Hanjeli, 'Emas Hijau' dari Waluran Sukabumi

Hanjeli, 'Emas Hijau' dari Waluran Sukabumi
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #InspirasidariKawan #NegeriKolaborasi

Apakah Kawan tahu apa itu Hanjeli? Atau Kawan pernah mendengar nama tanaman Jali? Nah, di Sukabumi ada sebuah desa bernama Waluran, yang menjadi desa wisata hanjeli. Mengapa disebut desa wisata hanjeli?

Usut punya usut, tanaman jali atau yang disebut dengan hanjeli pertama kali dibudidayakan oleh Asep Hidayatullah Mustofa, seorang pemuda asli Sukabumi yang memiliki misi mulia untuk tempat kelahirannya. Kang Asep, sapaannya, merupakan pemuda yang patut dijadikan teladan bagi kita semua. Dengan tekad dan wawasan yang dia miliki, dia mampu mengubah desanya menjadi desa yang bisa meningkatkan perekonomian warganya.

Desa wisata hanjeli merupakan salah satu edukasi wisata yang berada di Waluran Sukabumi dengan memfasilitasi edukasi pangan lokal dari hanjeli. Desa ini, menanam Hanjeli sebagi upaya pelestarian kekayaan pangan lokal dan diolah agar memiliki nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

8 Tahun Hilang, Katak Pohon Endemik Mendadak Nongol di Sukabumi

Pembudidayaan hanjeli

Potret kebun hanjeli | Foto: desawisatahanjeli.info
info gambar

Kang Asep memperkenalkan tanaman hanjeli sejak tahun 2010 saat dia terakhir pulang sebagai TKI (pekerja migran) di Arab Saudi. Kang Asep mendorong warga untuk budidaya hanjeli, yang selama ini warga melihat tanaman hanjeli tidak memiliki nilai ekonomis.

Namun, setelah melihat keberhasilan Kang Asep, warga mulai tertarik menanam hanjeli. Apalagi Kang Asep membeli hasil panen warga dengan harga tinggi dari harga panen gabah. Ia membeli hanjeli Rp4.000 sampai Rp5.500 per kilogram, sedangkan harga gabah padi huma harganya sekitar Rp3.500 per kilo. Dibanding tanaman pangan lainnya, hanjeli juga lebih mudah dibudidayakan.

Kebo-keboan Tradisi 300 Tahun Masyarakat Banyuwangi untuk Usir Wabah Penyakit

Menurut penelitian, hanjeli adalah makanan berkhasiat yang disukai oleh orang cina. Hanjeli kaya akan gizi, proteinnya dua kali lipat dari pada beras, rendah karbo, dan gluten free.

Pemanfaatan hanjeli pun beragam. Mulai dari alternatif pangan, seperti beras, dodol, rangginang, tape, hingga pembuatan aksesoris, seperti kalung dan gelang. Bersama warga, Kang Asep juga memanfaatkan pekarangan kosong untuk ditanami sayuran serta budidaya ikan dan sayur di dalam ember.

Mencuatkan segudang prestasi

Kang Asep (tengah) menerima penghargaan | Foto: desawisatahanjeli.info
info gambar

Dengan keberhasilan budidaya hanjeli, Kang Asep bersama warga menjadikan Desa Waluran sebagai desa wisata berbasis komunitas. Apalagi Desa Waluran mandiri masuk dalam Kawasan Geopark Ciletuh dan Pelabuhan Ratu.

Berkat usahanya, Kang Asep mendapat penghargaan sebagai Juara 1 Pelopor Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Barat dan Sukabumi Award tahun 2019 sebagai pelaku usaha industri kecil dan menengah berprestasi. Ia juga pernah masuk di program Kick Andy, bahkan pernah menjadi artikel yang dimuat oleh Majalah FEATURE.

Lewat tanaman hanjeli, Kang Asep melakukan pemberdayaan masyarakat terhadap Purna Migran Indonesia (PMI) atau yang sering disebut mantan TKW di Kawasan Geopark Ciletuh Palabuhan Ratu (CPUGG) hingga menjadi Desa Wisata Hanjeli. Saat ini, Desa Wisata Hanjeli menjadi desa eduwisata pangan lokal hanjeli pertama di Indonesia.

Filosofi Mendalam Tato Mentawai, Seni Rajah Tertua di Indonesia

Bagi Kang Asep, tidak mudah mengenalkan produk olahan hanjeli. Apalagi segmentasinya terbatas hanya kalangan tertentu saja. Ini sebetulnya sebuah tantangan yg harus ia hadapi.

10 tahun yang lalu, orang tidak melirik sama sekali terhadap pangan lokal ini. Saat ini, setelah ramai, banyak yang melihat peluang itu ada. Membangun peradaban pangan lokal dari nol rasanya butuh perjuangan panjang.

Kurang lebih sudah 10 tahun Desa Wisata Hanjeli berjalan. Beberapa kali desa wisata ini dikunjungi oleh pihak pemerintah daerah, perguruan tinggi, maupun lembaga sosial.

"Saya banyak belajar dari sebuah arti ata "Konsisten". Dari sebuah konsisten itu banyak pengalaman berharga dan waktu yang terus berputar menjadi saksi tentang sebuah perjalanan. Semoga dari setiap langkah dan perjalanan itu ada pelajaran dan hikmah yang bisa kita petik. Mengenalkan Hanjeli bukan tentang bisnis saja, tapi ada tanggung jawab moral untuk menjaganya," tutur Kang Asep.*

Referensi: | Youtube Kick Andy | Desa wisata hanjeli | Pelita Sukabumi

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BT
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini