Desa Apar Kota Pariaman, Berwawasan Lingkungan dan Edukasi Ekosistem Pesisir

Desa Apar Kota Pariaman, Berwawasan Lingkungan dan Edukasi Ekosistem Pesisir
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI#InspirasidariKawan#NegeriKolaborasi

Desa Apar merupakan salah satu desa yang terletak di bibir pantai barat Sumatra. Desa Apar terletak di Kecamatan Pariaman utara, Kota Pariaman. Salah satu visi dari Desa Apar ialah mewujudkan desa wisata yang bersih, aman, nyaman, tentram, dinamis, berseni, dan berbudaya religius yang berkualitas untuk menjadikan Desa Wisata Edukasi masyarakat lokal dan internasional.

Misi dari Desa Apar salah satunya ialah menjadikan Desa Apar pesisir yang modern dan berwawasan lingkungan hidup. Kawasan hutan mangrove di Desa Apar awalnya belum berkembang seperti sekarang. Awalnya, kawasan hutan mangrove hampir punah dan hanya terdapat rawa dan tanaman nipah. Selain itu, masyarakat yang tinggal disekitar kawasan mangrove mengambil serta memanfaatkan kayu mangrove sebagai bahan bakar untuk memasak dan juga dijual.

Komunitas Diving Club Kota Pariaman merasa khawatir dengan keadaan hutan mangrove di Desa Apar yang cukup mengkhawatirkan. Tak ingin kawasan hutan mangrove punah, komunitas Diving Club Kota Pariaman tergerak untuk melestarikan hutan mangrove yang didukung oleh pemerintah setempat. Kegiatan ini juga merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan ekosistem pesisir agar lestari dan selamat dari ancaman kepunahan.

Bersama dengan PT Pertamina, pemerintah, dan perangkat Desa Apar bersama-sama membangun kawasan hutan mangrove dengan melakukan aksi penanaman 10.000 batang bakau dan juga membuat jalur tracking. Pembuatan jalur tracking untuk para pengunjung yang ingin melihat keindahan kawasan hutan mangrove, sekaligus sebagai sarana edukasi mengenai tanaman mangrove dan ekosistem pesisir.

Beberapa Contoh Kekaguman Masyarakat Dunia pada Budaya Indonesia

Dikelola pemerintah setempat

Jalur Tracking Mangrove Park
info gambar

Pada tahun 2021, dengan adanya bantuan dari Kementrian Kelautan dan Perikanan RI untuk mengubah kawasan hutan mangrove yang baru. Sebelumnya, jalur tracking hutan mangrove sudah mulai rusak dan tidak terawat lagi. Pemerintah Kota Pariaman bersama dengan KKP serta perangkat desa dan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) merehabilitasi kawasan hutan mangrove, serta mempercantik jalur tracking yang baru.

Untuk jalur tracking yang baru tidak lagi memakai kayu. Semuanya telah menggunakan semen agar lebih kokoh dan tahan lama. Selain itu, ditambah dengan adanya gazebo serta menara pandang untuk melihat keindahan kawasan hutan mangrove dari atas menara.

Pengelolaan kawasan hutan mangrove dikelola oleh Bumdes serta bersama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pariaman. Dengan adanya kerja sama ini, berharap nantinya akan terus melestarikan dan menjaga kawasan hutan mangrove dan menjaga lingkungan ekosistem pesisir agar jauh dari kepunahan.

Kisah Ki Manteb, Dalang Penggemar Kung Fu hingga Pertemuan dengan Soekarno

Tempat hidup flora dan fauna

Penangkaran Penyu Desa Apar
info gambar

Selain tanaman mangrove atau bakau, terdapat fauna yang hidup di kawasan hutan mangrove. Fauna tersebut antara lain burung, kepiting, ikan, biawak, udang, dan lainnya. Ada juga tempat konservasi penyu yang ada di kawasan hutan mangrove.

Selain mendapatkan edukasi mengenai mangrove, masyarakat dan pengunjung juga bisa melihat penyu dan melepaskan anak penyu atau tukik ke pantai. Apabila kawasan hutan tetap terjaga, ekosistem pun ikut terjaga baik dari fauna dan flora yang hidup di kawasan hutan mangrove.

Upaya yang dilakukan dalam menjaga kawasan hutan mangrove ialah melakukan rehabilitasi kawasan hutan mangrove, serta memperbanyak jenis tanaman hutan mangrove agar lebih asri. Adapun jenis mangrove yang hidup di kawasan hutan mangrove Desa Apar, yaitu rhizophora apiculata, jenis mangrove yang tumbuh pada tanah berlumpur dan tergenang serta memiliki tinggi rata-rata 30 meter. Selain itu ada juga nypa fructican yang memiliki tinggi mencapai 4--9 meter.

Sensasi Berselancar Sambil Menikmati Sunset di Pantai Cimaja

Menjaga ekosistem mangrove di kawasan pesisir pantai tidak hanya sekadar untuk melestarikan lingkungan atau pun terhindar dari kepunahan, tetapi juga sebagai tanggul alami apabila terjadi bencana tsunami di Kota Pariaman. Tanaman mangrove bisa menjadi peredam gelombang tsunami yang menuju ke daratan.

Selain mangrove, pemerintah serta aparat desa yang ada di sekitar kawasan pesisir pantai juga melakukan penanaman pohon pinago di dekat bibir pantai. Hal ini dilakukan agar menyadarkan masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Tak hanya itu, penanaman pohon pinagp juga sesuai dengan salah satu misi dari pemerintah Kota Pariaman, yaitu mewujudkan kota pesisir modern, dinamis dan berwawasan lingkungan hidup serta mitigasi bencana.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RR
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini