Lia Putrinda Anggawa, Sosok Milenial Menginspirasi Pendongkrak Ekowisata Bahari

Lia Putrinda Anggawa, Sosok Milenial Menginspirasi Pendongkrak Ekowisata Bahari
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #InspirasidariKawan #NegeriKolaborasi

“Dulu saya kuliah Jurusan Ilmu Komunikasi, tapi saya memutuskan untuk berhenti," ucap seorang wanita berkulit sawo matang.

Takjub atas keberanian sosok pemuda berusia dua puluh tahunan yang memiliki nama lengkap Lia Putrinda Anggawa Mukti ini. Kenekatannya melepas sebuah gelar sarjana yang diidam-idamkan banyak mahasiswa, tentunya berdasarkan sebuah alasan.

Ia pernah berkata, “Jika kita melakukan lebih kepada alam, maka alam juga akan memberi lebih kepada kita. Apabila berani memulai, maka harus berani mengakhiri."

Pada awalnya, Lia, sapaan akrabnya, hanyalah remaja yang tidak mempunyai keistimewaan. Sebagai seorang gadis yang memiliki ayah bermata pencaharian sebagai nelayan, nuansa kehidupan pesisir pantai sudah menjadi keseharian. Terbiasa melihat ayahnya mencari ikan dengan hasil tangkapan melimpah, seketika sedikit demi sedikit mulai sirna saat tahun 2004.

Ikan-ikan mulai susah dicari, hingga akhirnya ayah Lia, Saptoyo menyadari bahwa ada suatu hal yang tidak beres. Kerusakan terumbu karang akibat jangkar kapal nelayan dan gundulnya hutan mangrove, telah menjadi pemicu munculnya musim paceklik di Laut Sendangbiru. Termasuk berimbas pula kepada berkurangnya jumlah tangkapan ikan nelayan.

Saptoyo mulai mengubah kebiasaan buruknya dari merusak menjadi merawat. Ia memupuk semangat untuk mengembalikan keindahan alam seperti menanami kawasan hutan mangrove dan Hutan Lindung Tambakrejo. Perjuangannya tidak selalu mulus, ia sering mendapatkan cibiran dan bahkan dianggap gila oleh beberapa warga sekitar.

Pak Saptoyo (kaos merah) dan Lia Putrinda (kaos hijau) | Foto: Dokumentasi Pribadi
info gambar

Ungkapan ‘buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya’, sepertinya sangat cocok dengan keberanian Saptoyo dan Lia. Menganggap ayah sebagai figur anutan, Lia menjadi ikut terjangkit virus cinta lingkungan. Hingga pengalaman pahit menghampiri mereka, Saptoyo, Lia, dan seorang rekan lain ditangkap oleh pihak kepolisian sebab tuduhan memasuki kawasan hutan tanpa izin pada tahun 2015.

Plengkung Gading Yogyakarta, Gapura dengan Segudang Cerita

Walaupun beragam rintangan untuk melestarikan alam datang bertubi-tubi, tidak akan pernah menyurutkan langkah mereka. Hal ini terbukti atas terbentuknya komunitas yang bernama Yayasan Bhakti Alam Sendang Biru. Sebuah wujud rasa cinta terhadap alam dengan cara menjaga dan menyayanginya.

Pada tahun 2018, Yayasan Bhakti Alam Sendang Biru telah memulihkan 20 hektare hutan mangrove dari total 73 hektare hutan mangrove di wilayah Tambakrejo. Selanjutnya, mereka memiliki target untuk kembali memperbaiki hutan mangrove sebanyak 117 hektar.

CMC Tiga Warna, wisata tak biasa

Pantai Tiga Warna | Foto: Dokumentasi Pribadi
info gambar

Sebelumnya, Yayasan Bhakti Alam Sendang Biru aktif dalam kegiatan menghijaukan kembali area hutan yang gersang. Namun, seiring berjalannya waktu, Yayasan Bhakti Alam Sendang Biru telah mengelola wisata pantai yang disebut CMC (Clungup Mangrove Conservation) Tiga Warna di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. CMC Tiga Warna meliputi enam pantai, yaitu Pantai Mini, Pantai Sapana, Pantai Watu Pecah, Pantai Clungup, Pantai Gatra, dan Pantai Tiga Warna.

Kepemimpinan Yayasan Bhakti Alam Sendang Biru diawali oleh Saptoyo. Namun, karena kepercayaan begitu besar terhadap anak sendiri, akhirnya koodinasi yayasan ini berpindah tangan kepada Lia hingga sekarang. Lia pun memutuskan fokus menjadi pejuang lingkungan dengan merelakan status kemahasiswaannya.

Lia mampu mengajak banyak warga Sendang Biru yang dahulu penjarah hutan atau pengguna bom ikan. Kini, justru tergabung dan terlibat dalam Yayasan Bhakti Alam Sendang Biru. Total ada sekitar 109 warga lokal yang dinaungi oleh CMC Tiga Warna, sebut saja salah satunya ialah Jhoni Rudi Hermawan sebagai penanggung jawab Marine Protected Area (MPA).

Menjelajahi Ekowisata Baru di Jakarta Utara

CMC Tiga Warna mengusung konsep ekowisata, dengan mengkolaborasikan antara ekologi, ekonomi, dan sosial budaya.

“Apabila pantai menyuguhkan keindahan, maka manusia harus memberikan kepedulian," begitu pendapat Lia.

Poin penting dari ekowisata adalah berwisata dengan menyisipkan unsur edukasi konservasi lingkungan agar dapat berkelanjutan. Mengunjungi kawasan CMC Tiga Warna, khususnya Pantai Tiga Warna, tidak boleh sembarangan. Sebagai area dengan label kawasan konservasi laut (marine protected area), Pantai Tiga Warna menerapkan aturan-aturan untuk mencegah kerusakan ekosistem akibat pariwisata.

Misalnya pengunjung harus melakukan reservasi terlebih dahulu jauh-jauh hari melalui kontak pada media sosial CMC Tiga Warna. Sebab, kawasan konservasi mempunyai batasan kemampuan (carrying capacity) jumlah pengunjung. Waktu yang diperbolehkan untuk mengunjungi Pantai Tiga Warna pun juga dibatasi, yaitu 2 jam per pengunjung.

Selain itu, CMC Tiga Warna juga rutin melaksanakan hari libur, yaitu setiap hari kamis untuk upaya pemulihan ekosistem. Pengunjung yang memasuki kawasan ini, juga akan diperiksa barang bawaannya yang berpotensi menjadi sampah. Tidak jarang, pengunjung akan menerima sanksi sosial atau materi apabila berani melanggar ketentuan, akibat membuang sampah di lokasi CMC Tiga Warna.

Sehingga, tidak hanya berusaha meningkatkan status ekonomi masyarakat lokal melalui kegiatan kepariwisataan CMC Tiga Warna. Sesungguhnya Lia bersama Yayasan Bhakti Alam Sendang Biru, juga berharap ada kesadaran dalam diri masyarakat untuk mengelola alam dengan baik.

Penghargaan dianggap bonus

Lia Putrinda di Kick Andy Show | Foto: Instagram @lia_putrinda
info gambar

Perjuangan Lia selama bertahun-tahun mulai dari nol untuk menyadarkan masyarakat sekitar sungguh membuahkan hasil luar biasa. Walaupun tidak tamat mengenyam pendidikan perguruan tinggi, jasa Lia kepada lingkungan patut diapresiasi. Berbagai penghargaan sudah ia raih dari banyak institusi.

Contohnya Juara 1 Penghargaan Pemuda Pelopor Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Jawa Timur tahun 2016, Pemuda Pelopor Konservasi Pesisir Kabupaten Malang tahun 2016, dan Juara Umum Pemuda Utama Jawa Timur dalam Rangka Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-90 tahun 2018.

Serta, mampu menjadi salah satu dari 72 Ikon Prestasi Indonesia Bidang Kewirausahaan Sosial oleh Penghargaan dari Unit Kerja Presiden Republik Indonesia tahun 2017. Bahkan, Lia dan Saptoyo juga sempat diundang dalam acara Kick Andy Show sebagai tokoh inspiratif.

Menikmati Liburan di Ekowisata Perairan Pulau Pramuka

Segala penghargaan yang diterima Lia, tidak membuatnya melambung tinggi ke angkasa. Ia merasa bahwa penghargaan hanyalah sebuah bonus atas kerja keras semua anggota Yayasan Bhakti Alam Sendang Biru. Baginya yang terpenting ialah tetap konsisten belajar dan membangun kelestarian alam.

Apabila wanita seusianya sedang berjuang menggapai cita-cita dan jabatan tinggi serta bangga mengenakan pakaian jas berdasi, ia rela menanggalkan itu semua untuk memilih jalan tidak biasa.

Lia adalah contoh wanita milenial hebat yang menjadi diri-sendiri demi melestarikan lingkungan. Ia sangat peduli atas nasib masyarakat sekitar dan anak cucu dengan cara terus merawat alam. Ia tidak sekadar memberikan label ekowisata pada tempat wisata yang dikelolanya, tetapi dengan sungguh-sungguh menerapkan aturan ketat.*

Referensi: Media Indonesia | Women’s Earth Alliance

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MP
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini