Beberapa Contoh Kekaguman Masyarakat Dunia Pada Budaya Indonesia

Beberapa Contoh Kekaguman Masyarakat Dunia Pada Budaya Indonesia
info gambar utama

Cinta terhadap budaya Indonesia sepatutnya menjadi sebuah keharusan, dan tidak perlu dipertanyakan lagi apa alasannya bagi kita sebagai warga negara asli dan kelahiran tanah air. Bahkan, sudah menjadi suatu hal yang lumrah jika rasa cinta terhadap tanah air ditanamkan sejak dini oleh para pendahulu kepada tiap generasi baru yang lahir dan menjadi penerus milik negeri ini di masa yang akan datang.

Beban yang dipikul oleh insan baru di setiap generasi pun bukan berarti ringan, secara tidak langsung ada tanggung jawab yang setidaknya dimiliki agar ragam budaya yang ada di Indonesia tetap terjaga kelestariannya dan tidak terlupakan.

Namun di balik hal tersebut, muncul pertanyaan tentang bagaimana jika ada atau bahkan banyak masyarakat dari negara asing yang nyatanya ikut memiliki rasa cinta dan kekaguman yang tak kalah besar terhadap budaya yang kita miliki?

Bangga karena jati diri kita dikenal pihak lain? Malu karena di beberapa kondisi rasa cinta akan budaya Indonesia yang dimiliki oleh masyarakat asing justru lebih besar dari rasa cinta yang dimiliki oleh segelintir anak bangsa? Atau bahkan defensif karena munculnya kekhawatiran akan budaya tanah air yang diakui oleh negara lain, seperti yang sering kali terjadi dan tak jarang menimbulkan kesalahpahaman?

Jawaban yang tepat untuk berbagai kondisi tersebut sejatinya adalah bijaksana dan menyikapi masing-masing situasi sesuai dengan porsinya. Dalam arti kata, mengapresiasi bila budaya Indonesia dicintai sewajarnya dan melakukan intropeksi apabila menyadari bahwa kecintaan kita terhadap budaya Indonesia ternyata masih kurang dibanding rasa cinta yang kerap kali dimiliki masyarakat asing.

Karena tak dimungkiri, belakangan ini bersamaan dengan ragam budaya Indonesia yang semakin dikenal masyarakat dunia, respons yang diterima nyatanya lebih dari sekedar apresiasi atau kilas atensi sesaat melainkan lebih dari itu.

Garin Nugroho, Sutradara Pembawa Budaya Indonesia ke Dunia

Budaya Indonesia yang dirindukan masyarakat Hongaria

Tari Merak di Budapest, Hongaria
info gambar

Ungkapan mengenai kebudayaan Indonesia yang dirindukan dan dicintai masyarakat asing nyatanya bukan sebatas hisapan jempol belaka. Hal tersebut terbukti dalam salah satu kesempatan gelaran yang berlangsung baru-baru ini di dua kota Hongaria yaitu Szeged dan Budapest.

Belum lama ini tepatnya pada tanggal 26 Juni, pada dua kota tersebut diadakan sebuah festival budaya Indonesia bertajuk “Indonesian Week”. Faktanya, gelaran tersebut ternyata menjadi yang pertama mendapat izin diselenggarakan setelah rangkaian restriksi atau pelarangan kegiatan yang mengumpulkan massa diberlakukan di kota Szeged selama situasi pandemi terjadi.

Menjadi kegiatan pentas pertama yang diizinkan pemerintah Hongaria, rupanya gelaran ini mendapat antusias besar dari masyarakat lokal yang rela mengantre demi dapat mengikuti pameran tersebut.

“Kami rindu akan penampilan eksotisnya Indonesia, makanya kami rela antre masuk gedung pertunjukkannya," ungkap salah satu pengunjung yang mengantre masuk area Ferenc Hopp Museum of Asiatic Art di Budapest, tempat lain dari diselenggarakannya gelaran “Indonesian Week”.

Dalam gelaran tersebut, terdapat sebanyak 10 foto hasil jepreten Mario Blanco dari hampir seluruh wilayah Indonesia yang menjadi bagian dari pameran foto pariwisata.

Adapun di saat yang bersamaan, sejumlah penduduk asli Budapest yang ternyata merupakan alumni dari program Darmasiswa turut memeriahkan gelaran tersebut dengan membawakan tarian daerah Rindik Bali bersama Diaspora Indonesia serta warga lokal lain yang mengaku memiliki kecintaan terhadap budaya Indonesia.

Darmasiswa, Peluang Besar Membawa Budaya Indonesia ke Berbagai Penjuru Dunia

Pelajar asing lulusan Darmasiswa yang kenalkan budaya Indonesia di Beograd

Tari Bedhaya Sarpo Rodra di Beogra, Serbia
info gambar

Hal yang sama rupanya juga terjadi di Beograd, Ibu Kota Serbia. Pada tanggal 30 Juni kemarin, ragam karya seni dan budaya Indonesia berupa batik, lukisan dongeng khas Indonesia, wayang, dan topeng tradisional Indonesia dipamerkan lewat gelaran "Indonesian Festival 2021: Exhibition of Crafts and Culture".

Menariknya, gelaran tersebut merupakan inisiasi dari 5 orang alumni program Darmasiswa asal Serbia, yaitu Ana Vodopija, Andreja Krstic, Nikola Deloševic, Katarina Mladenovic, dan Katarina Ivanovic.

Dalam kesempatan tersebut, Dubes RI untuk Serbia, M. Chandra W. Yudha menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada para lulusan program Darmasiswa atas inisiasi yang dibentuk dan memperkenalkan budaya Indonesia lebih luas, sebuah respons yang sejatinya dapat menjadi acuan bagi masyarakat Indonesia ketika ada pihak lain yang memberikan atensi besar terhadap budaya yang dimiliki tanah air.

Selain pameran karya seni, dalam pameran tersebut dipamerkan pula berbagai macam tarian daerah seperti “Bedhaya Sarpo Rodra" asal Jawa, “Taruna Jaya" dari Bali, dan "Burung Enggang" dari Kalimantan yang ditampilkan di area pusat kota Beograd, di jalan Knez Mihailova. Tak hanya itu, dalam gelaran tersebut ditampilkan pula permainan alat-alat musik tradisional Indonesia oleh beberapa musisi Serbia.​

Tari Saman, Tari Tradisional yang Sukses Torehkan Prestasi di Dunia

Keberadaan Taman Indonesia yang berdiri selama 20 tahun di Belanda

Warung makanan di Taman Indonesia Kallenkote, Steenwijkerland, Belanda
info gambar

Kepopuleran Indonesia di negara lain rupanya juga dijumpai di negeri kincir angin, Belanda. Apresiasi bahkan diberikan dalam bentuk keberadaan Taman Indonesia yang sudah berdiri selama 20 tahun serta berlokasi di desa Kallenkote, Steenwijkerland, pada area taman tersebut diketahui juga berada kebuh binatang dengan luas sekitar 1,5 hektare.

Pada area taman tersebut, bahkan berada warung makan yang hanya menjual masakan dan kudapan nusantara serta menawarkan berbagai produk Indonesia seperti kebaya, batik, hingga hiasan rumah yang terbuat dari batok kelapa dan cenderamata khas Indonesia lainnya.

Baru-baru ini, diselenggaran pameran wayang stories yang menampilkan koleksi wayang kulit dan wayang golek, yang merupakan koleksi pribadi warga Belanda dan koleksi dari Museum Tropen.

Deretan wayang dari tokoh protagonis, antagonis hingga hewan dipamerkan dalam kotak kaca di Taman Indonesia. Sementara itu, pertunjukkan wayang mini hasil karya seniman Dominique menampilkan koleksi tokoh wayang seperti sosok Rama, Sinta, dan Petruk, berukuran kecil sebesar kotak korek api.

Tak cukup sampai di situ, dalam gelaran tersebut juga diadakan aksi penari dari Sanggar Dwi Bumi yang menampilkan tarian Ramayana yang menutup rangkaian gelaran pada tanggal 27 Juni kemarin.

Deretan negara di atas tentu hanya sebagian kecil dari sekian banyak negara yang diketahui sudah sering melakukan apresiasi yang sama atas budaya Indonesia yang sampai ke masing-masing negara tersebut.

Karenanya, tak dimungkiri bahwa di samping derasnya budaya asing yang diterima masyarakat Indonesia, hal yang sama sejatinya juga dialami oleh berbagai negara lain yang di saat bersamaan menerima budaya lain termasuk dari Indonesia.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita sebagai masyarakat Indonesia menanamkan sikap bijak dan sesuai dengan porsinya seperti yang sudah dijelaskan sebelumnnya.

Ruud Gullit yang Berdarah Indonesia dan Fanatisme Masyarakat Ambon atas Timnas Belanda

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
AH
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini