Kisah Soeharto Temui Mahasiswa untuk Redam Peristiwa Malari

Kisah Soeharto Temui Mahasiswa untuk Redam Peristiwa Malari
info gambar utama

Tahun 1970-an menjadi awal bagi kebangkitan gerakan mahasiswa dari periode sebelumnya yaitu tahun 1968 atau 1969 yang cenderung tenang-tenang saja, karena telah dirasa berhasil meruntuhan kekuasaan Soekarno. Mulai tahun 1970 terjadi berbagai aksi dan protes yang dilakukan oleh mahasiswa.

Beberapa alasan yang memicu terjadinya protes adalah masalah pendidikan seperti bertambahnya jumlah mahasiswa tetapi anggaran terhadap pendidikan relatif kurang. Kedua, meningkatnya inflasi dan bertambahnya kesulitan hidup sehari-hari. Ketiga, merajalelanya korupsi sehingga pembangunan hanya dinikmati oleh sekelompok kecil masyarakat.

Akhir tahun 1973 intensitas gerakan mahasiswa semakin meningkat, peristiwa besar meledak saat Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka menjadwalkan kunjungan ke Indonesia. Sementara itu pada tanggal 9 Januari 1974, sebelum kedatangan Perdana Menteri Tanaka, para mahasiswa telah berdemonstrasi menentang para Asisten Pribadi (Aspri) presiden.

Tiga hari menjelang kedatangan Perdana Menteri Tanaka, Jumat, 11 Januari 1974, Presiden Soeharto mengundang mahasiswa ke Istana. Rombongan mahasiswa itu terdiri atas perwakilan 35 pengurus Dewan Mahasiswa se-Indonesia.

Jejak Masa Kecil Soeharto, Bocah Bertelanjang Dada yang Sampai ke Istana

Sekitar 100 mahasiswa memekikkan sindiran di ruang tunggu wartawan Bina Graha, Jakarta. Alih-alih gamang, Presiden Soeharto tetap menebar senyum ramah saat menerima mereka.

Mengutip Tempo, Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia Hariman Siregar angkat bicara. Mula-mula ia meminta Presiden menganggap mahasiswa sebagai anak. Sekejap kemudian, “anak-anak presiden” mulai memberondong Soeharto dengan rentetan kritik dan pertanyaan. Dari ihwal gelontoran modal asing hingga sepak terjang dua asisten pribadi Presiden, Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani.

Muslimin M.T. dari Dewan Mahasiswa IKIP Jakarta, misalnya, menanyakan mengapa modal asing tak disalurkan lewat jalur resmi, malah melalui Soedjono. Soal Ali, ia mengatakan, “Apa benar Ali Moertopo calo politik?”

Pertemuan berlangsung panas. Sejak pertengahan 1973 memang sudah muncul protes dari kalangan akademikus dan kelompok kritis terhadap strategi pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ketimbang pemerataan.

Dalam pembicaraan tertutup selama dua jam itu, Soeharto lebih banyak mendengar dan irit bicara. Mahasiswa pun tambah mencaci-maki asisten pribadi Soeharto.

Di luar dugaan, Soeharto sama sekali tak menyalahkan anak buahnya. Ia justru menyatakan, “Semua tanggung jawab saya. Semua yang dilakukan oleh aspri atas sepengetahuan saya.”

Presiden juga tak buru-buru membenarkan laporan mahasiswa soal kongkalikong pejabat dan istri-istri mereka dengan pengusaha. “Mana buktinya?” tanya Soeharto.

Menurut Hariman, mahasiswa semula berharap bertemu dengan Soeharto sebagai ayah. “Nyatanya, Soeharto menampilkan diri sebagai presiden,” katanya. Maka, pecahlah demonstrasi besar mahasiswa yang berujung pada perusakan dan penjarahan oleh massa di sekitar Istana Negara pada 15 Januari.

Hariman Siregar dan Para Demonstran pada Malari

Bandara Halim Perdanakusuma, pukul 19.45. Pesawat Super DC-8 JAL mendarat dengan mulus di landasan. Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka dipersilakan keluar dari pesawat. Tidak ada upacara militer dan sambutan kenegaraan. Setelah menerima kalungan bunga, Tanaka meluncur ke Wisma Negara untuk beristirahat.

Presiden Soeharto dan menteri-menterinya bertemu dengan Tanaka di Istana Negara. Ketika pejabat-pejabat Indonesia menyambut Tanaka dengan formal, beda urusannya bagi para mahasiswa dan pelajar. Mereka ‘menyambut’ Tanaka dengan protes.

Demonstrasi ini pun tidak dilakukan secara kecil-kecilan. Demonstrasi yang dilayangkan oleh mahasiswa dan pelajar terhadap kedatangan Tanaka ini menjadi yang terbesar semenjak Orde Baru berkuasa. Besarnya demonstrasi membuat fenomena ini diberi nama Malapetaka Lima Belas Januari 1974 (Malari 1974).

Tanaka dianggap sebagai simbol modal asing yang mesti dilawan. Long march dari Kampus Universitas Indonesia Salemba menuju Univeritas Trisakti di Grogol itu mengusung tiga tuntutan yakni pemberantasan korupsi, perubahan kebijakan ekonomi mengenai modal asing, dan pembubaran lembaga Asisten Pribadi Presiden.

Di antara barisan ribuan mahasiswa itu terdapat seorang aktivis bernama Hariman Siregar. Dirinya mengatakan, mahasiswa pada 1974 awalnya berharap Orde Baru (Orba) mampu menjadi jawaban dari Orde Lama (Orla)

(21 Mei 1998) - Soeharto Pilih Lengser Keprabon, Madeg Pandhita Ikuti Raja Jawa

Saat Orla ekonomi Indonesia masih diboikot kepentingan kolonial Barat. Tapi malah saat Orba kekuatan Barat dan Jepang pun mampu mengontrol ekonomi Indonesia yang sejatinya sudah merdeka.

“Jadi, Indonesia pada saat itu malah mengandalkan utang, bukan kekuatan dalam negeri,” kata Hariman Siregar, Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia pada masa itu penuh antusias mengutip dari Republika.

Berdasarkan Majalah Tempo: Lari Dari Malari edisi 4 Februari 2008, aksi ini berujung kerusuhan. Massa yang mengaku dari kalangan buruh pada akhirnya menyerbu Pasar Senen, Blok M, dan kawasan Glodok. Mereka menjarah serta membakar mobil buatan Jepang dan toko-toko.

"Kami akan membakar semua produk Jepang,” kata seorang demonstran, seperti dilaporkan jurnalis New York Times Richard Halloranjan dalam artikel “Violent Crowds in Jakarta Protest the Visit by Tanaka” yang dikutip dari Tirto.

Pada malam itu juga, saat jamuan makan malam, Presiden Soeharto meminta maaf kepada Tanaka atas gelombang protes yang muncul. Tanaka menanggapinya dengan mengatakan dia paham atas situasi yang terjadi. Dia pun meminta Soeharto untuk tidak mengkhawatirkannya.

Atas kerawanan situasi kala itu, Soeharto bahkan mesti mengantar Tanaka menggunakan helikopter menuju Bandara Halim Perdanakusuma, sebelum kembali ke negaranya.

Aksi mahasiswa yang ditunggangi kepentingan jenderal?

Aksi yang begitu besar ini membuat Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) Jenderal Soemitro, turun ke jalan. Soemitro mengaku menawarkan dialog antara Dewan Mahasiswa (DM) UI dengan Tanaka. Namun DM UI menjawab "dialog diganti dengan dialog jalanan."

Sementara itu Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin alias Bang Ali yang resah, memutuskan pergi ke kampus UI Salemba. Malamnya, Bang Ali mengajak Hariman ke TVRI. Dalam siaran itu, Hariman mengumumkan bahwa permasalahan sudah selesai. Imbauan Hariman akhirnya mampu meredam aksi mahasiswa.

Hanya saja, pada akhirnya kerusuhan sudah terjadi. Tercatat 807 mobil dan motor buatan Jepang dibakar, 11 orang meninggal dunia, 300 luka-luka, 144 buah bangunan rusak berat, 160 kilogram emas hilang dari toko-toko perhiasan.

Hariman membantah kerusuhan tersebut melibatkan masa aksi yang turun ke jalan. Menurutnya unjuk rasa mahasiswa usai pukul 14.30 WIB.

Hingga kini, persoalan kerusuhan itu tidak pernah terungkap. Aktivis dan ekonom Indonesia, Sjahrir mengatakan, pengadilan tidak mampu membuktikan mahasiswa ada di balik aksi pembakaran mobil dan penjarahan itu.

Tidak heran jika muncul dugaan bahwa malapetaka 15 Januari adalah imbas rivalitas Jenderal Soemitro dan Ali Moertopo yang merupakan asisten pribadi Presiden dan Kepala Operasi Khusus waktu itu.

Desas-Desus Petrus, Saat Orang Hapus Tato Agar Tak Ditembak

Setelah Malari 1974, Soeharto memecat Soemitro dari jabatan Pangkopkamtib. Ia juga membubarkan lembaga Aspri dan Ali Moertopo dipindah tugas sebagai Wakil Kepala Bakin.

Lalu, sebanyak 775 orang aktivis ditangkap. Di antaranya Hariman Siregar, tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI, partai bentukan Sutan Sjahrir yang sudah lama bubar) Soebadio Sastrosatomo, aktivis HAM Adnan Buyung Nasution, J.C. Princen, dan akademisi Dorodjatun Kuntjoro-Jakti.

Dikutip dari Majalah Tempo: Penumpang Gelap Malari edisi 14 Oktober 2013, setelah peristiwa Malari ini Soeharto punya seribu alasan melakukan penangkapan. Anehnya, mereka yang ditangkap tidak harus terkait dengan peristiwa Malari.

Peristiwa Malari bahkan dinilai sukses dimanfaatkan untuk melibas kelompok yang berpotensi merongrong kekuasaan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini