Memahami Makna Hari Krida Pertanian yang Jatuh Setiap Tanggal 21 Juni

Memahami Makna Hari Krida Pertanian yang Jatuh Setiap Tanggal 21 Juni
info gambar utama

21 Juni merupakan tanggal yang ditetapkan untuk memperingati salah satu dari sekian banyak hari Nasional yang ada, yaitu Hari Krida Pertanian. Bagi sebagian besar orang, kata ‘Krida’ mungkin menjadi hal yang asing karena jarang digunakan dalam istilah sehari-hari. Lalu apa sebenarnya makna yang dimaksud dengan Hari Krida Pertanian?

Bila mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ‘krida’ adalah istilah lain yang bermakna perbuatan atau tindakan. Adapun kaitannya dengan pertanian, hari besar satu ini rutin diperingati setiap tahunnya sebagai bentuk tindakan rasa syukur kepada Tuhan Yang Masa Esa atas rahmat dan nikmat yang dilimpahkan, berupa kekayaan alam yang melimpah seperti bumi, air, matahari, iklim, kekayaan fauna dan flora, serta mineral-mineral yang oleh masyarakat pertanian diolah dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia.

Walau dalam perayaannya hanya menyertakan masyarakat pertanian, namun sejatinya peringatan hari nasional ini juga sepatutnya diperingati oleh seluruh masyarakat Indonesia yang sebagian besar kehidupannya bergantung dari hasil pertanian yang merupakan hasil kerja keras dari para petani di tanah air.

Karena itu, di sisi lain Hari Krida Pertanian juga dimaknai sebagai hari penghargaan kepada orang, keluarga, dan masyarakat yang dinilai berjasa dan berprestasi dalam pembangunan bangsa dan negara khususnya di sektor pertanian.

Baca juga Bantu Kemandirian Petani, Seorang Perempuan di Garut Dirikan Pesantren Ekologi

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, dalam pidatonya yang dimuat lewat kanal YouTube Kementerian Pertanian RI juga juga menekankan hal serupa dengan tajuk “Memaknai Hari Krida Pertanian”. Syahrul mengingatkan seluruh masyarakat Indonesia untuk mengapresiasi kerja keras para petani yang tak dimungkiri secara tidak langsung menjamin kehidupan masyakarat di tanah air.

“Pertanian bukanlah masalah proyek dan anggaran, pertanian adalah persoalan ibadah dan kemanusiaan yang sekaligus mempertahankan negara dan bangsa,” ungkap Syahrul.

Sejarah penentuan 21 Juni sebagai Hari Krida Pertanian

Tidak semata-mata menentukan kapan jatuhnya Hari Krida Pertanian, ternyata ada filosofi dan makna tersendiri dalam menjadikan 21 Juni sebagai hari untuk memperingati momen nasional tersebut.

Melansir laman resmi Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) milik Kementerian Pertanian (Kementan), pemilihan tanggal 21 Juni rupanya ditetapkan berdasarkan pertimbangan dari segi astronomis.

Dalam astronomis dikenal istilah pranata mangsa, yaitu sistem penanggalan atau kalender yang dikaitkan dengan aktivitas pertanian, khususnya untuk kepentingan bercocok tanam atau penangkapan ikan.

Baca juga Tradisi Ucap Syukur Ala Petani di Karanganyar

Kalender Pranata Mangsa
info gambar

Kalender pranata mangsa ini disusun berdasarkan pada peredaran matahari yang memiliki 1 siklus (1 tahun) dengan periode 365 atau 366 hari. Kalender ini memuat berbagai gejala alam yang dimanfaatkan sebagai pedoman dalam kegiatan usaha tani maupun persiapan diri menghadapi bencana (kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, atau banjir) yang timbul pada waktu-waktu tertentu sesuai perkiraan kalender pranata mangsa.

Sama seperti banyaknya bulan dalam satu tahun kalender masehi, kalender pranata mangsa juga memiliki 12 musim yang terdiri dari masing-masing julukan dan menandakan langkah bercocok tanam lanjutan seperti apa yang harus dilakukan para petani setiap pergantian musim.

Misalnya, musim ke satu dari kalender pranata mangsa biasanya menjadi waktu bagi para petani untuk membakar jerami, atau musim ke enam saat di mana para petani diharuskan menyebar benih padi di pembenihan, begitupun di musim lain dengan masing-masing langkah bercocok tanam yang dianjurkan menurut gejala alam sesuai dengan kalender pranata mangsa.

Berbeda dengan kalender masehi yang memiliki awal pada 1 Januari dan berakhir di 31 Desember, kalender pranata mangsa memiliki siklus yang dimulai pada tanggal 22 Juni dan berakhir di tanggal 21 Juni.

Karena itu, tanggal 21 Juni ditetapkan sebagai Hari Krida Pertanian sebagai rasa syukur atas berakhirnya satu tahun kalender pranata mangsa atau satu siklus pertanian. Di saat yang bersamaan, bulan Juni biasanya menjadi bulan yang penting bagi masyarakat pertanian, di mana panen berbagai komoditi pertanian seperti kopi, cengkeh, lada, dan sebagainya dilakukan pada bulan ini.

Disebutkan bahwa masyarakat pertanian pada bulan-bulan panen tersebut selalu membuat perhitungan neraca atas usahanya, menyampaikan puji syukur atas hasil panen yang diperoleh, serta mengevaluasi kelemahan dan kekurangan dan selanjutnya dicari langkah-langkah penanggulangannya untuk siklus pertanian di tahun berikutnya.

Baca juga Merawat Tradisi Leluhur, Simbol Petani Menjaga Budaya Agraris

Tantangan sektor pertanian di masa depan

Ilustrasi petani muda
info gambar

Sayangnya, petani konvensional saat ini dilaporkan kian menurun jumlahnya. Menurut data yang dimiliki oleh Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2019 ada sekitar 34,58 juta petani di Indonesia, sedangkan tahun berikutnya yaitu di tahun 2020 jumlahnya merosot menjadi sekitar 33,4 juta petani.

Profesi petani saat ini juga kurang diminati oleh anak-anak muda. Menurut Data Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, pada tahun 2020 petani muda di Indonesia yang berusia 20-39 tahun hanya berjumlah 2,7 juta orang, atau hanya sekitar 8 persen dari total masyarakat yang berprofesi sebagai petani.

Baca juga Anak Muda Mau Keren? Jadilah Petani

Melihat fenomena tersebut, pemerintah akhirnya mendorong kalangan muda Indonesia untuk kembali menekuni dunia pertanian, salah satunya melalui program Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA) dari beberapa provinsi untuk upaya percepatan regenerasi petani.

Sejalan dengan hal tersebut, Hari Krida Pertanian yang terus rutin diperingati setiap tahunnya sebagai bentuk penghargaan kepada para petani diharapkan dapat mendorong munculnya kesadaran diri bagi para kaum muda, bahwa petani sejatinya memegang peran penting dan sangat diapresiasi keberadaannya di tanah air.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini