Asal-Usul Buah Apel yang Identik dengan Kota Malang

Asal-Usul Buah Apel yang Identik dengan Kota Malang
info gambar utama

Rasanya hampir tidak ada orang yang tidak menyukai buah apel. Kalaupun ada, nampaknya hanya sebagian kecil dari sekian banyak orang yang menjadikan buah satu ini sebagai santapan sehat favorit.

Cita rasa yang dimiliki buah satu ini memang sulit untuk tidak disukai, selain kaya akan kandungan air, sama halnya seperti buah lain, apel juga memiliki ragam kandungan vitamin yang sudah pasti bermanfaat bagi tubuh.

Berdasarkan penilitan yang dilakukan oleh Harvard School of Public Health, berbagai kandungan yang dimiliki oleh apel akan semakin bermanfaat jika dikonsumsi dalam kondisi utuh dan segar. Disebutkan bahwa beberapa khasiat yang bisa didapat dari mengkonsumsi apel, di antaranya menjaga kesehatan jantung, membantu menurunkan berat badan, dan menurunkan risiko penyakit diabetes.

Indonesia sejatinya termasuk negara yang beruntung karena menjadi salah satu negara yang dapat menikmati ragam varian apel, baik yang berasal dari luar negeri ataupun jenis apel yang dibudidayakan sendiri.

Bicara lebih jauh soal apel, ada satu kota di Jawa Timur yang keberadaannya identik dengan buah satu ini, yaitu Malang. Bukan tanpa alasan, faktanya daerah sekitar Malang memang menjadi wilayah pertama kali masuknya Apel ke tanah air yang berasal dari negara lain.

Kangen pada "Apel Jawa", yang Ternyata... bukan Buah Apel

Awal kemunculan dan perkembangan budidaya apel di tanah air

Apel Malang
info gambar

Keterikatan antara buah apel dan kota Malang, sejatinya sudah ada sejak zaman Belanda. Melansir Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), milik Kementerian Pertanian (Kementan), sejarah apel di Indonesia dimulai sejak didatangkan dari Australia pada tahun 1934 dan pertama ditanam di Desa Tebo Pujon, Malang, sebanyak 20 varietas.

Dalam perkembangannya, wilayah Batu, Malang, Nongkojajar, dan Pasuruan, menjadi daerah sentra produksi apel di Indonesia yang saat itu menjadi usaha utama petani di sekitar tahun 1950, kemudian mulai tahun 1960 budidaya tanaman apel terus berkembang.

Selama tahun 1984 hingga 1988, tanaman apel di Jawa Timur menunjukan perkembangan yang pesat. Pada tahun 1984 terdapat sebanyak 7.303.372 tanaman apel, dan berkembang menjadi sekitar 9.047.276 tanaman pada tahun 1988, atau meningkat 4,7 persen tiap tahunnya.

Sedangkan hasil panennya meningkat dari 146.690 ton pada tahun 1984 menjadi 275.065 ton pada tahun 1988, atau meningkat 17,5 persen setiap tahunnya. Dari data yang dimiliki Dinas Pertanian pada tahun 2008, sebelum tahun 2000 jumlah tanaman apel di wilayah Batu saja ada sebanyak 3.107.195 pohon. Jumlah tersebut dapat menghasilkan buah sampai sebanyak 147 ribu ton per tahun.

Tahun 1980 hingga menjelang tahun 1990, menjadi masa kejayaan dari hasil panen apel di wilayah Batu. Sayangnya, sejak krisis moneter yang melanda pada tahun 1997, hasil panen cenderung menurun bersamaan dengan keberadaan tanaman apel yang mengalami penurunan sampai 1 juta pohon, dan hanya menghasilkan panen sekitar 46 ribu ton per tahun di tahun 2004.

Tak cukup sampai di situ, bahkan hasil panen apel yang dicapai pada tahun 2005 lebih rendah dibandingkan dengan tahun 1970-an yang saat itu masih dalam tahap berkembang.

Inilah Olahan Apel Tak Biasa Dari Surabaya

Penyebab menurunnya hasil panen apel dan solusi yang dihadirkan

Tanaman apel dengan buah yang rusak
info gambar

Penurunan hasil panen yang terjadi di Batu sebagai pusat apel saat itu ternyata disebabkan oleh kemunculan hama penyakit. Tak cukup sampai di situ, berbagai masalah juga muncul karena penurunan kesuburan lahan akibat pemakaian pestisida berlebihan, pemeliharaan yang kurang optimal akibat naiknya harga sarana produksi, dan sebagian tanaman apel yang produktivitasnya menurun karena sudah berumur tua.

Untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul, akhirnya pada tahun 2006 didatangkan varietas baru apel dari Belanda melalui Program Local Economic Resources Development (LERD) atau Pengembangan Sumberdaya Ekonomi Lokal (PSEL) berbasis apel, yang merupakan kerjasama Pemerintah Kota Batu dengan Bappenas dan Pemerintah Belanda.

Selanjutnya di tahun 2007 dan 2008, dilakukan peremajaan tanaman apel berusia tua di beberapa lokasi, namun nyatanya hasil dari kegiatan tersebut saat itu tidak langsung dirasakan pengaruhnya secara nyata terhadap pemecahan masalah agribisnis apel di Kota Batu.

Tiga Pohon Calon Warisan Budaya di Malang

Jenis apel budidaya yang paling terkenal di Malang

Apel Manalagi, salah satu jenis apel terkenal yang banyak dijual di Malang
info gambar

Dari 20 varietas apel yang sejak awal dibudidayakan di Malang, saat ini hanya beberapa yang masih bertahan dan keberadaannya banyak diketahui oleh masyarakat. Pertama yaitu Apel Rome Beauty, varietas ini memiliki ciri khas berupa warna kulit yang tetap hijau kekuningan meskipun sudah matang, buahnya berbentuk agak bulat dengan lekukan di bagian ujung.

Apel budidaya Malang kedua yang juga cukup dikenal ialah apel Manalagi, buah ini disukai karena rasanya yang manis meski belum matang dan memiliki aroma yang kuat. Namun apel jenis ini memiliki tekstur agak liat dan kandungan air yang sedikit dibandingkan apel jenis lainnya.

Terakhir ada apel Anna, jika dibandingkan dengan apel Malang pada umumnya yang berbentuk bulat, maka apel jenis ini lebih mirip dengan apel yang diimpor. Jika sudah matang, kulit Apel Anna berwarna merah tua dan merata, sedangkan untuk yang masih muda kulitnya berwarna hijau kemudian berubah menjadi hijau kekuningan semburat merah jika mulai matang.

Alat Pendeteksi Kematangan Buah Buatan Mahasiswa Malang

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini