Menyoal Susu Beriklan 'Naga' yang Dipercaya Bisa Atasi Covid-19

Menyoal Susu Beriklan 'Naga' yang Dipercaya Bisa Atasi Covid-19
info gambar utama

Belakangan, viral video di media sosial soal konsumen di sebuah supermarket yang ramai-ramai memborong berkarton-karton susu kaleng kemasan--merek Bear Brand. Patut diduga, perbuatan sejumlah warga itu sebagai bentuk panic buying bersamaan dengan PPKM Darurat di Jawa dan Bali yang diterapkan pemerintah sejak 3-20 Juli 2021 mendatang.

Memang belakangan ini susu kaleng Bear Brand menjadi produk yang paling banyak dicari oleh masyarakat. Bahkan, susu yang berasal dari sapi ini dikabarkan telah langka di sejumlah daerah. Hal itu terjadi karena banyak orang menganggap susu tersebut memiliki khasiat untuk membantu meningkatkan imunitas tubuh, sehingga baik dikonsumsi oleh semua orang terutama pasien yang terkontaminasi Covid-19.

Menurut Yanti (39), warga Sawangan, Depok. Dirinya mengaku telah seminggu terakhir juga kesulitan membeli susu cap beruang tersebut. Selama ini dia memang rajin mengonsumsi susu tersebut untuk menjaga daya tahan tubuh.

"Saya kesulitan cari barangnya. Sudah cari ke mana-mana tapi stoknya kosong," ungkapnya, mengutip Liputan6.

Mengenal Susu Beras yang Kaya Manfaat untuk Kesehatan

Menanggapi hal ini, Pengurus Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gappmmi), Irwan S Widjaja, menyatakan aksi borong yang dilakukan oleh masyarakat terhadap produk tertentu merupakan respon atas kondisi saat ini. Apalagi dengan meningkatnya kasus Covid-19 yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.

"Kalau yang kita tahu sejak dulu kan susu itu (Bear Brand) katanya bisa membantu orang yang keracunan, mengalami sakit perencanaan. Cuma perihal disebut itu (video) berkaitan dengan Covid-19, itu pasti. Sekarang lagi heboh, apa-apa Covid-19, karena stigma orang ketakutan, jadi apa-apa dibeli," jelasnya, masih dari sumber yang sama.

Irwan pun mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan pembelian terhadap sebuah produk secara berlebihan, hingga tidak akan menimbulkan gejolak harga di pasaran.

Tingginya permintan akan susu cap beruang itu sekaligus meningkatkan harga produk tersebut. Bedasarkan pantauan di sejumlah eCommerce, harga susu ini banyak dijual sekitar Rp15.000-Rp17.000 per kaleng, dari harga normalnya di bawah Rp10.000. Beberapa nitizen juga mengunggah kelakuan latah warga yang rela membeli susu beruang dengan harga yang cukup tinggi, yakni Rp50 ribu per satu kaleng.

Terkait hal itu, Direktur Corporate Affairs Nestle Indonesia, Debora R Tjandrakusuma, mengatakan selama pandemi Covid-19 pihaknya memaksimalkan upaya untuk memenuhi permintaan konsumen akan produk-produk bernutrisi, salah satunya produk Bear Brand.

Mengenai adanya kenaikan harga susu Bear Brand di pasaran, Deborah mengatakan pihaknya tidak melakukan kenaikan harga atas produk-produk Nestle Indonesia, termasuk produk susu Bear Brand. Dirinya juga menyatakan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, pihaknya tidak dapat menentukan harga jual akhir produknya.

Ia mengatakan, yang dapat dilakukan oleh Nestle Indonesia adalah berusaha semaksimal mungkin untuk memasok terus produk susu Bear Brand agar dapat memenuhi permintan para konsumen.

"Saat ini semua pabrik dan pusat distribusi kami beroperasi," katanya.

Susu 'Naga' yang moncer di toko obat China

Merunut sejarahnya, susu cap beruang mulai dipasarkan tahun 1906 di Swiss dengan nama Barenmarke. Susu yang sekarang berada di bawah bendera Nestle ini mempunyai dua bentuk saat pertama kali diperkenalkan, yaitu dalam bentuk cair dan bubuk. Kemudian pada tahun 1930-an, susu ini tersedia di beberapa kawasan termasuk negara-negara Asia Tenggara, salah satunya Indonesia.

Namun, susu ini baru populer sekitar tahun 70-80 an, padahal saat itu susu Bear Brand banyak dijual di toko kelontong milik orang Tionghoa atau di toko obat China. Karena hal tersebut juga, banyak orang yang menyakini bahwa susu ini sama berkhasiatnya untuk penyembuhan seperti obat-obat di toko obat China tersebut.

Kepercayaan ini sudah berlangsung sejak lama dan turun-temurun hingga saat ini. Hal inilah yang menjadi latar belakang munculnya 'Naga' sebagai ikon dalam iklan susu Bear Brand. Karena hanya dijual di toko-toko tertentu, maka tak banyak diketahui masyarakat luas, tetapi begitu diiklankan secara luas, maka susu beruang makin populer.

Pengguna Twitter, Pribadi Pranata, mengatakan bahwa ia merupakan salah satu orang yang punya andil di balik ide iklan susu beruang tersebut. Ia menceritakan, bahwa tahun 2005, agency periklanan tempatnya bekerja berhasil memenangkan pitching, untuk mengerjakan iklan Bear Brand alias susu cap beruang.

Saat itu menurutnya, Bear Brand terkenal mampu memulihkan stamina dan menetralisir racun. Juga banyaknya orang yang mencari susu cap beruang ini di toko obat China atau toko kelontong yang memang banyak dikelola oleh orang China.

"Karena insight tersebut, maka kami berkesimpulan bahwa kata kunci dari Bear Brand yang lebih relevan untuk pasar Indonesia tahun 2005 adalah: dipercaya turun temurun (heritage), khasiat dari Cina," kata Pribadi.

Susu di Indonesia: Dari Minuman Terlarang hingga Penyempurna Gizi

Selain itu, lanjutnya, di beberapa kota, susu beruang dikenal punya khasiat untuk mengatasi mabuk. Ini yang juga membuat Pribadi dan timnya membuat iklan susu beruang dengan tagline "The Drunken Master".

"Klien senang karena upaya komunikasi tersebut berhasil meningkatkan awareness dan sales. Maka kami ditantang meneruskan campaign-nya. Saat brainstarom, muncullah ide memakai beruang dengan lokasi di China. Tapi kok nggak nyambung ya? Polar Bear itu bukan dari Cina, kami pusing" ujarnya.

Dari kesumiran itu, tiba-tiba mucul ide lain untuk menggunakan sosok Naga. Ini dengan asumsi bahwa Naga merupakan makhluk legenda China yang dipercaya turun-temurun, dan darahnya berkhasiat.

"Bear Brand kan susu legenda dari toko China yang dipercaya turun-temurun karena khasiatnya, lagian bakalan kocak kalau kita bikin iklan pakai naga untuk susu sapi yang logonya beruang. Pasti bakal diomongin orang," jelasnya.

Konsep itu kemudian disetujui. Hingga akhirnya teruang dalam sebuah iklan TV pada tahun 2006. Sosok naga ini kemudian jadi ikon susu beruang selama hampir puluhan tahun kemudian

Bisakah atasi Covid-19?

Kepopuleran susu beruang belakangan ini karena diyakini masyarakat bisa mempercepat penyembuhan bagi pasien Covid-19. Padahal dari pihak Nestle sendiri tidak pernah memberikan klaim bahwa produknya punya khasiat seperti informasi yang beredar di pasaran.

Melihat fenomena tersebut, dokter asal University of Maryland, Amerika Serikat (AS), Faheem Younus ,memberi tanggapannya.

"My Indonesia Friends. This milk (Bear Brand), or vitamin or ivermectin has no role in COVID Treatment. (susu ini, atau vitamin atau ivermectin tidak memiliki peran dalam pengobatan COVID," cuitnya melalui akun Twitter @FaheemYounus, Minggu (4/7/2021).

Hal senada diungkapkan oleh Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban, yang mengatakan, minum susu cap beruang tak bisa mengobati Covid-19. Zubari menjelaskan, kandungan susu beruang tidak bisa membunuh virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Artinya, minum susu cap beruang tak lantas akan membuat pasien Covid-19 sembuh.

Ia menyampaikan, tidak ada jenis susu yang lebih baik di antara satu dengan lainya. Setiap produk susu yang dijual di pasaran umumnya memiliki kandungan gizi yang sama. Hal ini juga berlaku pada produk susu beruang yang dijual di pasaran. Produk susu apa pun biasanya kaya akan kandungan protein, karbohidrat, serta dilengkapi viamin dan mineral.

"Kecuali susu kental manis yang kadar proteinnya rendah," ucapnya yang dikutip dari CNN Indonesia.

Konsumsi Susu di Indonesia Masih Rendah dan Hubungannya dengan Stunting

Namun bukan berarti susu beruang tak punya khasiat. Dalam kemasannya, pihak produsen mencantumkan bahwa produknya punya kandungan nutrisi seperti protein, lemak, serta vitamin, yang dibutuhkan oleh tubuh. Vitamin yang terkandung di dalamnya cukup lengkap, mulai dari vitamin A, B1, B2, B6, B12, C dan D.

Jumlah kalori dan lemaknya yang rendah membuat susu ini dianggap cocok dikonsumsi oleh orang yang sedang menjalankan diet. Dalam satu kaleng susu beruang, terdapat kalori sebanyak 220 kkal, dengan lemak 7 gram, protein 6 gram dan karbohidrat 9 gram.

Memang, hal tersebut membuat susu cap beruang tidak ada bedanya dengan merk susu lainnya di pasaran. Namun produk ini diklaim menggunakan 100 persen susu sapi murni berkualitas tinggi dengan proses strelisasi dan tanpa penambah bahan pengawet.

Kendati baik dikonsumsi untuk menjaga kesehatan, penerapan protokol kesehatan tetap menjadi yang utama agar tidak tertular Covid 19. Seperti menggunakan masker KN95, jangan berjabat tangan, hindari pertemuan dalam ruangan. Lalu dapatkan vaksinasi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini