Melihat Rumah Adat dan Kuburan Batu di Desa Kete Kesu Tana Toraja

Melihat Rumah Adat dan Kuburan Batu di Desa Kete Kesu Tana Toraja
info gambar utama

Ada begitu banyak desa wisata di Indonesia yang menarik untuk dikunjungi. Setiap desa umumnya memiliki keunikan yang menjadi daya tarik masing-masing, baik dari segi kebudayaan, objek wisata, kreativitas masyarakat, produk kerajinan, kuliner khas, bahkan sejarahnya.

Salah satu desa wisata yang bisa dikunjungi saat bertandang ke Tana Toraja adalah Desa Kete Kesu. Desa ini berada diKete Kesu, Paepalean, Kecamatan Sanggalangi, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Kete Kesu terkenal dengan adat dan kehidupan tradisional masyarakatnya yang masih dilestarikan hingga saat ini. Di sana, wisatawan dapat melihat rumah adat, kuburan batu yang diperkirakan berusia 500 tahun, hingga gua yang di dalamnya penuh dengan kuburan.

Desa ini termasuk kawasan cagar budaya dan menjadi pusat dari berbagai upacara adat Toraja, meliputi pemakaman adat rambu solo, upacara memasuki rumah baru atau rambu tuka, dan ritual adat lain yang umumnya dilakukan di tempat ini pada bulan Juli hingga Desember.

Desa Kete Kesu | @Syahtuah Mohamed Shutterstock
info gambar
Rambu Solo, Jenazah Abadi di Tebing Toraja

Rumah adat tongkonan

Sejauh mata memandang di Desa Kete Kesu terdapat rumah adat Toraja yaitu tongkonan berjejer rapi. Keunikan rumah adat ini ialah dibuat tanpa menggunakan paku sedikitpun dan dibuat hanya dengan menumpuk kayu sedemikian rupa.

Penampilannya mirip dengan rumah panggung. Ciri khas tongkonan adalah pintu rumah yang dibuka ke arah atas dan atapnya terbuat dari tumpukan buritan yang dilapisi ijuk hitam. Bentuk atapnya seperti tanduk kerbau. Rata-rata rumah adat di Kete Kesu telah berusia sekitar 300 tahun lho!

Tongkonan dibangun menghadap utara karena kepercayaan masyarakat Suku Toraya yang percaya bahwa para leluhurnya berasal dari utara. Mereka pun meyakini jika orang yang telah meninggal dunia akan berkumpul kembali dengan arwah para leluhur yang ada di utara.

Di bagian bawah Tongkonan umumnya memiliki kolong. Ini biasanya dijadikan kandang hewan peliharaan. Untuk bagian dalam rumahnya dibagi beberapa area, salah satunya untuk tempat penyimpanan jenazah dari anggota keluarga atau kerabat yang belum bisa dimakamkan.

Ada salah satu tongkonan yang di dalamnya terdapat museum berisi koleksio benda-benda adat kuno Toraja, mulai dari senjata, ukiran, keramik, patung, hingga bendera merah-putih.

Kuburan di Toraja | @Oscar Espinosa Shutterstock
info gambar
10 Hal Unik Yang Perlu Kalian Tahu Dari Tana Toraja

Kuburan batu

Selain melihat rumah adat tongkonan, daya tarik lain dari Desa Kete Kesu adalah kuburan batu. Ya, di sana terdapat banyak kuburan batu yang usianya diperkirakan lebih dari 500 tahun. Kuburan batu ini bentuknya menyerupai perahu dan di dalamnya tersimpan sisa-sisa tengkorak dan tulang manusia. Namun, bentuknya pun ada yang mirip kerbau atau babi dengan hiasan ukiran atau pahatan.

Beberapa makam adat di Kete Kesu ditutup dengan jeruji besi untuk mencegah pencurian patung jenazah adat yang disebut tau-tau. Ada pula jenazah-jenazah yang terlihat jelas dari luar beserta harta yang dikubur di dalamnya.

Semua kuburan batu menggantung di atas gua dan selalu terlihat adanya sesaji berupa botol minuman, pakaian, rokok, hingga benda-benda kesayangan orang yang telah berpulang.

Kuburan batu digunakan bagi masyarakat Toraja yang mampu melaksanakan upacara rambu solok. Upacara ini merupakan ritual adat kematian yang tujuannya adalah menyempurnakan arwah agar sampai ke alam roh yang disebut puya.

Menggelar upacara ini bukan hal yang murah. Sebab, salah satu syaratnya adalah memotong beberapa ekor kerbau, yang lagi-lagi tak murah. Maka, hanya orang-orang tertentu yang punya kesanggupan melakukan upcara adat ini.

Di area kuburan batu, wisatawan dapat melihat jenazah-jenazah disemayamkan di setiap sudut tempat. Jenazah tersebut dibagi dua kategori, yaitu jenazah to maluka, yang sengaja disemayamkan dan disimpan tetapi masih dianggap sebagai orang sakit. Ada pula jenazah to mate, yang sedang dalam proses menuju upacara rambu solo.

Sebelum agama Islam dan Kristen mulai masuk ke Tana Toraja, masyarakat di sana menganut sebuah kepercayaan yang disebut Aluk Tadolo. Masyarakat Toraja percaya bahwa kehidupan itu sifatnya hanya sementara dan kematian merupakan titik awal menuju keabadian.

Perlu diketahui bahwa upacara kematian menjadi acara besar di Tana Toraja. Jika ada yang meninggal dunia, upacara bisa dilakukan berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun setelahnya. Semakin kaya orang tersebut, upacara kematian pun bisa berlangsung lebih lama lagi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini