Saga Bajak Laut yang Kuasai Selat Malaka, dan Upaya Laksamana Ceng Ho Menumpasnya

Saga Bajak Laut yang Kuasai Selat Malaka, dan Upaya Laksamana Ceng Ho Menumpasnya
info gambar utama

Pada awal abad ke-15, kota Palembang diduduki perompak Chen Zuyi yang berasal dari Tiongkok. Gerombolan bajak laut ‘Naga Hitam’ ini terkenal paling ditakuti di perairan Samudra Hindia hingga Selat Malaka.

Muhammad Muhibbudin dalam bukunya ''Laksamana Cheng Ho'' (2020), menuliskan jika saat itu perompak Chen Zhuyi ini sangat kuat. Pelaut Palembang dan daerah Sumatra dibuat resah oleh perompak ini.

Kehadiran Chen Zuyi di Palembang juga terkait dengan kondisi politik Sriwijaya yang meredup. Ia memerintah kota Palembang, dan menyerbu Selat Malaka untuk menguasai perkapalan dan menekan para pedagang asing dan penduduk asli selama beberapa tahun.

Akhirnya Kaisar Yongle memerintahkan kepada Laksamana Ceng Ho untuk melakukan ekpedisi pelayaran. Laksamana Cheng Ho bersama 27.000 tentaranya melakukan ekspedisi ke Samudra Hindia yang dimulai pada 1405 hingga 1433.

Sejarah Terasi : Dari Kerajaan Cirebon Hingga Dibawa Laksamana Cheng Ho

Salah satu tugas rahasia Laksamana Cheng Ho dalam ekspedisinya ialah memburu musuh negara. Sebagian di antara mereka ternyata lari ke Palembang dan menjadi bajak laut paling ditakuti. Jadilah pelayaran ke Bumi Sriwijaya itu sebagai misi penumpasan perampok yang juga buron kekaisaran.

“Secara de facto, saat itu Sriwijaya sudah runtuh dan Palembang di bawah Majapahit. Tapi, berita Sriwijaya di bawah kendali perompak Cheng Zhuyi membuat kaisar Tiongkok mengirim Laksamana Cheng Ho,” ujar peneliti arkeologi nasional Bambang Budi Utomo, mengutip dari Jawapos.

Laksamana besar tersebut kemudian mampir ke Palembang, dan tentu saja kedatangannya itu membawa armada kapal harta yang banyak, hasil dari upeti yang diberikan negara-negara yang dikunjungi.

Itu membuat 'ngiler' Cheng Zhuyi, gembong bajak laut yang telah malang melintang di Selat Malaka hingga perairan Palembang. Menurut pakar sejarah Cheng Ho asal Singapura, Tan Ta Sen, ketika datang Cheng Ho sudah membacakan maklumat kaisar agar Cheng Zhuyi menghentikan aksinya.

“Saat itu Cheng Zhuyi menyatakan tunduk dan hendak menemui Cheng Ho,” ujar Tan Ta Sen. Tapi, Cheng Zhuyi menyimpan niat jahat untuk merampok. Rencana itu tercium Shi Jinqing yang kemudian melaporkannya ke Cheng Ho. Cheng Ho pun se­gera memasang perangkap balasan.

Ketika kapal para bajak laut itu mendekat, tiba-tiba armada Cheng Ho bermanuver mengepung kapal Cheng Zhuyi dan anak buahnya. Panah-panah api dari tentara Cheng Ho langsung menerangi malam hari, begitu pula meriam Cheng Ho yang segera menyalak.

Maka, barisan penjahat berkekuatan 5.000 orang tersebut langsung lenyap dalam semalam. Sedangkan Chen Zhuyi ditangkap hidup-hidup. Bersama dua pembantu setianya, Cheng Zhuyi dibawa ke Tiongkok dan dihukum mati.

Cerita bajak laut yang ramaikan perairan Nusantara

Perairan Selat Malaka sudah ramai sejak ribuan rahun silam. Kapal-kapal dagang dari India dan China sering melintasi jalur laut tersebut untuk perdagangan. Padatnya lalu lintas laut di Selat Malaka sejak lampau telah memicu perompakan berkali-kali.

Dari segi ekonomi dan strategis, Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Selat Malaka membentuk jalur pelayaran terusan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Bahkan secara tidak langsung menghubungkan tiga dari negara-negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, yakni India, Indonesia, dan Republik Rakyat Tiongkok (China).

Menurut sejarah, menjadi perompak di Selat Malaka tidak hanya menguntungkan jika dilihat dari segi material, tetapi aksi perompakan juga merupakan alat politik yang penting. Para penguasa mengandalkan para perompak untuk mempertahankan kekuasaan.

Mengenal Suku Laut, Pelestari Kehidupan Bahari yang Mulai Terlupakan

Salah satu contoh terjadi pada abad XIV di bawah pemerintahan seorang pangeran Palembang, Parameswara. Berkat bantuan segerombolan perompak yang terdiri dari suku Orang Laut yang setia kepadanya.

Dirinya berhasil melarikan diri dari kejaran utusan kerajaan Majapahit dan akhirnya mendirikan Kesultanan Malaka. Parameswara berhasil menguasai Tanah Singapura--dulunya bernama Tumasik--setelah menyingkirkan Raja Tumasik.

Menurut Prof. Dr. Erwiza Erman, sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), persepsi bajak laut di Nusantara berbeda dengan bajak laut di Eropa. Di Nusantara, bajak laut dipandang lewat dua wajah yang berbeda, yakni sebagai perompak atau penumpas dan sebagai pejuang yang menyelamatkan.

“Bagi Belanda dengan modal ekonominya, kata mereka perompak harus dibasmi, harus ada kontrol navy atau angkatan lautnya untuk menjaga sekuritas di seluruh perairan Indonesia. Mulai dari bagian barat, apalagi yang berbatasan dengan wilayah yang dikuasai pemerintah Inggris seperti Singapura dan Malaysia.”

Tapi di Nusantara, bajak laut seringkali mendapat dukungan dari masyarakat pesisir. Mereka dianggap pahlawan yang menyelamatkan masyarakat dari ancaman dan gangguan yang datang dari luar.

Sriwijaya bahkan dianggap sebagai kerajaan yang memanfaatkan bajak laut untuk menjaga kepentingan dagangnya. Hubungan bajak laut dengan raja-raja lokal biasanya akrab. Bajak laut bisa disulap jadi Angkatan Laut sebuah kerajaan jika ada bagi hasil yang saling menguntungkan antara raja dan kepala bajak laut.

Sriwijaya dan Tumasik membuat sebagian pedagang dari Asia Barat lebih memilih melewati pesisir barat Sumatra untuk menuju Jawa. Di pesisir barat Sumatra, setidaknya ada beberapa pelabuhan seperti Barus, Padang, atau Pariaman.

Kekuatan Sriwijaya yang mampu mengendalikan bajak laut, membuat jalur pelayaran yang awalnya menakutkan bagi para pedagang Muslim, berubah menjadi aman dan nyaman untuk dilayari.

Tapi sejak keruntuhan Sriwijaya sekitar abad ke-11 atau ke-12, bajak laut di Selat Malaka bertindak sendiri-sendiri dan tampaknya semakin mengganas. Selat Malaka menjadi rawan bagi pelayaran. Hal inilah yang kemudian “dibersihkan” oleh armada Cheng Ho (Zheng He) pada abad ke-15. Namun, pada waktu-waktu kemudian, para perompak terus beraksi. Hingga sekarang.

Kepentingan kolonial yang lahirkan rezim bajak laut?

Gejala bajak laut semakin mengemuka pada abad ke-19, berbagai peristiwa terkait perompak pada masa ini mengalami peningkatan tajam. Hal ini seiring dengan semakin dominannya negara-negara kolonial, baik di daratan maupun di perairan Nusantara.

Fenomena bajak laut yang ada di sepanjang perairan Nusantara merupakan resistensi atas semakin dominannya penguasaan perairan oleh negara-negara kolonial. Para penulis barat dengan obyektifitasnya sendiri bahkan menuliskan, bahwa kegiatan bajak laut di Asia Tenggara sebagai suatu reaksi terhadap politik kolonial.

“Kekerasan dan pemerasan oleh orang Portugis dan Spanyol, dan tidak sedikit juga kontrak dagang yang diadakan sewenang-wenang oleh Kompeni Belanda untuk Hindia Timur (VOC) dengan raja-raja dan bangsa-bangsa pribumi telah ikut mendorong mereka (menjadi bajak laut).

Dalam berbagai operasi penanganan bajak laut, rata-rata bajak laut di Nusantara akan bernasib malang, mati karena serangan serdadu kolonial, tertangkap dan dihukum mati oleh pengadilan kolonial. Dengan semakin dominannya kekuatan barat di Nusantara, maka para pelaut pribumi jatuh dalam kekuasaan kolonial.

Dan bagi siapapun yang menolak tunduk akan dianggap liar dan dicap sebagai bajak laut, atau kekuatan mereka akan digeser ke dalam status bajak laut. Sehingga kolonial memiliki dalih untuk memerangi mereka.

Hal yang sama terjadi pada masa Orde Baru (Orba), misalnya kebijakan pemerintah Orde Baru yang mendaratkan orang-orang laut pribumi Bangka atau orang Sekak, sekitar 1980. Mereka dianggap sebagai bajak laut dari Pulau Bangka.

Padahal, mengekploitasi laut itu juga termasuk sama dengan membajak laut. Lalu, muncul istilah bajak laut, yang sebenarnya istilah dari mengekspolitasi laut.

“Namun, konotasi bajak laut itu jadi negatif, karena maknanya sudah meluas yang merujuk pada hal-hal yang tidak baik lainnya. Saat pemerintah kolonial Belanda membuat kebijakan arah peradaban bangsa Indonesia itu dari kerajaan maritim ke darat, yang menjadikan kita membelakangi laut dan menghadap gunung, istilah membajak pun dilarang, jadi membajak ladang dan membajak sawah.” jelas Akhmad Elvian, sejarawan Bangka Belitung.

Menurut Elvian, orang-orang yang tinggal di Bangka dan Belitung--yang terdiri dari 750 pulau itu--mengarahkan peradabannya ke laut, sehingga tidak membelakangi laut.

Misalnya kampung-kampung yang dipimpin oleh Batin di Pulau Bangka yang berfungsi sebagai feeder point atau titik pengumpul, yang pada dasarnya menghadap ke laut sehingga orientasinya bahari.

Konon, Indonesia Punya Siklus Masa Kejayaan Setiap 7 Abad. Ini Penjelasannya!

"Namun, dalam konteks kita sebagai orang Bangka atau Indonesia sentris, mereka orang-orang Sekak itu justru yang berjuang bersama Depati Amir menyerang dan ingin membebaskan diri dari orang Belanda yang ada di Bangka Belitung. Jadi persepsi bajak laut di Bangka ini juga memiliki dua wajah.”

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini