Mengulik Desa Adat Sendi di Pacet Mojokerto

Mengulik Desa Adat Sendi di Pacet Mojokerto
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #InspirasidariKawan #NegeriKolaborasi

Kabupaten Mojokerto merupakan salah satu daerah di Jawa Timur. Daerah ini terbagi menjadi 18 kecamatan dan 5 kelurahan. Setiap kecamatan memiliki daya potensi masing-masing, mulai dari alam, budaya, sejarah, sampai kuliner.

Salah satunya adalah kecamatan Pacet yang berada di dekat dengan lereng Gunung Welirang. Daerah ini termasuk daerah yang yang tetap mempertahankan budaya dan tradisinya. Salah satu desa yang mempertahankan hal tersebut adalah Desa Sendi.

Desa Sendi berada di sebelah ujung utara kecamatan Pacet. Desa ini merupakan desa yang sering dilalui oleh para pengendara sebagai jalur alternatif, dari Mojokerto ke Batu atau sebaliknya. Tempatnya yang sangat dekat dengan Gunung Welirang dimanfaatkan sebagai objek daya tarik wisata Pemkab Mojokerto.

Beberapa yang saat ini terkenal adalah wisata WET Sendi, Sendi Adventure, dan Petung Sewu. Dibalik keindahan wisatanya, kearifan lokal di desa ini masih dijunjung tinggi oleh masyarakat asli desa sekitar.

Sejarah Desa

Ritual Adat di Desa Sendi | Foto: mongabai.co.id
info gambar

Menurut sesepuh desa, yaitu Mbah Toni, desa ini sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan, di zaman Kerajaan Majapahit, desa ini sudah berdiri. Desa ini juga mempunyai nilai sejarah tinggi. Di zaman kolonial, tepatnya tahun 1925, Belanda mengeklaim tanah adat desa. Kondisi semakin parah ketika Agresi Militer II Belanda.

Pada waktu itu, Desa Sendi dijadikan markas oleh para pejuang untuk perang gerilya. Setelah mengetahui bahwa markasnya berada di Desa Sendi, penjajah Belanda meluluhlantakan seluruh desa. Sehingga, mau tidak mau, desa ini tidak dihuni selama beberapa tahun.

Wujud Nyata dari SDGs, Inilah 4 Desa Mandiri Energi di Indonesia

Setelah beberapa tahun ditinggalkan, pada tahun 1999 warga keturunan Desa Sendi bertekad kembali menduduki desanya. Hal ini dilakukan demi melanjutkan warisan nenek moyang masyarakat Sendi.

Desa Sendi memiliki adat budaya yang unik dibanding desa-desa lainnya di Kabupaten Mojokerto. Salah satunya adalah ritual Ngangsu Banyu Kahuripan. Ritual ini dilakukan dengan mengambil air di suatu tempat yang bernama Bhabakan Kucur Tabud.

Masyarakat desa mulai dari anak-anak sampai orang dewasa mengikuti prosesi ritual ini. Kegiatan ini dilakukan setiap bulan tepatnya pada Jumat Legi. Tujuan diadakan ritual ini adalah sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia yang telah diberikan.

Dibangunnya kembali peradaban desa Sendi juga mewujudkan empat pilar yang selama ini dipegang teguh masyarakat lokal. Empat pilar tersebut di antaranya.

1. Tata Kuasa

Prinsip awal masyarakat di desa ini adalah memastikan bahwa penguasaan berada di tangan rakyat. Masyarakat desa takut jika diambil kepemilikannya dan dijadikan sebuah industri akan membahayakan ekosistem alam.

2. Tata Kelola

Masyarakat Sendi sangat berhati-hati dalam mengelola hutan mereka. Masyarakat percaya bahwa lingkungan memiliki peran yang saling berkaitan dengan manusia. Apalagi di desa tersebut ada yang namanya hutan larangan, di mana tidak boleh ada aktivitas manusia didalamnya, bahkan mengambil lumut saja tidak diperbolehkan.

Barania, Sekeping Surga yang Dibangun dengan Dana Desa

3. Tata Produksi dan Distribusi

Dalam memanfaatkan alam, masyarakat desa ini sangat selektif, semisal ingin mengekploitasi hutan, mereka harus pilih-pilih. Mereka melakukan tersebut agar ekosistem di dalamnya terjaga. Mereka juga sering menanam tanaman bambu disekitar tebing-tebing. Hal itu dilakukan untuk menjaga sumber mata air dan menahan tanah agar tidak erosi.

4. Tata Konsumsi

Prinsip masyarakat desa ini dalam tata konsomsi adalah apa yang kita tanam, hal itulah yang akan kita makan. Sehingga desa ini juga memberdayakan masyarakatnya untuk mengatur swasembada pangan mereka sendiri.

Tempat-tempat sakral

Goa Puthuk Kursi | Foto: Disparpora Kab Mojokerto
info gambar

Ada tiga tempat yang dikramatkan oleh warga Desa Sendi. Tempat pertama adalah Gunung Kursi atau biasa dikenal dengan Phutuk Kursi. Tempat ini merupakan tempat sakral dan disana juga terdapat sebuah Goa.

Pada zaman dahulu pejabat Majapahit diangkat dan diberhentikan di tempat ini. Tempat kedua adalah sanggar. Tempat ini digunakan untuk tempat adu ilmu atau sekadar tempat untuk berlatih ilmu kanuragan. Terakhir adalah Kucur Tabut. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, tempat ini merupakan tempat sumber mata air suci masyarakat sekitar.

Menjelajahi 4 Desa Wisata di Nusa Tenggara Barat

Dibalik tata kelola sistem adat yang dijunjung tinggi, sampai saat ini masyarakat Sendi belum diakui keberadaannya oleh Pemerintah. Tanah desa mereka diklaim milik dari Perhutani.

Perjuangan masyarakat sendi dihimpun dalam suatu wadah yang disebu FPR (Forum Perjuangan Rakyat). Dalam hal ini Pemkab Mojokerto sudah ikut andil dalam menyelesaikan problematika tersebut, tetapi dari pihak dari Kemendagri melalui Pemprov Jatim masih belum menyetujuinya.

Padahal desa adat berhak untuk memperoleh payung hukum. Apalagi desa ini sangat ketat dalam mengatur kelestarian alam agar tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan ataupun dinikmati oleh generasi penerus.*

Referensi:Mongabai.co.id | Jawapos.com |selamatkanbumi.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RS
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini