Ra Dot Inda Maila, Sebuah Falsafah Hidup Orang Mandailing

Ra Dot Inda Maila, Sebuah Falsafah Hidup Orang Mandailing
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #InspirasidariKawan #NegeriKolaborasi

Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dikenal sebagai bumi gordang sambilan, sebuah daerah paling selatan dari Ibu Kota Provinsi Sumatra Utara. Daerah yang memiliki kekayaan filosofi dalam mengarungi bahtera kehidupan.

Orang Sumatra juga dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kebiasaan meninggalkan kampung halaman menuju perantauan. Terutama bagi mereka anak-anak muda, sudah menjadi keharusan untuk berpetualang. Bertahan di kampung halaman di usia muda merupakan sebuah aib dan rasa malu yang tidak berkesudahan. Maka, merantau adalah sebuah pilihan bagi mereka yang menginginkan perubahan.

Banyak alasan yang membuat anak-anak muda Mandailing mengadu nasib di perantauan. Ada yang sekadar merantau, mencari kerja, melanjutkan pendidikan, dan lain-lain. Mahasiswa daerah yang menimba ilmu di perkotaan sering mengalami hambatan untuk mengikuti proses perkuliahan.

Belajar Rasa Toleransi Beragama dari Masyarakat Pulau Dewata

Tidak jarang materi menjadi penghambat seseorang berhenti kuliah di tengah jalan. Ketidakmampuan dalam mengikuti ritme hidup di perkotaan juga membuat seseorang gagal hanya sekadar untuk bertahan.

Lalu, bagaimana filosofi hidup orang Mandailing di Perantaun dalam menghadapi berbagai persoalan sehingga bisa survive dan sukses? Bagi Kawan yang sedang dan akan merencanakan hidup di perantauan, sangat cocok untuk mencontoh prinsip hidup mereka.

Sejatinya, selama manusia menggunakan akalnya untuk berfikir, pada akhirnya semua akan mencapai pada titik keyakinan. Kayakinan inilah yang akan menghasilkan energi untuk menghantarkan seseorang pada pencapaian.

Ra dot inda maila (Mau dan Tidak malu)

Foto: Instagram @mandailingpopuler
info gambar

Ra dot inda maila, yang artinya mau dan tidak malu. Bagi orang Mandailing, prinsip ini memiliki kandungan arti yang sangat dalam karena tidak semua orang mau dan mampu melakukannya. Modal mau saja tidak cukup, karena akan hilang begitu saja.

Jika rasa malu masih mendominasi diri untuk beraksi. Maka, kaki akan ragu untuk melangkah, mulut akan kaku untuk bicara, dan diri pun akan diam seribu bahasa. Bila demikian tamatlah riwayatmu dalam mencapai tujuan.

Mau dan tidak malu menghilangkan segala bentuk keraguan. Setiap orang pasti memiliki rasa malu di dalam dirinya. Rasa malu ini muncul dengan berbagai faktor, kadang-kadang akal tidak mampu menjelaskan untuk memberi alasan.

Seni Hidup Bahagia, Suatu Cara Capai Hidup yang Lebih Damai

Satu sisi, malu itu tidak salah ketika ditempatkan pada posisinya. Bahkan dianjurkan sebagai pendorong untuk memotivasi diri untuk berbuat. Semua ada porsinya, ada ukurannya, ada tempatnya dan ada waktunya. Malu untuk bergerak berarti berani menjadi gagal, berani menjadi gagal berarti tidak punya malu.

Malu menuntut ilmu berarti berani menjadi bodoh. berani menjadi bodoh berarti tidak punya malu. Jika tidak ingin dikenang sebagai orang bodoh yang gagal, sudah bodoh gagal lagi. Maka, tinggalkanlah jejak seorang pembelajar.

Selagi ada kesempatan dan peluang untuk mendukung proses pendidikan, karier, dan masa depan. Maka, dengan percaya diri singkirkanlah debu-debu rasa malu yang menempel pada diri. Mulailah menata dan berbuat yang mengarah pada pencapaian tujuan. Fokus pada rencana bukan apa yang orang katakan. Karena kesuksesan hanya akan berpihak pada mereka yang menempatkan dirinya sebagai pejuang.

Inda Angkon Sarupo (Memilih untuk Berbeda)

Rumah adat | Foto: Instagram @mandailingpopuler
info gambar

Setiap manusia pasti memiliki kebutuhan dan gaya hidup masing-masing. Jangan paksakan diri terluka hanya karena ingin dianggap sama dengan orang lain. Tidak perlu risau jika lingkungan menolak hanya karena memilih berbeda. Sebab bagi orang Mandailing, berbeda itu unik, istimewa, mudah dikenal, dan selalu menjadi pusat perhatian. Belum berbuat saja sudah dikenal apalagi lebih dari itu.

Jangan pernah takut melangkah hanya karena khawatir terlihat berbeda. Perbedaan itu tidak akan pernah membuat salah. Jika yang lain melangkah satu kali, Kawan harus dua langkah.

Suku Asmat, Titisan Para Dewa yang Mendiami Pulau Papua

Itulah yang menjadi filosofi hidup orang Mandaililng, memilih untuk berbeda disaat dunia mengatakan sama. Bisa jadi baik untuk Kawan dan mungkin juga tidak. Tidak ada salahnya mencoba mengikuti jejak hidup orang Mandailing.

Semua tergantung dengan kondisi dan cara pandang tentang kehidupan. Ada yang mundur karena tidak kuat dengan ujian, ada yang mundur karena keraguan dan ada yang bertahan karena keyakinan. Pada akhirnya semua adalah pilihan. Berhenti di tengah jalan atau tetap melangkah sampai pada tujuan.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AL
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini