Maung Bodas, Khadam Prabu Siliwangi yang Jadi Simbol Masyarakat Sunda

Maung Bodas, Khadam Prabu Siliwangi yang Jadi Simbol Masyarakat Sunda
info gambar utama

Pajajaran merupakan Kerajaan Hindu yang pernah menguasai tanah Sunda. Kerajaan ini pernah dipimpin oleh raja bijak dan penuh karisma, Prabu Siliwangi.

Sang prabu juga dikenal sakti mandraguna, memiliki banyak pasukan tidak hanya dari kaum manusia, melainkan juga dari bangsa gaib. Salah satu pasukan gaib yang populer hingga saat ini yaitu maung bodas atau macan putih.

Oleh karena itu lah kita sering menemukan banyak gambar maupun lukisan seekor macan putih yang selalu berada di sekitar Prabu Siliwangi. Sang macan itu juga dianggap sebagai khodam penjaga Prabu Siliwangi. Tidak sedikit orang yang berburu khodam tersebut untuk dijadikan pendamping.

Asal muasal sang macan menjadi khodam Prabu Siliwangi bukanlah didapat dari hadiah, namun didapatkan usai sang prabu menaklukkannya dalam suatu pertempuran sengit.

Diketahui, macan putih yang dimaksud ini adalah raja macan putih bernama Maung Bodas dari dunia gaib, yang memiliki ribuan tentara sejenisnya. Kisah ini bermula dari ketika Prabu Siliwangi hendak beristirahat di Curug Sawer, Majalengka, guna melepas lelah dalam pengembaraannya.

Prabu Siliwangi dan Sejarah Berseminya Islam di Tatar Sunda

Tanpa disangka, sekawanan macan putih gaib menghadang langkah dan hendak menerkam sang prabu.
Namun, karena memang Raja Siliwangi itu dikenal sangat sakti mandraguna, tidak satupun sekawanan macan itu yang dapat melukainya.

Akan tetapi sebaliknya, banyak dari kawanan macan ghoib itu yang tersungkur dan terluka. Singkat cerita, sang raja dari kawanan macan putih tersebut maju dan terjadilah pertempuran sengit diantara keduanya. Lagi-lagi dengan kesaktiannya, Prabu Siliwangi berhasil mengalahkan sang raja gaib macan putih.

Sejak saat itulah Raja Macan Putih dan seluruh pasukannya mengabdikan diri dan bersedia membantu Prabu Siliwangi selaku penguasa tanah pasundan, dangan taruhan nyawanya. Dari kesaktian Prabu Siliwangi yang pilih tanding ditambah adanya pasukan macan pengawal gaib (khadam) inilah, ia dapat menjadi raja tersohor di tanah Pasundan.

Dirasa telah banyak membantu kejayaan Pajajaran, Prabu Siliwangi kemudian mengukirkan kepala harimau di gagang pusaka kujang miliknya dan menyuruh maung bodas ‘bersemayam’ di dalam gagang kujang itu. Hal ini mungkin agar kemanapun sang prabu pergi, sang macan putih gaib itu selalu dekat dengannya, sebagaimana kujang pusaka yang selalu dibawanya.

Mitos Prabu Siliwangi yang berubah jadi macan putih

Simbol maung yang melekat dalam alam pikiran masyarakat Sunda lebih kuat dengan adanya legenda nga-hyang atau menghilangnya Prabu Siliwangi di hutan Sancang. Ketika sang Prabu dikejar bala tentara Islam dari Kerajaan Banten dan Cirebon.

Selain itu, hal ini juga dilakukan untuk menghindari pertumpahan darah dengan anak cucunya yang telah memeluk Islam. Peristiwa ini mengisyaratkan mulai masuknya pengaruh Islam di tatar Sunda. Dalam legenda ini juga disebutkan sebelum benar-benar menghilang, Prabu Siliwangi meninggalkan pesan atau amanat kepada para pengikutnya. Salah satu bunyi wangsit yang populer di kalangan masyarakat Sunda:

Lamun aing geus euweuh marengan sira, tuh deuleu tingkah polah maung." (Kalau aku sudah tidak menemanimu, lihat saja tingkah laku harimau).

Wangsit, yang bagi sebagian masyarakat Sunda itu sarat dengan filosofi kehidupan, menjadi semacam keyakinan bahwa Prabu Siliwangi telah bermetamorfosa menjadi maung (macan) setelah tapadrawa (bertapa hingga akhir hidup) di hutan belantara.

Sejarah Hari Ini (22 April 1578) - Penyerahan Mahkota Binokasih pada Kerajaan Sumedang Larang

Selain itu, wangsit tersebut juga menjadi pedoman hidup bagi sebagian orang Sunda yang menganggap sifat-sifat maung seperti pemberani dan tegas, namun sangat menyayangi keluarga sebagai lelaku yang harus dijalani dalam kehidupan nyata.

Tapi bagi masyarakat di sekitar hutan Sancang, kisah ini bisa menjadi Kearifan lokal. Menurut masyarakat di sekitar hutan, bila ada pengunjung yang berperilaku buruk dan merusak kondisi ekologis hutan, maka ia akan “berhadapan” dengan macan putih yang tak lain adalah Prabu Siliwangi.

Walau tidak masuk akal, Masyarakat Leuweung Sancang telah menyadari arti pentingnya keseimbangan ekosistem kehutanan. Sehingga diperlukan instrumen pengendali perilaku manusia yang seringkali berhasrat merusak alam. Dan mitos macan putih jelmaan Prabu Siliwangi-lah yang menjadi instrumen kontrol sosial tersebut.

Maung, simbol masyarakat Sunda yang tersebar di Jawa Barat

Macan, maung, atau harimau, merupakan simbol yang tidak asing lagi bagi masyarakat Sunda. Beberapa hal yang berkaitan dengan kebudayaan dan eksistensi masyarakat Sunda dikorelasikan dengan simbol maung.

Baik simbol verbal maupun non-verbal seperti nama daerah (Cimacan), simbol Komando Daerah Militer (Kodam) Siliwangi, hingga julukan bagi klub sepak bola kebanggaan warga kota Bandung (Persib) yang sering dijuluki 'Maung Bandung'.

Namun menurut seniman Bandung, Muhamad Rico Wicaksono, maung tidak hanya dikenal oleh masyarakat Subang ataupun Bandung, tapi sudah jadi simbol Jawa Barat.

Rico menyatakan pernah melakukan ziarah ke beberapa patung maung di berbagai daerah, seperti di Gegerkalong, Cimahi, dan Garut. Bahkan menurutnya, patung maung itu tidak harus selalu berada di Markas Koramil.

Hari Samida, Maknai Pohon di Bogor

"Saya pernah nemu patung maung di pangkalan ojek. Dan itu juga bentuknya unik,” kenangnya yang dikutip dari Ayobandung.

Selain macan tompel, Rico juga menemukan patung macan ngelel (menjulurkan lidah) di kampung halamannya di Subang. Patung maung memang banyak tersebar di Jawa Barat, seperti Karawang, Serang, Pandeglang, Ciamis, dan Tasikmalaya.

Meskipun konon sosok maung merupakan pesimbol dari Prabu Siliwangi, tidak semua wilayah di Jawa Barat memiliki patung maung. Di Cianjur dan Bekasi misalnya, Rico merasa belum pernah menemukan sosok maung di sana.

Simbol maung yang salah tafsir

Walau begitu, secara fakta sejarah ada rentang waktu yang cukup jauh antara masa Prabu Siliwangi hidup dan memerintah dengan runtuhnya Kerajaan Pajajaran dalam mitos Maung Bodas. Nama Siliwangi yang berarti pengganti Prabu Wangi (1371-1475) merupakan julukan bagi Prabu Jayadewata, cucu Prabu Wastukancana.

Prabu Jayadewata yang berkuasa pada periode 1482-1521 dianggap mewarisi kebesaran Wastukancana karena berhasil mempersatukan kembali Sunda-Galuh dalam satu naungan Kerajaan Pajajaran. Keberhasilan ini membuat pujangga Sunda ketika itu memberikan gelar Siliwangi bagi Prabu Jayadewata.

Sedangkan Kerajaan Pajajaran mengalami kehancuran pada tahun 1579 saat pemerintahan Raga Mulya. Akibat serangan pasukan Kesultanan Banten yang dipimpin Maulana Yusuf.

Prabu Raga Mulya beserta para pengikutnya yang setia tewas dalam pertempuran mempertahankan ibu kota Pajajaran yang ketika itu telah berpindah ke Pulasari (kawasan Pandeglang sekarang). Artinya, Prabu Siliwangi tidak pernah mengalami keruntuhan Kerajaan yang telah dipersatukannya.

Lalu dari mana mitos maung prabu Siliwangi dan Pajajaran?

Peneliti Belanda, Scipio, kepada Gubernur Jenderal VOC, Joanes Camphuijs melaporkan mengenai jejak sejarah istana Kerajaan Pajajaran di kawasan Pakuan (daerah Batutulis Bogor sekarang). Laporan penelitian yang ditulis pada tanggal 23 Desember 1687 tersebut berbunyi “dat hetselve paleijs en specialijck de verheven zitplaets van den getal tijgers bewaakt ent bewaart wort”.

Artinya, bahwa istana tersebut terutama sekali tempat duduk yang ditinggikan untuk Raja “Jawa” Pajajaran, masih berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau.

Melacak Lokasi Keraton Pajajaran yang Lenyap di Batutulis Bogor

Bahkan kabarnya salah satu anggota tim ekspedisi Scipio pun menjadi korban terkaman harimau ketika sedang melakukan tugasnya. Temuan lapangan ekspedisi Scipio itu mengindikasikan bahwa kawasan Pakuan yang ratusan tahun sebelumnya merupakan pusat kerajaan Pajajaran telah berubah menjadi sarang harimau.

Hal inilah yang menimbulkan mitos-mitos bernuansa mistis di kalangan penduduk sekitar Pakuan mengenai hubungan antara keberadaan harimau dan hilangnya Kerajaan Pajajaran. Berdasarkan pada laporan Scipio ini, dapat disimpulkan bila mitos maung lahir karena adanya kekeliruan sebagian masyarakat dalam menafsirkan realitas.

Sesungguhnya, keberadaan harimau di pusat Kerajaan Pajajaran bukanlah hal yang aneh. Apalagi sepeninggal para penduduk dan petinggi kerajaan, wilayah Pakuan berangsur-angsur menjadi hutan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini