Porang, Komoditas Ekspor yang Sedang Populer dan Menjanjikan Bagi Petani Indonesia

Porang, Komoditas Ekspor yang Sedang Populer dan Menjanjikan Bagi Petani Indonesia
info gambar utama

Pernah mendengar atau mengenal jenis tanaman bernama Porang? Kerap kali dikenal dengan sebutan iles-iles, jenis tanaman satu ini masuk ke dalam kategori penghasil umbi yang dapat dikonsumsi seperti umbi-umbian lain layaknya singkong, kentang, bengkuang, ubi, dan lain sebagainya.

Porang memiliki bentuk fisik berupa batang berwarna hijau dan dipenuhi bercak putih namun cenderung halus dan tidak berduri, bagian daunnya memiliki bentuk majemuk (menjari) yang berjumlah 4 pada setiap batang dan tiap daun majemuknya terdiri hingga 10 helai.

Sedangkan untuk bagian umbi pada tanaman ini termasuk jenis umbi tunggal, karena hanya ada satu umbi pada tiap batang. Bagian umbi dari tanaman Porang ini lah yang belakangan sedang populer di kalangan petani, bahkan diandalkan sebagai sumber penghasilan yang lebih menjanjikan dibanding tanaman umbi-umbian lain seperti singkong.

Berkat Porang, Petani Ini Diutus Magang ke Jepang

Alasan di balik kepopuleran Porang

Umbi tanaman Porang
info gambar

Masyarakat Indonesia belakangan pasti sudah tidak asing dengan santapan yang diandalkan bagi mereka yang menjalankan program hidup sehat atau diet, yaitu shirataki. Siapa sangka, jika bahan makanan tersebut ternyata dibuat menggunakan bahan baku utama berupa tepung konjac, yang dihasilkan dari umbi Porang.

Umbi Porang diketahui mengandung glukomanan yang baik untuk kesehatan dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Berangkat dari hal tersebut, tidak heran jika saat ini banyak permintaan dari Jepang, China, Vietnam, Australia, bahkan berbagai negara di Eropa berupa hasil panen tanaman Porang atau umbi yang dihasilkan.

Beruntungnya, tanaman Porang bisa dengan mudah ditemui di pulau Jawa dengan habitat semak-semak yang tumbuh dalam siklus tahunan. Awalnya belum dibudidayakan secara masif, namun belakangan para petani di beberapa wilayah tertentu mulai beralih membudidayakan tanaman satu ini.

Kelompok petani di Pati, Jawa Tengah, menjadi salah satu pihak yang mengakui kepopuleran Porang dibanding tanaman umbi-umbian lainnya. Sebagai contoh, jika dibandingkan dengan singkong yang hanya memiliki nilai keuntungan sebesar Rp1.300/kg, Porang memiliki nilai keuntungan mencapai Rp8.000/kg untuk pasar ekspor.

Di samping itu, melansir Krjogja.com, Porang yang berasal dari wilayah Pati diketahui sudah diekspor ke pasar Asia dengan capaian 6 ton saban bulannya. Tak cukup sampai di situ, Porang asal pati yang didistribusikan lewat perusahaan di Cirebon juga mendapat permintaan ekspor ke Eropa dan kawasan sekitarnya dengan tawaran yang lebih menggiurkan, yakni dengan harga jual mencapai Rp75 ribu/kg, namun tentunya dengan persyaratan kualitas yang ketat.

Petani Baby Buncis Desa Cibodas Tembus Pasar Singapura

Omset fantastis keuntungan Porang di tanah Jawa lainnya

Petani menunjukkan umbi tanaman Porang
info gambar

Tidak hanya di Pati, pertanian Porang saat ini juga sudah banyak ditemui di Semarang. Kepopuleran Porang yang tak terelakkan lagi bahkan membuat pemerintah setempat mendorong petani untuk menanam Porang lewat sejumlah program pendampingan. Hasilnya, pada lahan seluas satu hektare, petani Porang di Semarang dapat menghasilkan 70 ton umbi Porang dalam sekali panen.

Selain itu, menurut data yang diungkap oleh Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang, saat ini ada sekitar 341 kelompok petani yang menanam Porang di lahan seluas 162.667 hektare yang tersebar di 14 kecamatan. Sedangkan luasan panen sampai di akhir semester I tahun ini diperkirakan mencapai 15.306 hektare.

Menukil Tempo mengenai segi pendapatan yang diperoleh dari komoditas satu ini, salah seorang petani Porang sejak tahun 2019 yaitu Sudadi (45) mengungkap, jika dirinya bisa memperoleh pendapatan kotor hingga Rp500 juta lebih dari sekali panen di lahan seluas 1 hektare. Lebih detail, jumlah yang dipanen oleh Sudadi ada di kisaran 80 ton umbi Porang dengan harga jual Rp7.000/kg di pasar lokal.

Adapun kelompok petani lain yang baru menanam Porang di tahun 2020 mengungkap, jika hasil panen Porang sebanyak puluhan ton yang diperoleh selalu terserap habis di pasaran.

Petani Indonesia Bertambah 8 Juta Orang Selama Pandemi

Budidaya Porang di luar Jawa dan tantangan ekspor yang dihadapi

Mentan Syahrul Yasin Limpo dan Menko PMK Muhadjir Effendy saat melakukan Gerakan Panen Porang di di Desa Klangon, Saradan, Madiun, Jatim. Sumber: https://mediaindonesia.com/ekonomi/412643/porang-dulu-tak-dilirik-sekarang-banyak-dicari-orang
info gambar

Nyatanya bukan hanya di pulau Jawa, Porang juga memiliki lokasi budidaya di wilayah Sulawesi, tepatnya di daerah Konawe Kepulauan. Dilaporkan, bahwa saat ini ada 653 petani yang telah melakukan budidaya Porang yang terbagi ke dalam 136 kelompok.

Sementara total produksi yang dimiliki oleh petani Porang asal Sulawesi berada di kisaran 50 hingga 60 ton per kelompok dalam sekali panen. Namun, saat ini seluruhnya masih sebatas dipasarkan ke pasar domestik di Surabaya.

Di saat yang bersamaan, N. Prayatno Ginting, selaku Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Kendari, Sulawesi Tenggara, mengungkap jika saat ini Porang asal Indonesia sudah berhasil menembus pasar China, Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan.

Disebutkan, bahwa pada tahun 2019 volume ekspor Porang berhasil mencapai 11.721 ton dengan nilai Rp644 miliar, kemudian meningkat pada tahun 2020 sebanyak 20.476 ton dengan nilai mencapai Rp924,3 miliar.

"Peluang pasarnya terbuka lebar, kami siap mengawal Porang dari Kabupaten Konawe Kepulauan masuk pasar global juga," ungkap Ginting.

Dengan catatan pencapaian yang ada, bukan berarti keberadaan tanaman Porang jauh dari hambatan dan tantangan. Winner Silalahi, salah seorang Petani asal Lampung yang juga membudidayakan tanaman umbi satu ini membagikan hambatan yang dihadapi versi dirinya.

Silalahi mengungkap, jika saat ini juga muncul permintaan eskpor Porang dalam bentuk makanan ringan (chips), namun belum dapat sepenuhnya terpenuhi. Hal tersebut didasari oleh biaya pembibitan yang masih mahal.

Dijelaskan bahwa harga bibit Porang saat ini mencapai Rp250 ribu/kg dan mencapai Rp800 ribu/kg untuk bibit yang sudah berbentuk bunga. Sebagai solusi sementara, dirinya mengungkap bahwa kerja sama dengan perusahaan dilakukan untuk menyerap panen Porang milik petani yang ada di sejumlah kabupaten di Lampung, sehingga lebih mudah dalam pengolahan makanan ringan yang diminta oleh pasar ekspor.

Inilah Pertanian Padi Paling Efisien di Nusantara, dan Tantangannya Kini

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini