Mimpi Panjang Mobil Listrik Indonesia yang Kini Dirajut Kembali

Mimpi Panjang Mobil Listrik Indonesia yang Kini Dirajut Kembali
info gambar utama

Indonesia pernah memiliki mimpi untuk menciptakan mobil listrik di tanah air. Pengembangan mobil listrik sudah di mulai sejak tahun 2012 di bawah pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Dahlan Iskan, yang kala itu menjabat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi aktor utama pengembangan mobil listrik buatan Tanah Air. Ia menyakini bahwa mobil listrik akan menjadi kendaraan masa depan dunia, apalagi kala itu, start race mobil listrik kita sejajar dengan negara-negara penguasa teknologi, seperti Amerika Serikat, Jepang, dan China.

“Kesalahan masa lalu tidak boleh terulang. Kalau mobil listrik tidak kita siapkan sekarang, kita akan menyesal untuk kedua kalinya. Kelak, kalau dunia sudah berganti ke mobil listrik, jangan sampai kita kembali hanya jadi pasar mobil impor seperti sekarang ini. Mobil listrik made in Indonesia harus Berjaya. Sekaranglah saatnya Indonesia punya kesempatan bisa bersaing dengan negara maju,” cerita Dahlan Iskan dalam buku ''Memasuki Era BUMN Multinational Coorporation''--(2013)--mengutip dari VOI.

Mengenal Hyundai Ioniq, Mobil Listrik Termurah di Indonesia

Putera Petir, begitu Dahlan menyebut tim yang punya misi membuat mobil listrik karya anak bangsa. Mereka terdiri dari Ricky Elson, orang yang telah menjadi tenaga ahli di Jepang, Dasep Ahmadi, dan Danet Suryatama. Saking berambisinya, Dahlan rela merogoh kocek pribadi untuk mendukung proyek mobil listrik. Misalnya saja saat mereka mengembangkan mobil listrik jenis sport mirip Ferrari bernama Tucuxi.

Berkat kepercayaan yang diberikan oleh Dahlan Iskan, Ricky dan kawan-kawan langsung membalasnya dengan kehadiran tiga buah mobil bertenaga listrik pada 2014. Ricky mengerjakan mobil-mobil tersebut bersama pendiri sekaligus pemimpin PT Sarimas Ahmadi Pratama, Dasep Ahmadi.

Maka lahirlah mobil listrik Tucuxi, Selo, dan Gendhis. Tucuxi adalah mobil sport berkelir merah bertenaga listrik dengan desain mirip mobil Alfa Romeo. Dalam uji coba yang dikemudi Dahlan Iskan, mobil ini mengalami insiden di Magetan.

Melihat kondisi Tucuxi yang ringsek, Dahlan Iskan memerintahkan Ricky Elson dan Kupu-Kupu Malam menciptakan mobil baru. Maka lahirlah Selo, mobil listrik berkelir kuning mirip McLaren 12C dan Gendhis, mobil listrik dengan desain mirip Toyota Alphard.

Dua dari 16 mobil dalam proyek pengadaan mobil listrik yang disponsori oleh Pertamina, Perusahaan Gas Negara (PGN), dan Bank BRI, itu melakukan aksi perdananya sebagai mobil operasional Konferensi Ekonomi Asia Pasifik (APEC) yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, pada Oktober 2013.

Sayang, proyek mimpi indah itu berubah jadi mimpi buruk dalam bayang-bayang kriminalisasi. Kejagung menetapkan Direktur Utama PT Sarimas Ahmadi Pratama, Dasep Ahmadi (DA), dan Direktur Utama Perum Perikanan Indonesia, Agus Suherman (AS) sebagai tersangka korupsi.

Sulitnya birokrasi dan tuduhan korupsi matikan mimpi

Untuk para pengembang mobil listrik nasional di bawah Dahlan itu, Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menjatuhkan hukuman tujuh tahun penjara dan denda Rp17 miliar kepada salah satu anggota Putera Petir, Dasep.

Ia terbukti memperkaya diri sendiri dan menyebabkan kerugian negara lebih dari Rp28 miliar. Saat itu gabungan tiga Badan Usaha Milik Negera (BUMN), PT BRI, PT PGN, dan PT Pertamina mengucurkan dana kurang lebih Rp32 miliar.

Namun mobil yang dipesan kemudian tidak dapat digunakan karena tidak sesuai perjanjian. Mobil listrik yang dirakit PT SAP, asuhan Dasep yang bermerek Ahmadi Type MPV Listrik dinyatakan tak layak jalan. Alasannya, beberapa bagian tidak berfungsi.

Tak Lagi Pilih India, Honda Relokasi Pabrik dan Kembangkan Mobil Listrik ke Indonesia

"Kita melakukan yang terbaik, kalau masih ada kekurangan ya itu wajar. Tapi, kalau ini disebut perbuatan kejahatan, saya tidak terima," ujar Dasep di Pengadilan Tipikor pada 2016 lalu, seperti dikutip Kompas.

Selain dugaan kasus korupsi, rumitnya birokrasi dianggap menjadi penghambat perkembangan mobil listrik dalam negeri. Dahlan menceritakan saat mobil listrik merek Selo dan Gedhis bikinan Ricky Elson akan diuji coba, banyak perizinan yang mesti diurus, sementara prosesnya berbelit-belit.

Regulasi yang mengatur pun tak jelas, hingga kondisi ini sangat menghambat proses pengembangan mobil listrik nasional untuk siap produksi massal. Dahlan tak mendapat cukup dukungan dari rekan-rekannya di pemerintahan meski Presiden SBY sudah memberi mandat. Misalnya saja Kemenhub yang tak menerbitkan sertifikat kelaikan untuk Selo dan Gendhis.

"Mobil listrik sulit sekali, peraturannya pun belum ada. Padahal itu kesempatan kita marathon dengan negara lain karena sama-sama start," kata Dahlan dalam Detikcom.

Ricky Nelson pun saat itu tak kuat menghadapi tekanan, dan memutuskan balik ke Jepang karena merasa tak diperlakukan seharusnya di negara asalnya sendiri. Rakyat pun dipaksa melupakan proyek ini dalam sekejap, seolah tak boleh ada yang berhasil memasarkannya secara masif.

"Kami berhasil mewujudkan sebelum Oktober, sebelum APEC dimulai, bayi-bayi merah mobil listrik ini adalah bayi prematur, butuh orang tua dan pendidik yang ekstra telaten mungkin timing kelahiran kurang tepat, saat para orang tua kami sedang sibuk mencari muka untuk 2014, dan bayi-bayi prematur ini tersisihkan," tulis Ricky, dalam akun Facebook pribadinya pada 2014 lalu.

Mimpi yang kembali dirajut oleh Jokowi?

Setelah lima tahun mati suri, proyek mobil listrik kembali bergulir. Pada 8 Agustus 2019, Presiden Joko Widodo meneken Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan. Beleid ini secara resmi membuka kesempatan produsen lokal untuk merancang dan membangun industri mobil listrik dalam negeri.

Pemerintah menargetkan produksi mobil listrik sudah mencapai 20 persen dari total produksi kendaraan bermotor nasional pada 2025. Dengan angka tersebut diperkirakan sekitar 400 ribu mobil listrik atau hybrid sudah beredar di Indonesia.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama pemangku kepentingan bakal melakukan uji coba terhadap 10 prototipe mobil listrik yang bisa dikategorikan laik jalan.

Bertaburan Investor, Indonesia Akan Jadi Pusat Pabrik Mobil Listrik Dunia

"Prototipe tersebut akan dibagikan, antara lain ke Kementerian Perhubungan serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar bisa dites sambil regulasinya kami siapkan," ucap Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, dalam siaran pers, Senin (28/8/2017).

Dirangkum Majalah Tempo, sudah ada kepastian investasi dari LG Energy Solutipon Ltd, Korea Selatan. Pada awal Januari, anak konglomerasi LG Group itu berkomitmen menanamkan modal 9,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp142 triliun untuk membangun pusat produksi baterai lithium terintegrasi di Indonesia.

Industri mobil listrik ini memang tengah naik daun. Berbagai pabrik otomotif dunia gencar meluncurkan produk mobil listrik. Di Indonesia, tahun ini Toyota berencana menyusul Hyundai, yang sejak 2019 memulai pembangunan fasilitas produksi senilai lebih dari Rp20 triliun di Cikarang, Jawa Barat.

"Industri baterai lithium yang diolah dari kekayaan alam kita sendiri serta sekaligus industri mobil listrik dalam skala besar kita upayakan agar segera beroperasi di negara kita Indonesia,” ujar Jokowi, Rabu (27/1/2021).

Tidak hanya itu, Jokowi juga meminta agar industri mobil listrik bisa dipercepat, sehingga Indonesia bisa menjadi unggulan di Tanah Air.

"Pengembangan industri mobil listrik. Ini juga harus dipercepat dan kita harapkan menjadi salah satu industri unggulan Negara kita Indonesia," ungkapnya.

Tapi Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy, menilai India jauh lebih siap dibandingkan Indonesia dalam hal pengembangan mobil listrik. Hal ini yang membuat pabrikan mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla memilih membangun pabriknya di India.

Walau begitu, Indonesia dianggapnya masih mempunyai peluang dalam pengembangan kendaraan listrik mengingat industri otomotif di dalam negeri sudah relatif maju dan menjadi salah satu industri strategis.

"Tentu ini bisa memberikan ruang bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan pengembangan industri otomotif di dalam negeri. Karena ketika industri otomotif yang konvensional diganti dengan listrik maka ada beberapa komponen atau industri turunan yang hilang," tuturnya.

Selain itu Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, menilai jauh lebih penting untuk membangun pabrik komponen utama mobil listrik, salah satunya baterai mobil listrik. Pasalnya, Indonesia memiliki bahan baku utama untuk pembuatan baterai listrik, yakni nikel.

"Kalau komponen dibuat di Indonesia, bisa supply ke Tesla, Hyundai, Toyota, BMW, hingga Marcedes Benz. Volumenya jauh lebih besar ketimbang mobil. Jadi itu lebih global oriented kalau komponen yang dibuat di Indonesia,” kata Kukuh.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini