Mengenal Wayang Sothil dan Sosok Perempuan di Baliknya

Mengenal Wayang Sothil dan Sosok Perempuan di Baliknya
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #InspirasidariKawan #NegeriKolaborasi

Indonesia memiliki beragam jenis wayang yang diambil dari beragam budaya. Mulai dari yang paling sering ditemui, yaitu wayang kulit dan wayang golek hingga wayang kontemporer, seperti Wayang Polah, Wayang Tenda, dan Wayang Suket.

Saat ini, ada satu wayang kontemporer lain yang belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia, yaitu Wayang Sothil. Wayang kontemporer yang ditemukan oleh seorang perempuan muda bernama Titah Banu Arum Mumpuni.

Terlahir sebagai perempuan di keluarga berdarah Jawa, Titah mengenal budaya tidak hanya sebagai tata cara dalam bertindak, tetapi mengenal budaya sebagai seni dan ikut menjadi penggiat seni yang aktif. Ia pernah mendapatkan rekor MURI pada tahun 2007 silam saat usianya masih 10 tahun sebagai dalang wanita termuda.

Sumber gambar: Instagram @titahbn
info gambar

Sepanjang perjalananan sebagai penggiat seni, ia sering memainkan wayang kulit. Namun, karena tidak memiliki wayang kulit sendiri serta sanggar tempat ia sering berlatih jauh dari rumahnya, akhirnya ia memutuskan untuk hiatus sepanjang SMP dan SMA. Pada tahun 2015, di masa kuliah, ia berkolaborasi dengan beberapa teman kuliah dan menemukan sebuah konsep wayang baru, yaitu Wayang Sothil.

Mengenal Yuniarto, Pendesain Pertunjukan Wayang di "Raya and The Last Dragon Shadow Puppet"

Bermakna media kritik sosial

Wayang Sothil memiliki bentuk yang unik, berbeda dengan wayang-wayang pada umumnya. Wayang ini dibuat dari barang-barang yang mudah ditemui. Seperti yang kita ketahui, 'Sothil' dalam bahasa jawa adalah alat untuk mengaduk makanan di dalam panci, bentuknya seperti sendok besar terbuat dari kayu. Terinspirasi dari alat-alat memasak yang dipakai oleh perempuan jawa untuk mengolah makanan di dapur, Wayang Sothil kemudian lahir.

Titah menjelaskan bahwa sothil diambil sebagai bahan utama pembuatan wayang ini karena barang ini identik dengan perempuan. Berbeda dengan wayang pada umumnya yang identik dengan laki-laki, karena kebanyakan dalangnya adalah laki-laki, sedangkan Wayang Sothil dalangnya perempuan.

Perempuan selalu diidentikan dengan pekerjaan domestik seperti di dapur. Melalui Wayang Sothil ini, Titah ingin menyampaikan bahwa pada kenyataannya barang yang digunakan memasak bisa dijadikan wayang yang digunakan sebagai media untuk menyampaikan kritik sosial.

sumber: Instagram @wayangsothil
info gambar
Menilik Sejarah Wayang Kulit Jawa Tengah

Cerita yang dihadirkan dalam Wayang Sothil lebih bertema forklor dan mengangkat isu-isu sosial yang sedang 'panas' di masyarakat. Wayang Sothil memiliki beberapa tokoh yang sering muncul dalam pewayangannya. Salah satu tokoh sentral yang menjadi kunci dalam setiap lakonnya adalah Mbah Suji, seorang perempuan tua dibuat dari centong nasi padang dan memiliki karakter yang sangat bijak.

Konsep pertunjukan wayang sothil menggunakan konsep semi teatrikal, membuka pementasan dengan tembang jawa. Lalu, saat pertengahan pementasan berlangsung, dalang tidak hanya duduk memainkan wayang, ia juga melakukan monolog, seperti geguritan atau naskah monolog yang disesuaikan dengan lakon pementasannya.

Pementasan Wayang Sothil diiringi menggunakan angklung dan alat musik yang berasal dari kayu dan bambu, serta menggunakan lagu anak-anak jawa. Di antaranya lagu "Padang Bulan", "Gundul Pacul", dan "Lir-Ilir".

Pentas hingga ke negeri gingseng

Beberapa prestasi dan pengalaman yang mengesankan pernah dilalui oleh Titah dan Wayang Sothilnya. Pada tahun 2017, Wayang Sothil pernah mengikuti roadshow Balai Bahasa di Taman Baca Masyarakat Surakarta dan Klaten. Kemudian pada tahun 2018, Wayang Sothil mendapat undangan untuk melakukan pementasan di Kedutaan Besar Republik Indonesia Korea Selatan di Seoul.

Audiensnya terdiri dari pemuda-pemudi Korea Selatan yang belajar gamelan dan mahasiswa Indonesia yang tinggal di sana. Antusiasme mereka untuk melihat wayang ini sangat tinggi karena bagi mereka ini merupakan hal yang baru, terutama saat mengetahui bahwa gamelan yang mereka pelajari ternyata tidak hanya sebagai iringan musik saja tapi sebagai pengiring wayang.

Kisah Wayang Potehi, Karya Terpidana Mati Zaman Dinasti Tang

Wayang Sothil ternyata tidak hanya sebagai wayang untuk pertunjukan saja tapi wayang ini bisa dipakai sebagai media pembelajaran. Pada tahun 2019, Wayang Sothil diperkenalkan kepada anak-anak sekolah dasar di gereja Nammun daerah Jeonju, Korea Selatan untuk mempelajari bahasa dan budaya Indonesia.

Bagi Titah, pengalaman-pengalaman tersebut diharapkan agar bisa menjadi semangat dan inspirasi kaum muda di Indonesia untuk selalu berkarya. Tak sampai di situ, dengan adanya wayang ini juga untuk memberitakan budaya Indonesia hingga ke seluruh dunia.*

Referensi: Instagram @wayangsothil | Instagram @titahbn | Youtube: Wayang Sothil "Sang Nata"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RF
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini