Kisah Nike Ardila, Lady Rocker yang Tetap Bersinar dalam Kematian

Kisah Nike Ardila, Lady Rocker yang Tetap Bersinar dalam Kematian
info gambar utama

Beberapa hari ini, nama penyanyi rock legendaris Indonesia, Nike Ardila, kembali naik ke permukaan. Pasalnya, beredar video di media sosial mengenai sosok perempuan yang disebut mirip dengan penyanyi asal Bandung tersebut.

Dalam video tersebut, tampak seorang perempuan yang tengah berpose memakai jaket kulit, kaus hitam, dan celana jeans. Selain itu, rambutnya yang bergelombang dan pendek, juga mengingatkan akan sosok penyanyi yang meninggal dunia pada 19 Maret 1995 tersebut.

Amel, wanita yang disebut memiliki kemiripan dengan pelantun lagu ''Bintang Kehidupan'' ini pun sampai bertemu dengan Nining, ibunda Nike Ardilla. Dalam beberapa unggahannya, terlihat Amel sedang menyuapi ibunda Nike yang terduduk di kursi roda sambil menggenggam tangannya dan menangis.

Dalam video, terlihat juga ibunda tersenyum dan terawa saat mengobrol dengan Amel. Momen haru tersebut membuat para penggemar merasakan kehadiran sang idola dan mengatakan bahwa Amel merupakan reinkarnasi dari Nike Ardilla.

Sejarah Hari Ini (19 Maret 1995) - Nike Ardila, Mojang Bandung Kaya Talenta

Besarnya perhatian publik atas video Amel, tidak hanya membuktikan sosok Nike yang sulit terlupakan. Namun juga nama dan karyanya yang telah melewati berbagai generasi di tanah air.

Sudah 26 tahun berlalu, sejak Nike Ardilla meninggalkan dunia. Meski namanya tak lagi menghiasi gemerlap dunia hiburan, namun karya sang biduan tetap menyala di hati ribuan penggemarnya.

Tidak sedikit para penggemar tersebut masuk dalam generasi millennial. Generasi yang bahkan tidak sempat melihat sosok perempuan kelahiran Bandung yang pada era-nya mampu menggebrak musik Indonesia.

Aura bintang dan multitalenta

Nike Ardilla bukan sekadar penyanyi lagu rock atau balada, dan tidak hanya penyanyi wanita yang mengandalkan wajah cantik. Penyanyi bernama asli Raden Rara Nike Ratnadilla Kusnadi ini merupakan legenda sekaligus fenomena di dunia musik Indonesia.

Bakat menyanyi Nike mulai tumbuh sejak masih berumur 5 tahun melalui darah seni yang mengalir dari kakeknya--merupakan seorang penyanyi keroncong. Ketika berusia 5 tahun, Nike sudah berani tampil menyanyi saat ada acara keluarga di rumahnya.

Niatnya menekuni panggung tarik suara semakin serius setelah ia berhasil menjadi Juara Harapan I dalam ajang Lagu Pilihanku TVRI dan Juara Festival Pop Singer HAPMI Kodya Bandung pada tahun 1985, saat masih berusia 10 tahun. Dirinya kemudian bergabung dengan manajemen Denny Sabri, seorang wartawan musik senior kenamaan pada masa itu

The Lensoist, Grup Penyanyi Andalan dan Upaya Soekarno Tandingi Musik Rock di Tanah Air

Album pertama kali yang dirilis Nike Ardilla adalah ''Seberkas Sinar'' pada 1989. Album ini tercatat sukses di pasaran dengan angka penjualan mencapai 500 ribu kopi. Angka tersebut tergolong luar biasa untuk album solo dari musisi debutan nan sangat muda.

Setelah itu, album yang dikeluarkanya begitu laris layaknya kacang goreng. Album Bintang Kehidupan (1990) tercatat terjual 2 juta kopi, Nyalakan Api (1991) terjual 1,75 juta kopi, Matahariku (1992) terjual 1,5 juta kopi.

Biarlah Aku Mengalah (1993) terjual 2 juta kopi, Biarkan Cintamu Berlalu (1994) terjual 1,25 juta kopi, dan Sandiwara Cinta (1995) terjual 2 juta kopi. Bahkan Nike juga merilis beberapa album di Malaysia, salah satunya adalah album bertajuk Duri Terlindung (1994) yang terjual sekitar 1,25 juta kopi.

Langkahnya di dunia seni memang kian tak terbendung setelah merilis album ''Nyalakan Api''. Album itu kembali meraih BASF Awards dan Nike selaku penyanyi juga menyabet penghargaan sebagai pendatang baru terbaik pada Asia Song Festival di Shanghai (1991).

Dilansir dari CNN Indonesia, pengamat musik Wendi Putranto, menyebut ada beberapa alasan yang membuat pencapaian Nike begitu fantastis. Dirinya menyebut ada empat faktor yang membuat karir Nike begitu melesat secara cepat.

Menurutnya hal ini merupakan kombinasi dari paras rupawan, usia muda, berprestasi, dan berkarakter rock. Wendi melihat, sosok Nike menjadi pembeda dari para penyanyi yang muncul pada masa itu.

"Lagu-lagu pop rock/rock ballad yang khususnya diciptakan oleh Deddy Dores selaku produser dan pencipta lagu bagi Nike Ardilla sangat cocok dengan karakter vokalnya dan disukai oleh masyarakat luas," kata Wendi.

Cap 'Lady rocker' yang kadung menempel dengan diri Nike pun seakan membantu namanya terus berkibar. Mengutip tulisan Denny Sakrie bertajuk ''45 Tahun Perjalanan Musik Ian Antono'', Nike Ardilla adalah salah satu lady rocker Indonesia era 1980-an selain Nicky Astria, Anggun C Sasmi, Mel Shandy, Cut Irna, Ita Purnamasari, dan Lady Avisha.

"Pada saat itu belum ada yang berpikir tentang brand (julukan) di industri musik Indonesia. Istilah lady rocker itu hadir waktu itu untuk membedakan para penyanyi genre ini dengan para penyanyi pop cengeng yang sedang booming," kata Wendi.

Nike tidak hanya sukses menjadi penyanyi, dalam tiga tahun ia juga tercatat membintangi 9 film. Lain itu, ia juga membintangi sinetron, hingga foto model. Sebuah kebintangan yang sulit untuk dihentikan, kecuali oleh kematian.

Dalam kematian dia bersinar

Nike Ardilla meninggal dunia di saat popularitasnya sedang memuncak. Kecelakaan tunggal di Jalan RE. Martadinata, Bandung, menewaskannya pada usia yang begitu belia, 19 tahun.

Peristiwa tersebut bak petir di siang bolong bagi keluarga dan ribuan penggemarnya. Tidak ada yang mengira, Nike harus pergi pada puncak popularitasnya.

Nike dimakamkan di Ciamis, Jawa Barat, pada sore di hari ia meninggal dunia. Jenazahnya diantar ribuan penggemar dan sejumlah artis. Fans garis kerasnya bahkan masih berada di kediaman Nike pada beberapa hari setelah pemakaman.

Tak lama setelah kematiannya nama Nike Ardilla justru menjulang. Publik masih terus membicarakan Nike Ardilla. Majalah Asia Week menafsirkan Nike dalam sebuah kalimat satir In Dead She Soared atau "Dalam Kematian Dia Bersinar".

Mengikuti Jejak Anggun Penyanyi Indonesia yang Dikenal Dunia

Majalah itu tidak salah, hingga hari ini, setiap tanggal 19 Maret dan 27 Desember, ratusan penggemar Nike melakukan ritual khusus. Mereka memulainya dengan mengunjungi tempat kecelakaan, lalu ziarah ke makam, sambil tak lupa menyanyikan lagu-lagu Nike. Di Indonesia, mungkin hanya Nike, penyanyi yang begitu dipuja bahkan setelah kematiannya.

Dalam dunia musik, nama Nike bisa disandingkan dengan penyanyi-penyanyi besar seperti Jimi Hendrix, Kurt Cobain, John Lennon, Jim Morisson, dan Elvis Presley, yang meninggal pada puncak karir.

Bahkan seperti Makam Elvis di Graceland Memphis, Amerika Serikat, yang ramai disambangi para peziarah setiap tanggal 16 Agustus.

Ada beberapa alasan yang membuat nama Nike tetap mendapat tempat di hati penikmat musik. Selain meninggal saat karir yang sedang berada di puncak, cara Nike pergi juga membawa pengaruh besar bagi psikologis para fansnya.

"Saat itu Nike baru 19 tahun, tapi dia sudah jadi penyanyi sekaligus pemain film yang sangat bersinar. Pada waktu itu cuma dia yang bisa punya karir ganda seperti itu," kata pengamat musik Bens Leo, dalam Tabloid Bintang.

Selain itu, hubungan baik dan pengelolaan karier yang mumpuni membuat karier dan gema Nike Ardilla tetap terjaga. Apalagi, faktor fans Nike yang berkarakter militan turut dijaga dengan baik.

Tidak cuma solid di dunia nyata saja, tetapi merambat ke dunia maya. Di Facebook, fanpage Nike Ardilla sudah disukai oleh sekitar 4,3 juta akun. Sebuah hal yang luar biasa melihat Nike telah meninggal lebih dari 20 tahun.

"Bahkan bisa dibilang, tak banyak di Indonesia penyanyi yang sudah wafat namun popularitasnya masih bertahan sampai sekarang, Nike salah satunya. (Kesuksesan Nike) Agak sulit untuk diulangi. She's one in a million." pungkas Wendi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini