Memanfaatkan Sampah Rumah Tangga Menjadi Pupuk Kompos Organik

Memanfaatkan Sampah Rumah Tangga Menjadi Pupuk Kompos Organik
info gambar utama

Tak dapat dimungkiri, setiap harinya kita pasti memproduksi sampah. Mulai dari kemasan camilan, botol minum, ampas kopi, tisu, kulit buah dan sayur, hingga makanan sisa.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2020 total produksi sampah nasional telah mencapai 67,8 juta ton.

Jumlah tersebut terdiri dari 57 persen sampah organik, 15 persen sampah plastik, 11 persen sampah kertas, dan 17 persen sampah lainnya.

Dari data tersebut, artinya ada sekitar 185.753 ton sampah setiap hari yang dihasilkan oleh 270 juta penduduk. Setiap penduduk memproduksi sampah sebesar 0,68 kilogram per hari.

Salah satu cara yang bisa dilakukan dari produksi sampah sehari-hari adalah membuat pupuk kompos. Pada dasarnya kompos adalah sekumpulan bahan organik yang mengalami proses pelapukan karena adanya interaksi antara mikroorganisme atau bakteri pembusuk yang bekerja di dalam bahan organik tersebut.

Setelah sampah organik menjadi kompos, bisa dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah dan membuat tanaman tumbuh dengan sempurna.

Membuat kompos di rumah | @Marina Lohrbach Shutterstock
info gambar
Upaya Aktivis Lingkungan Membersihkan Sampah Sungai di Bogor

Manfaat membuat kompos dari sampah

Ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dari mengolah sampah menjadi kompos. Salah satunya menyuburkan tanah jangka panjang dan terjaga kualitasnya. Kompos dari bahan baku alami juga dinilai lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan kimia yang bisa merusak tanah.

Pupuk kompos mengandung nutrisi penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalsium yang penting untuk tanaman agar terpenuhi kebutuhan gizinya. Selain itu, kompos juga dapat meningkatkan daya simpan air. Air dari permukaan tanah akan disimpan ke dalam pori-pori tanah dan bisa diserap oleh akar saat tanaman butuh nutrisi. Tanah yang diberi kompos organik akan selalu lembap dan akan menghindari tanaman gersang.

Kegiatan mengompos pun dapat meringankan beban sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) karena sebagian besar sampah yang dihasilkan di rumah sudah diolah menjadi pupuk. Semakin banyak orang melakukannya, semakin sedikit pula sisa sampah yang dikirim ke TPA.

Perlu diketahui bahwa sisa sampah di TPA bisa terurai tanpa oksigen dan menghasilkan gas rumah kaca seperti metana dan karbon dioksida yang merupakan penyebab perubahan iklim. Maka, dengan kegiatan sesederhana mengompos, Anda pun berperan dalam mencegah perubahan iklim.

Kompos | @Pixelbliss Shutterstock
info gambar
Kertas Unik Berbahan Sampah dan Sagu dari Maluku

Membuat kompos di rumah

Membuat kompos itu mudah lho, hanya saja di awal-awal tentunya butuh membiasakan diri dengan prosesnya. Pertama-tama, siapkan wadah untuk kompos. Gunakan pot besar, ember plastik, atau kantung khusus kompos yang banyak dijual di situs e-dagang.

Memilah sampah organik

Daripada harus memilih dan memisahkan sampah yang ada setiap hari, sebaiknya mulai siapkan dua tempat sampah berbeda di rumah. Satu untuk sampah organik sehingga bisa langsung masuk ke wadah kompos, satunya lagi untuk sampah yang tidak bisa diurai seperti aneka plastik.

Sampah yang bisa dijadikan kompos antara lain sisa buah dan sayur, cangkang telur, ampas kopi, kulit kacang, daun, rumput, tanaman, apu perapian, rambut dan bulu binatang, serbuk gergaji, serpihan kayu, jerami, cacing, serta kotoran hewan pemakan tumbuhan seperti kelinci, sapi, dan kambing.

Tak semua sampah bisa dimasukkan ke dalam bahan kompos. Misalnya, logam, kaca, plastik, kertas dengan tinta berwarna, susu, keju, nasi, lemak hewan, sisa daging, tulang ikan, tanaman yang dirawat dengan pestisida, abu arang, dan kotoran hewan pemakan daging.

Jika suda mahir memisahkan sampah organik untuk kompos, kemudian pastikan semua dalam kondisi kering. Potong atau sobek-sobek semua bahan agar lebih cepat membusuk dan simpan dalam wadah kompos.

Upaya Pupuk Kaltim untuk Tekan Penumpukan Sampah

Pencampuran bahan

Campurkan bahan-bahan dengan tanah, pupuk kandang, larutan gula, dan aktivator pengomposan seperti EM4. Saat ini ada beberapa aktivator yang bisa digunakan, antara lain PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec, SuperDec, ActiComp, BioPos, EM4, atau Green Phoskko Organic Decomposer.

Setelah semua bahan tercampur rata, tambahkan tanah untuk menutupi sampah organik tersebut lalu siram permukaannya dengan air secukupnya. Segera tutup wadah rapat-rapat agar tak terkontaminasi dengan partikel lain seperti air hujan atau hewan.

Kompos matang

Untuk hasil maksimal, kompos dapat didiamkan selama tiga bulan. Bila ingin lebih cepat, bisa mengaduk kompos secara rutin. Setelah matang, kompos buatan Anda bisa digunakan untuk menyuburkan tanah dan tanaman.

Cara melihat apakah hasil kompos berkualitas baik dan sudah siap pakai antara lain bobot atau volumenya menyusut, warnanya cokelat tua hingga kehitaman mirip warna tanah, tidak larut air, dan baunya sudah menyerupai aroma tanah.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini