Legenda Kuntilanak dan Hubungannya dengan Berdirinya Kota Pontianak

Legenda Kuntilanak dan Hubungannya dengan Berdirinya Kota Pontianak
info gambar utama

Ibu Kota Kalimantan Barat, Pontianak memiliki sejarah panjang tentang asal muasalnya. Sebuah urban legend atau legenda masyarakat di daerah Kalimantan Barat mengungkap asal-usul nama Pontianak.

Kota Pontianak yang dilalui Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia dan Sungai Landak hingga membelah kota Khatulistiwa ini memiliki keterkaitan dengan hantu kuntilanak. Hantu kuntilanak disebut perempuan yang mati pada saat melahirkan dan arwahnya gentayangan untuk balas dendam.

Dalam cerita rakyat Melayu, sosok kuntilanak digambarkan dalam bentuk wanita cantik. Kuntilanak digambarkan senang meneror penduduk kampung untuk menuntut balas, dan dikatakan sering menjelma sebagai wanita cantik yang berjalan seorang diri dijalan yang sunyi.

Inilah 5 Daerah dengan Hutan Terluas di Indonesia

Mitos ini mirip dengan mitos hantu langsuir yang dikenal di Asia Tenggara, terutama di Nusantara. Mitos hantu kuntilanak sejak dahulu juga telah menjadi mitos yang umum setelah dibawa oleh imigran-imigran dari Nusantara.

Sementara itu keterkaitan antara Pontianak dengan hantu kuntilanak, ditulis oleh Zaenuddin HM buku ''Asal-usul Kota-kota di Indonesia Tempo Doeloe''. Menurutnya, nama Pontianak tak lepas dari kisah hantu kuntilanak yang selalu mengganggu Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie.

Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie lahir pada tahun 1142 Hijriah/1729/1730 Masehi. Ia adalah putra dari Al Habib Husin seorang penyebar ajaran Islam yang berasal dari Arab. Dirinya adalah pendiri serta menjadi sultan pertama di Kerajaan Pontianak.

Menurut cerita Syarif Abdurrahman saat menyusuri Sungai Kapuas, ia sering diganggu oleh hantu Kuntilanak. Karena itulah Ia terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu Kuntilanak sekaligus menandakan di mana meriam itu jatuh, maka di sanalah wilayah kesultanannya didirikan.

Sang Raja menembakkan meriam ke tiga tempat yang kemudian jadi 3 titik pembangunan Pontianak. Ternyata, tembakan meriam yang suaranya sangat kencang itu berhasil menakuti para kuntilanak sehingga mereka pergi dari hutan Pontianak.

Ketiga titik tersebut adalah Istana Kadriah, Masjid Jami Sultan Abdurrahman, dan pemakaman anggota keluarga Kesultanan Pontianak. Sedangkan mengapa kota ini kemudian bernama Pontianak, karena dahulu banyak hantu kuntilanak yang mendiami tempat ini.

Warga lokal sering menyebutnya dengan nama puntianak. Nama "puntianak" merupakan singkatan dari "perempuan mati beranak". Namun, ada juga yang menceritakan bahwa sebenarnya suara Kuntilanak tersebut berasal dari kumpulan perompak yang bersembunyi di dalam hutan agar tidak diketahui oleh siapa pun.

Sebab, daerah tersebut masih tertutup rimbunnya hutan, sehingga suasana seperti itu akan terasa aman bagi mereka. Sementara peluru meriam jatuh di dekat persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang kini dikenal dengan nama Bering.

Dari kata pohon punti atau kun tian?

Versi yang lain menyebutkan nama Pontianak berasal dari pohon punti atau pohon yang sangat tinggi. Hal ini karena pulau Kalimantan dahulu terkenal dengan kepulauan yang banyak ditumbuhi pepohonan yang tinggi maka lahirlah nama puntianak tersebut.

Penyebutan pohon ponti ini terbukti dari isi surat antara Husein bin Abdul Rahman Al-Aidrus kepada Syarif Yusuf Al-Kadrie. Selanjunya ada juga legenda versi keempat yang menyebutkan Pontianak berasal dari kata Pontian.

Hal ini dilatarbelakangi dari posisi Kota Pontianak yang strategis sebagai Pontian. Pontian artinya pemberhentian atau tempat singgah.

Saat itu, banyak pelaut ataupun pedagang yang menjadikan lokasi ini sebagai tempat singgah sementara. Di Malaysia juga terdapat tempat bernama Pontian yang digunakan untuk tempat singgah sementara atau tempat pemberhentian.

Suku Punan, Suku Dayak Pedalaman Penjaga Hutan Rimba

Kata Pontian sendiri berasal dari kata Kun Tian yang dalam bahasa Mandarin berarti tempat pemberhentian. Dan sebagian besar orang tua Tionghoa di Pontianak masih menyebut kota tersebut dengan nama Kun Tian.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Mary Somers Heidhues dalam bukunya ''Penambang Emas'', petani dan pedagang di “Distrik Tionghoa” Kalimantan Barat, orang-orang Tiongkok telah menyebar ke Malaka dan Nusantara sejak abad ke-3.

Mereka menyusuri pantai Asia Timur dan kembali ke China melewati Kalimantan bagian barat dan Filipina. Beberapa dari mereka pun menetap dan membuat distrik-distrik di Kalimantan Barat, termasuk di Pontianak. Sejak tahun 1881, Pontianak memang menjadi tempat transit para pedagang Tiongkok yang tersebar ke daerah pedalaman. Ada dua etnis besar yang ada di Pontianak adalah Teochiu dan Hakka.

Kota Pontianak sendiri didirikan oleh Syarif Abdurrahman pada 23 Oktober 1771. Pendirian ini ditandai dengan pembukaan hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar. Secara geografis, kota ini dilalui oleh dua sungai terbesar di Pulau Kalimantan, yakni Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Kedua sungai ini pun diabadikan sebagai lambang Kota Pontianak.

Selain itu, juga ditandai dengan berdirinya berbagai balai dan rumah permukiman. Beberapa tahun setelah itu, Syarif pun membangun masjid yang dikenal sebagai Masjid Jami untuk menandai kekuasaannya.

Pontianak kota khatulistiwa

Pontianak telah dikenal sebagai kota khatulistiwa yang dilalui garis lintang nol derajat bumi. Karena berada di posisi langka, maka dibangunlah sebuah monumen atau tugu khatulistiwa di Siantan.

Tugu Khatulistiwa sebagai tonggak garis ekuator ini di bangun pada tahun 1928 oleh seorang ahli geografi yang berasal dari Belanda. Setiap setahun dua kali, yakni tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September matahari siang akan berada tepat diatas kepala, sehingga membuat tugu dan benda disekitarnya tidak memiliki bayangan.

Dengan garis lintang yang melewati Kota Pontianak membuat daerah ini beriklim tropis dengan curah hujan yang tinggi antara 3.000-4.000 mm pertahun yang jatuh pada bulan Mei hingga Oktober menyebabkan hutannya di tumbuhi berbagai pepohonan yang tumbuh subur. Suhu rata-rata yang dimiliki daerah ini antara 28-30 derajat celsius pada siang hari suhu bahkan mencapai lebih dari 32 derajat celsius.

Menepi ke Pelabuhan Pontianak, Melihat Kegiatan Perdagangan Internasional Tempo Dulu

Keadaan cuaca yang menguntungkan ini pun seakan menjadi berkah tersendiri bagi masyarakatnya yang kebanyakan petani dan pedagang. Pertanian di ana meliputi Ubi, Aloevera (Lidah Buaya), Ubi, dan sayur mayor. Pontianak juga menjadi salah satu penghasil Pisang, Nanas, dan Nangka.

Di sektor perdagangan, Kota Pontianak nyatanya tampak berkembang dengan pesat. Hal itu ditandai dengan berdirinya Mall dan pusat-pusat perbelanjaan. Seperti Mall Pontianak, Matahari, Ayani Mega Mall Pontianak, dan lain-lain.

Secara umum, penduduk Kota Pontianak menurut sensus tahun 2000 berjumlah 554.764 jiwa, yang terdiri dari berbagai suku diantaranya Melayu, Dayak, Jawa, Madura, dan penduduk etnis Tionghoa yang merupakan dominan di Kota Pontianak.

Dengan keanekaragaman suku yang ada yaitu Tionghoa, Melayu, serta Dayak, kota Pontianak memiliki berbagai macam budaya yang berbeda. Suku Dayak misalnya, memiliki budaya yang disebut Gawai, yang merupakan pesta syukur atas kelimpahan panen.

Sedangkan masyarakat dari suku Tionghoa memiliki kegiatan pesta tahun baru Imlek, Cap Go Meh, dan perayaan sembahyang kubur (Cheng Beng atau Kuo Ciet) yang memiliki nilai atraktif turis.

Festival Budaya Bumi Khatulistiwa, merupakan festival yang diadakan pada tanggal 21 sampai 25 Maret. Dengan mengundang beberapa daerah lain yang ada dipulau Kalimantan dan Sumatra. Dan yang menarik, pada festival ini dirangkaikan juga dengan peristiwa alam yang tejadi di Kota Pontianak yaitu kulminasi matahari.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini