggabuana masuk dalam kategori hutan produksi dan sedang diusulkan menjadi hutan lindung.

Hutan Gunung Sanggabuana memang masih cukup terawat. Kita masih bisa menikmati pepohonan yang tumbuh liar hingga mencapai ketinggian puluhan meter yang berjejer disana.

Selain keindahannya, banyak orang yang mengunjungi Gunung Sanggabuana untuk berjiarah, karena puncak gunung terdapat sebuah makam para leluhur dan tokoh besar sunda.

Di puncak Sanggabuana, konon katanya ada 99 makam dan petilasan kuno. Di antaranya petilasan Eyang Bagaswara, Eyang Panjang, dan Eyang Ganda Malela. Menurut cerita, Gunung Sanggabuana adalah asal muasal dari Kota Karawang.

Menapaki Keindahan Ganapus yang Masih Aktif

Legenda Aul, Manusia Berkepala Anjing

Di gunung sangabuana masyarakat meyakini bahwa terdapat sebuah kota misteri yang hilang yaitu kerajaan Kuta Tambaga, banyak yang menceritakan bahwa di kaki Gunung Sanggabuana lebih tepatnya di kaki Gunung Sanggabuana pernah berdirinya sebuah kota kuno pada masa Nagara Sunda abad 7-13 M. Dikarenakan tejadi sebuah bencana alam yang dahsyat kota tersebut menjadi hilang.

Selain itu, yang menjadi cerita cukup mistis lainnya ialah bahwa di sisi Gunung Sanggabuana terdapat tempat persembunyian mahluk aneh yang disebut Aul. Menurut informasi mahluk itu berada di bukit-bukit penyangga Gunung Sanggabuana, yani di Cabe Areuy, Dinding Ari, dan Curug Cikoleangkak.

Aul ini semacam mahluk misterius berbentuk manusia berkepala anjing yang posisinya kebalik. Masyarakat sekitar menyebutnya 'Kalangkang', dan kepercayaan atas kehadiran mahluk ini cukup kuat diyakini masyarakat sekitar Gunung Sanggabuana.

"Gunung Sanggabuana ini terkenal bukan hanya dari pesona alamnya, melainkan adanya keyakinan di masyarakat pegunungan tentang sosok Aul manusia berkepala anjing yang menjaga gunung," kata Ajay yang aktif juga sebagai pembina dari komunitas Pepeling Karawang, pada Detikcom.

Kata Ajay, Aul biasanya muncul pada malam hari tepat pada saat bulan purnama. Biasanya diawali dengan suara burung, dan satwa lainnya, serta binatang peliharaan masyarakat.

"Menurut kepercayaan masyarakat, Aul ini mendiami sebuah goa di balik batu besar yang ada di dinding ari, sebuah puncak gunung yang berada di jajaran pegunungan," ucapnya.

Inilah 7 Gunung dan Puncak Tertinggi di Indonesia

Menurut kepercayaan suku Sunda, dahulunya Aul adalah seorang manusia biasa yang memiliki kesaktian. Jika ada salah satu anggota tubuhnya yang terlepas maka ia bisa dengan mudah menyatukannya kembali.

Ada juga versi yang menceritakan, Aul itu asal nya seorang Ksatria yang berilmu kanuragan tinggi yang kalah dalam pertempuran. Sewaktu bertempur melawan kerajaan lain dan berakhir dengan tertebas kepalanya. Meski ia kemudian hidup lagi sosok ini salah mengambil kepala, yang ternyata kepala anjing.

Hal ini dibenarkan oleh Bernard T. Wahyu Wiryanta, sebagai Ketua Sanggabuana Wildlife Expedition pernah mencoba menelusuri kebenarannya. Dari hasil pengumpulan informasi yang didapatkannya, Aul masih menjadi cerita yang melegenda di masyarakat Karawang.

"Dikisahkan, dulu Aul adalah salah satu prajurit pengikut Raden Adipati Singaperbangsa, Bupati pertama Karawang yang menjabat pada kurun waktu 1633-1677. Aul ini menurut cerita merupakan prajurit yang sangat sakti. Salah satu kesaktiannya karena mempunyai ajian Rawa Rontek, satu kesaktian yang mampu menyatukan bagian tubuh yang terpengal musuh," terangnya.

Menurutnya, terlepas dari mitos atau legenda tentang mantan prajurit Adipati Singaperbangsa berkepala anjing ini benar atau tidak, keberadaan kisah ini sangat berpengaruh atas kelestariannya.

"Terbukti keberadaan Aul ini mampu menjaga keberadaan hutan di jajaran Pegunungan Sanggabuana. Beberapa pemburu dan perusak hutan sering enggan masuk hutan di beberapa hutan yang pernah ada kabar penampakan Aul, bahkan warga sekitar selalu berkata, bisa marah Aul ini kalau hutannya rusak dan binatangnya diburu," tandasnya.

Legenda Aul ini ternyata tidak hanya terdapat di Gunung Sanggabuana, tapi juga pada beberapa tempat. Menurut kepercayaan, sosok Aul dianggap juga hidup di lereng Gunung Slamet dan suka memakan kambing.

Keindahan Gunung Sanggabuana yang perlu dijaga

Walaupun terkenal dengan gunung yang cukup mistis, tidak menjadikan gunung ini sepi dan tidak menjadi tujuan para pendaki atau pencinta alam.

Banyak juga para pecinta alam atau penggiat alam yang melakukan hiking atau naik gunung di Sanggabuana, apalagi gunung ini terkenal dengan tanjakan 2 jam, di mana sebuah jalur yang terus menanjak selama kurun waktu 2 jam.

Kamu tidak perlu repot membawa makanan atau peralatan yang banyak, karena dipuncak sudah ada fasilitas yang cukup lengkap, seperti warung, mushola, toilet, bahkan disediakan gazebo untuk para tamu yang menginap.

Para pecinta alam juga sering melakukan kegiatan bersih-bersih gunung sanggabuana, atau lebih dikenal dengan sapu gunung, kegiatan yang bertujuan untuk membersihkan gunung dari sampah-sampah orang yang tak bertanggung jawab, karena sudah membuang sampah sembarangan.

Penemuan Ini Buktikan Leluhur Homo Sapiens Telah ada di Sumatra 63.000 Tahun yang lalu

Gunung Sanggabuana juga memiliki kekayaan tumbuhan dan hewan endemik. Di antaranya seperti elang, owa, surili, lutung, sigung, serta macan kumbang.

Selain itu, Gunung Sanggabuana ternyata juga memiliki kawasan karst atau batu gamping. Bebatuan tersebut dikatakan memiliki fungsi hidrologi untuk makhluk hidup di sekitarnya termasuk manusia.

Gunung Sanggabuana berfungsi sebagai oase di tengah wilayah pantai utara Jawa Barat, bahkan hutan di sana adalah satu-satunya di wilayah utara.

“Pegunungan yang meliputi Karawang, Purwakarta, Cianjur, dan Bogor, ini merupakan satu-satunya generator hidrologi untuk wilayah Pantura,” tutur Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi.

Karena itu, dalam waktu dekat Dedi mengaku akan mendorong penetapan Gunung Sanggabuana menjadi kawasan hutan lindung. Ia berharap mendapatkan dukungan dari tingkat daerah sehingga usulannya bisa diteruskan ke pusat.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini