Bukan Jawa Bukan Madura, Budaya Pendalungan Identitas Masyarakat Tapal Kuda Jawa Timur

Bukan Jawa Bukan Madura, Budaya Pendalungan Identitas Masyarakat Tapal Kuda Jawa Timur
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #InspirasidariKawan #NegeriKolaborasi

Probolinggo, sebuah daerah yang terletak di wilayah timur Provinsi Jawa Timur memang terasa seperti terpinggirkan. Banyak orang yang beranggapan bahwa Probolinggo, tidak memiliki keistimewaan berarti seperti pada wilayah Jawa Timur lain. Beberapa orang akan menyatakan bahwa penduduk Probolinggo merupakan orang Jawa, tetapi sebagian lain berkelakar ‘Madura Swasta’.

Sesungguhnya, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah dan juga tidak dapat dibenarkan secara utuh. Sebab, dua suku besar, yaitu Jawa dan Madura memang mendominasi kebudayaan di Probolinggo. Sehingga, terjadilah percampuran (akulturasi) kebudayaan itu yang disebut sebagai pendalungan.

Pendalungan Raya di tapal kuda memang berbeda

Peta Tapal Kuda | Foto: Yayasan Pendidikan Pesantren Zainul Hasan Genggong
info gambar

Tidak hanya Probolinggo, daerah tetangga, seperti Pasuruan, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi juga sama-sama menganut kebudayaan Pendalungan. Beberapa kota dan kabupaten ini terletak di wilayah Tapal Kuda. Penyebutan istilah ‘Tapal Kuda’ tidak terlepas dari sebuah alasan karena bentuk wilayahnya seperti sepatu kuda ketika dilihat dari peta.

Sehingga, penyematan nama Pendalungan Raya sangat cocok disandingkan dengan masyarakat wilayah Tapal Kuda. Sebutan ini diketahui berawal dari pernyataan Hatley, Sosiolog Australia pada tahun 1984 yang telah membagi enam wilayah kebudayaan Provinsi Jawa Timur menjadi enam, yaitu Arek, Tengger, Madura, Mataraman, Pendalungan, dan Using.

Pendalungan merujuk kepada sebutan (eksonim) yang diberikan oleh orang luar daerah kepada 'orang tapal kuda. Apabila di daerah Jawa Timur lain, pengaruh suku Jawa nampak begitu besar. Di 'tapal kuda', budaya Jawa dan Madura berkolaborasi membentuk harmonisasi.

Cerita Jepara yang Dulunya Bukan Bagian dari Pulau Jawa

Orang Pendalungan juga mengucapkan ‘mas' atau 'mbak’ untuk memanggil orang lain yang umumnya lebih tua dari mereka. Namun, terkadang juga menggunakan 'cong' untuk laki-laki dan 'bing' untuk perempuan, seperti bahasa Madura.

Hal inilah yang menjadikan keunikan dan ciri khas bagi 'orang tapal kuda'. Sehingga, tidak mengherankan apabila kebanyakan orang Pendalungan merupakan bilingual bahkan trilingual. Orang Pendalungan bisa berbahasa Jawa walau terdengar logat Madura, ataupun dapat pula berbahasa Madura meski bukan berasal dari Madura.

Kebanyakan dari orang Pendalungan mampu berbahasa Jawa walaupun hanya mampu pada tahapan bahasa kasar (ngoko). Dan juga, orang Pendalungan bisa berbahasa Madura meskipun tidak sama persis seperti bahasa Madura asli. Penggunaan bahasa bercampur-campur ini yang dikenal sebagai bahasa Jawa Timur dialek Madura atau bahasa Pendalungan.

Pada aspek keseniannya, budaya Pendalungan juga mengkombinasikan kebudayaan Jawa dan Madura. Sebut saja pada Tari Glipang, tarian khas Probolinggo yang diciptakan oleh pemuda asal Madura bernama Seno Truno. Glipang memadukan beberapa kesenian, di antaranya Topeng Ghetak Madura, Seni Hadrah, Rudhat, Samman, dan Pencak Silat.

Keberadaan budaya Madura pada kehidupan masyarakat 'tapal kuda', tidak terlepas dari kebiasaan orang Madura yang gemar bermigrasi. Orang Madura yang menetap di 'tapal kuda', dapat diterima dengan baik, hingga membentuk suatu kebudayaan baru yang disebut Pendalungan.

Mengapa Bahasa Jawa Tak jadi Bahasa Nasional?

Sosok di balik deklarasi Pendalungan

Budayawan Sudjiwo Tedjo | Foto: Indopolitika.com
info gambar

“Kamu Orang Madura apa Orang Jawa?”, pertanyaan semacam itu yang menimbulkan kebimbangan di benak orang Pendalungan. Tidak sepenuhnya masyarakat 'tapal kuda' bangga dengan identitas kebudayaan Pendalungan-nya. Hingga banyak pula 'orang tapal kuda' yang merasa tidak memiliki identitas budaya sebagai sebuah keunggulan dan citra diri. Hal ini tidak terlepas dari stigma negatif yang selalu berkaitan dengan orang Madura.

Apa yang akan Kawan GNFI pikirkan ketika mendengar kata Madura? Beberapa oknum dan sumber menyebutkan bahwa orang Madura identik dengan kekerarasan. Alhasil sebagai penerus kebudayaan Madura, beberapa orang Pendalungan lebih memilih untuk tidak mengakui kebudayaannya sendiri, terutama anak muda.

Banyak dari anak muda Pendalungan yang mulai meninggalkan bahasa Pendalungan dan lebih memilih untuk memaksakan diri menggunakan bahasa Jawa. Padahal, dialek Madura sangat terdengar jelas walaupun mereka berusaha menutupinya.

Peristiwa ini tentunya dapat disebut sebagai kemunduran budaya. Sehingga, jika dibiarkan terus-menerus, pasti akan menggerus bahkan menghilangkan budaya Pendalungan. Kisah pilu inilah yang membuat segelintir pihak berusaha membangkitkan kembali gairah untuk mencintai Budaya Pendalungan, di antaranya Sudjiwo Tedjo dan Ilham Zoebazary.

Telusuri Sejarah Bahasa Sanskerta dan Teknik Menulisnya

Pemilik nama lengkap, Agus Hadi Sudjiwo ini merupakan seorang budayawan ternama yang lahir di Jember. Keresahan menggelayuti dirinya ketika melihat generasi muda Pendalungan yang cenderung malu untuk mengakui kebudayaannya sendiri.

Selain itu, adapula Ilham Zoebazary, Dosen Universitas Jember, yang juga semakin giat menggelorakan kebudayaan Pendalungan, setidaknya di dalam masyarakat 'tapal kuda' sendiri dulu. Ilham juga mencoba mengkaji dan memaparkan lebih mendalam karakteristik orang Pendalungan melalui sebuah buku berjudul Orang Pendalungan: Penganyam Kebudayaan di Tapal Kuda.

Dari sisi Pemerintah, wali kota Probolinggo Habib Hadi Zainal Abidin dan bupati Jember, juga menyemarakkan deklarasi di wilayah kepemimpinannya sebagai ibu kota Pendalungan sejak tahun 2015. Diikuti pula dari daerah lain di 'tapal kuda', yang juga membentuk komunitas atau pagelaran kebudayaan setiap tahunnya.

Hal ini tentunya menjadi angin segar bagi bangkitnya budaya Pendalungan. Namun, harapan untuk meningkatkan kecintaan terhadap budaya Pendalungan tidak akan berhasil apabila tidak timbul kesadaran dari dalam diri masyarakat sendiri.

Oleh karena itu, apabila dahulu saya termasuk salah satu masyarakat 'tapal kuda' yang malu dengan kebudayaan Pendalungan. Apakah Kawan tertarik mengenal lebih jauh mengenai Budaya Pendalungan?*

Referensi: Bhirawa Online | Buku Orang Pendalungan: Penganyam Kebudayaan di Tapal Kuda

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MP
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini