Kisah Dr Lie Dharmawan, Dokter yang Jual Rumah untuk Bangun Rumah Sakit Apung

Kisah Dr Lie Dharmawan, Dokter yang Jual Rumah untuk Bangun Rumah Sakit Apung
info gambar utama

Rumah Sakit Apung (RSA) yang digagas oleh dr. Lie Agustinus Dharmawan tenggelam di sekitar perairan Selat Sape, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada, Rabu (16/6/2021) lalu. Insiden nahas itu terjadi ketika kapal tengah berlayar dari Kupang (NTT), menuju Torano, Sumbawa Besar (NTB), usai menyelesaikan tugas medis di Pulau Semau.

"Kapal sedang dalam pelayaran dari Kupang, NTT menuju Torano, Sumbawa Besar, NTB sekitar Selat Sape. Tiba-tiba kapal mengalami musibah hingga karam," ungkap dr. Lie Dharmawan, pendiri dan pembina Yayasan doctorSHARE dalam keterangan tertulis, Minggu (20/6).

Saat itu, kapal tengah mengangkut enam anak buah kapal termasuk sang kapten. Beruntung, mereka semua berhasil diselamatkan.

"Mereka berhasil menyelamatkan diri menggunakan sekoci sebelum akhirnya mendapatkan pertolongan dari kapal penumpang KM Niki Sae arah Surabaya. Puji Tuhan tidak ada korban jiwa," kata dia lagi.

Melalui keterangan tertulisnya, dr. Lie Dharmawan tak menampik karamnya rumah sakit apung akan memengarui pelayanan medis bagi warga di bagian Indonesia timur dan program dari Yayasan doctorSHARE. Tetapi, ia menegaskan, semangat menjangkau wilayah-wilayah pelosok di Tanah Air tidak akan pernah padam.

RS Apung dan Misi Mulia di Pelosok Indonesia

"Secara manusiawi kita tentunya sangat sedih. Tetapi, saya pastikan semangat doctorSHARE untuk membantu orang-orang kecil tetap menggebu-gebu," ujar dr. Lie.

Meski demikian, Lie menegaskan semangat menjangkau dan membantu masyarakat di wilayah-wilayah pelosok Indonesia tidak akan pernah padam.

"Kami akan bangkit dan kembali berlayar dengan "bahenol" baru, dengan RSA dr. Lie Dharmawan kedua dalam waktu dekat," kata dia.

Sejak 2013, RSA dr Lie Dharmawan sudah berlayar ke pelbagai wilayah Indonesia untuk melayani kesehatan masyarakat di pelosok-pelosok. Selama berlayar menjalankan misi kemanusiaan, sudah ada ribuan warga yang mendapatkan pelayanan medis di rumah sakit apung ini.

Di dalam kapal--berjuluk bahenol, para karyawan dan relawan bisa memberikan pelayanan medis dasar dan lanjut kepada warga yang tidak mampu di wilayah timur Indonesia. Termasuk melakukan tindakan bedah mayor dan minor. Di kapal tersebut dilengkapi fasilitas EKG, USG, laboratorium, kamar operasi, ruang resusitasi, dan ruang pemeriksaan pasien.

Bangun rumah sakit apung pertama di Indonesia

Rumah Sakit Apung adalah Rumah Sakit diatas Kapal yang berkeliling ke pelosok-pelosok penjuru Nusantara, untuk mengobati warga miskin yang tak memiliki akses pada pelayanan medis. dr Lie bersama timnya memberikan pelayanan medis bagi warga di atas kapal yang bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Ide membuat rumah sakit apung didapatkan dr Lie saat tengah melakukan pelayanan medis gratis di Langgur, Kei Kecil, Maluku Utara, pada 2009. Saat itu, ada seorang ibu yang mendatanginya dengan membawa anak perempuannya dalam keadaan usus terjepit.

Keduanya telah berlayar selama 3 hari 2 malam. Beruntung, anak perempuan berusia 9 tahun tersebut berhasil dioperasi dan sembuh. Kejadian ini lah yang membuat dr Lie ingin bisa menjangkau lebih banyak orang dengan mendirikan rumah sakit apung.

“Prinsipnya kalau mereka tidak bisa kemari, kenapa bukan kami yang ke sana” tutur Dr Lie yang dikutip dari Watanabee.

Sempat tak mendapat kepercayaan dari semua orang mengenai ide RSA-nya, bahkan rekan-rekannya menyebutnya sebagai ‘dr gila’. dr Lie nekat menjual rumah demi membeli sebuah kapal kecil untuk membuat rumah sakit.

Kisah Lie Dharmawan, Dokter Inspiratif Berhati Mulia

"Saya mulai dengan rumah sakit yang sangat kecil, dari pinisi kapalnya. Kapal kayu yang tua. Saya beli kapal barang, saya menjual rumah saya untuk down payment-nya, lalu saya cicil selama 1 tahun, dan 3 tahun lamanya saya pakai untuk merubah sepotong demi sepotong kapal itu, sampai akhirnya menjadi sebuah rumah sakit apung," ujarnya saat berbincang pada Detikcom di RS Apung Nusa Waluya II, Pluit, Jakarta Utara (10/12/2019).

Dengan modal uang dari hasil menjual rumahnya, dr Lie lalu membeli kapal pinisi bekas pengangkut semen untuk membangun rumah sakit apung. Kapal itu tergolong kecil. Hanya berukuran panjang 23,5 m, lebar 6,55 m dan bobot mati 114 ton. Kapal terbagi atas tiga dek.

Dek atas untuk nakhoda dan tempat para relawan, dek tengah berisi ruangan steril dan ruang operasi, sedangkan dek bawah adalah laboratorium.

“Kapal saat itu memang kecil Bahkan mungkin rumah sakit apung terkecil di dunia. Tapi semangat kebaikannya begitu menggebu” ujar Lie.

Hal itu lah yang membawanya kini memiliki 3 RSA. Bahkan, tak hanya RSA, pelayanan lain yang ia miliki seperti flying doctors atau dokter terbang ini berhasil melayani masyarakat pulau utara di Miangas, Sulawesi Utara, yang minim fasilitas kesehatan dan sulit dijangkau. Penanganan flying doctors ini dijangkau melalui jalur laut karena kondisi ombak yang tinggi.

Kenyataannya semangat dr Lie membantu masyarakat miskin untuk bisa menikmati akses kesehatan berawal dari kisah masa kecilnya. Dokter berasal dari Kota Padang, Sumatra Barat, ini pernah mengalami pengalaman pahit saat masih kecil. Cita-citanya yang ingin menjadi dokter dianggap tidak realistis karena kondisi keuangan.

Cita-cita jadi dokter karena meninggalnya sang adik

Dokter Lie bukanlah berasal dari keluarga dokter. Dokter kelahiran Kota Padang pada 16 April 1946 teringat pengalaman pahit masa kecil. Saat itu adiknya yang usianya setahun di bawahnya meninggal karena penyakit diare.

"Karena kami berasal dari keluarga miskin, zaman itu di Sumatra juga jarang dokter dan obat-obatan juga sangat minim, tahun 1940-an. Jadi, adik saya meninggal. Ketika saya besar, ibu saya menceritakan kehilangan adik saya itu yang sakit diare," tutur dokter Lie, mengutip Liputan6.

dr Lie saat itu harus berjuang mengejar impiannya, sekaligus bekerja untuk membantu sang ibu menghidupi adik-adiknya, setelah ayahnya meninggal dunia. Perjalanan dr Lie untuk menempuh pendidikan dokternya bukan hal mudah.

Saat lulus SMA, Ia berkali-kali mendaftar ke fakultas kedokteran yang ada di Pulau Jawa, namun tak pernah diterima. Ia akhirnya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Res Publica (URECA) yang sekarang berganti nama menjadi Universitas Trisaksi.

Melihat Isi RS Apung Pertama di Indonesia

Namun harus berhenti karena kampusnya dihancurkan massa setelah situasi politik yang cukup memanas kala itu. Ia pun memutuskan pergi ke Jerman untuk bersekolah, dengan uang yang dikumpulkannya dari kerja serabutan.

Diterima di Fakultas Kedokteran Free University di Berlin Barat, dr Lie harus bekerja sebagai kuli bongkar muat barang dan juga bekerja di panti jompo untuk membiayai kuliahnya dan sekolah adik-adiknya. Setelah 10 tahun, akhirnya dr Lie berhasil menyelesaikan pendidikannya dan mendapatkan gelar Ph.D di Free University Berlin.

Ia berhasil lulus empat spesialisasi, yaitu ahli bedah umum, ahli bedah toraks, ahli bedah jantung, dan ahli bedah pembuluh darah.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, dr Lie pulang ke Tanah Air bersama istri dan anaknya. Ia bertekad mengabdikan dirinya untuk kemanusiaan.

"Lalu, terpikirkan oleh saya, oh alangkah bahagianya, orang-orang, keluarga, ibu, ayah tertentu bila anak mereka bisa ditolong. Itulah awalnya saya bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. Dan ini berlanjut terus dan cita-cita ini tidak pernah hapus dari pikiran saya," papar dokter Lie.

Pada 2009, dr Lie bersama Lisa Suroso mendirikan Yayasan DoctorSHARE, sebuah organisasi kemanusiaan nirlaba yang memfokuskan diri pada pelayanan kesehatan medis dan bantuan kemanusiaan.

Dalam jangka waktu tersebut, DoctorSHARE telah melakukan 3.291 operasi mayor, 5.538 operasi minor, 2.464 perawatan gigi, 58.859 pelayanan rawat jalan dan konsultasi, penyuluhan kesehatan kepada 11.856 warga, serta 2.227 USG pemeriksaan kandungan.

Dengan segala keterbatasan, termasuk finansial, Dokter Lie punya banyak rencana besar bagi doctorSHARE. Salah satunya memperbanyak rumah sakit apung.

"Untuk negara sebesar Indonesia, tiga kapal sangat kurang. Kita, Indonesia, membutuhkan lebih banyak rumah sakit apung lagi. Tapi ya, SDM terbatas. Finansial juga terbatas. Dengan demikian, kapal juga terbatas," ujarnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini