Menabrak Kucing Bakal Kena Sial, Masih Dipercaya Masyarakat Indonesia

Menabrak Kucing Bakal Kena Sial, Masih Dipercaya Masyarakat Indonesia
info gambar utama

Kucing merupakan salah satu hewan perliharaan favorit manusia di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Saking favoritnya, hewan ini banyak pecinta yang membuat komunitas Cat Lovers dan mendedikasikan dirinya untuk melindungi kucing.

Latar belakang utama adanya sebuah komunitas ini selain untuk merawatnya adalah karena maraknya kejadian kecelakaan tabrak kucing. Para pelaku biasanya meninggalkan begitu saja hingga tidak sedikit kucing yang menjadi cacat fisiknya bahkan ada yang mengalami kematian.

Yang menarik, ada mitos yang cukup jamak di Indonesia, bahwa bagi sebagian orang masih memercayai menabrak kucing akan membawa sial bagi pelakunya. Bahkan kesialan ini tidak main-main, bisa sakit, jatuh dari motor, apabila yang menabrak seorang wanita hamil maka kandungannya akan mengalami keguguran, hingga kematian yang akan didapatkan.

Memang, selain sebagai hewan yang disukai banyak orang, kucing juga dikaitkan memiliki sebuah keramat atau sakral. Maka dari itu lahir mitos jika Anda menabrak kucing, maka suatu kesialan akan mengikuti. Keyakinan seperti ini hampir tersebar luas di daerah di Indonesia. Selain itu, perjalanan panjang kucing dalam perdaban dunia membuat semakin kuatnya mitos tersebut.

Namanya Busok, Kucing Leopard dari Madura yang Ingin Diakui Dunia

Kucing yang memiliki nama ilmiah felis silvestris catus atau felis catus, adalah sejenis mamalia karnivora dari keluarga Felidae. Falidae adalah famili mamalia yang berevolusi dengan cepat dan anggotanya yang paling dikenal adalah kucing peliharaan. Jenis lainya juga banyak dikenal, seperti singa, harimau, macan tutul, dan jaguar.

Ada 37 spesies Felidae yang diketahui di dunia saat ini. Moyang Felidae diduga berasal dari dataran Asia dan menyebar ke benua lainya lewat jembatan darat. Selain singa, genus felidae umumnya soliter, kucing domestik melakukannya, namun membentuk koloni kucing liar.

Pada masa silam, diyakini bahwa nenek moyang kucing adalah miacis, binatang liar pada masa Eosen yang sosoknya mirip musang, kira-kira 50 juta tahun silam. Kucing sudah berbaur dengan kehidupan manusia paling tidak sejak 6.000 tahun SM, dari kerangka kucing di Pulau Siprus.

Sementara itu, orang Mesir Kuno dari 3.500 SM telah menggunakan kucing untuk menjauhkan tikus atau hewan pengerat lain dari lumbung yang menyimpan hasil panen.

Orang Mesir kuno memang terkenal karena kesukaan terhadap berbagai hal yang berbau kucing. Mereka memiliki artefak kucing, mulai dari patung berukuran besar hingga perhiasaan yang rumit. Mengutip dari Live Science, sebagian besar penghormatan tersebut, karena orang Mesir kuno mengira dewa dan penguasa mereka memiliki kualitas seperti kucing.

Pada tahun 1800-an, ditemukan suatu kuburan atau tepatnya "situs" berisikan 300.000 mumi kucing dalam keadaan masih utuh, yang menandakan dahulu kucing memang suatu hewan yang spesial. Orang Mesir kuno menganggap kucing sebagai penjelmaan Dewi Bast, juga dikenal sebagai Bastet atau Thet.

Pada saat itu, orang Mesir kuno punya aturan khusus bahwa membunuh kucing adalah kejahatan besar dan pelakunya akan mendapat hukuman mati. Kemudian jika ada kucing yang mati kadang dimumikan seperti halnya manusia. Keterkaitan ini memang erat hubungannya dengan posisi kucing yang bukan saja dihormati tapi juga dianggap suci bagi bangsa Mesir.

Kucing yang menemani peradaban-perababan dunia

Semua ini bermula dari cerita Dewa Matahari Mesir kuno yang bernama Re. Dikisahkan suatu ketika Re marah besar pada manusia. Saking murkanya, Re mengirimkan putrinya yang berkepala singa, Sakhmet, untuk menghukum manusia.

Sakhmet pun turut ke bumi dan membalaskan dendam ibunya. Sakhmet digambarkan sebagai mahluk yang kejam dan ganas. Pada saat pembantaian, Re sadar bahwa dirinya membuat kesalahan dengan menurunkan Sakhmet ke Bumi.

Agar menenangkan Sakhmet, Re menghujani putrinya dengan anggur merah sebagai pengganti darah. Sakhmet merasa puas dan kemudian tertidur pulas. Sejak saat itu, sosok kucing menjadi lambang dari keseimbangan baik dan buruk.

Kucing menjadi rujukan dari singa yang menjadi fungsi simbol dalam ikonografi kaum bangsawan. Menurut beberapa penelitian tentang Egyptology, simbol kucing besar menjadi tanda bahwa raja aman dalam kekuasaannya dan percaya diri dalam mengatasi kekacauan.

Jangan Dipelihara! 6 Jenis Kucing Lucu Endemik Indonesia Ini Ternyata Hampir Punah

Posisi kucing juga cukup dihormati bagi bangsa Arab, sebagian dari warga mereka masih mempercayai mitos tentang kucing tersebut. Menurut mereka, kucing adalah hewan yang akan memberikan tanda ketika rumah mereka akan kedatangan tamu.

Konon ketika Nabi Muhammad SAW pernah hendak berkunjung ke rumah salah satu sahabatnya yang bernama Abu Hurairah, dan yang pertama kali menjemput kedatangan Rasulullah adalah kucing milik Abu Hurairah. Setelah sebelumnya kucing itu terlebih dulu telah memberikan tanda bahwa rumahnya akan kedatangan tamu.

Hal yang sama terjadi di China dan Yunani kuno. Kucing dianggap hewan yang dipercaya sebagai utusan Dewa. Pada saat itu dikisahkan bahwa ada sebuah desa yang pernah dilanda wabah tikus. Hingga mereka memohon kepada dewa dan kemudian dewa ini mengutus kucing untuk memangsa tikus-tikus hama tersebut.

Sementara bagi orang Yunani kuno, hewan kucing juga di anggap mulia bagi mereka. Mereka percaya bahwa kucing adalah hewan kesayangan dewa. Bahkan, seorang filsuf terkenal dari Yunani, Socrates, ikut merayakan hari kucing di kota Athena.

Tapi di Eropa, pada abad pertengahan kucing malah dianggap berasosiasi dengan penyihir dan sering dibunuh seperti dibakar atau dilempar dari tempat tinggal. Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa takhyul seperti inilah yang menyebabkan wabah Black Death menyebar dengan cepat.

Saat itu pernyataan Paus menyebutkan bahwa kucing yang berkeliaran dengan bebas telah bersekutu dengan setan. Karena pernyataan ini, banyak kucing dibunuh di Eropa. Penurunan jumlah populasi kucing menyebabkan meningkatnya jumlah tikus, hewan pembawa penyakit pes yang sesungguhnya.

Beberapa orang kemudian mengira wabah Black Death muncul akibat dosa mereka membunuhi kucing. Kisah ini sangat mungkin menjadi awal mula mitos membunuh kucing akan berujung pada kesialan.

Di Indonesia, mitos tentang kucing ini paling santer berkembang dalam legenda Jawa. Dahulu, kucing adalah hewan yang menjadi korban untuk pesugihan di tanah Jawa. Dalam dunia spiritual, kucing hitam biasanya dikaitkan dengan kesialan. Namun, tulang hewan itu merupakan salah satu jimat yang dianggap paling berkhasiat oleh beberapa orang.

Jimat tulang kucing hitam dipercaya dapat membuat penggunanya menjadi "tak terlihat", membawa ketenaran, dan mengembalikan kekasih. Selain itu, salah satu mitos kucing hitam di Indonesia yang terkenal adalah jika mayat yang dilangkahi oleh hewan ini, maka mayat tersebut akan bangkit lagi. Kemudian jasadnya akan dikuasai oleh roh jahat yang dibawa kucing hitam.

Menyikapi mitos secara baik

Kuatnya kepercayaan mitos masyarakat bahwa menabrak kucing akan membawa sial, harus tetap ditanggapi secara bijak. Menurut Training Director The Real Driving Center (RDC), Marcell Kurniawan, mengatakan bahwa terlepas dari hal itu mitos atau fakta, sebagai pengemudi yang defensive harus dapat memilah dan memilih risiko mana yang risikonya lebih rendah.

"Misalnya bila terpaksa harus menabrak kucing ketimbang menghindar dan lebih membahayakan karena misalnya ada kendaraam dari arah berlawanan, maka pengemudi harus memilih untuk menabrak kucing," ucap Marcell, dalam Kompas.

Menurut Marcell, hal ini lebih baik dari pada harus mencelakai diri sendiri, penumpang dan kendaraan lain." Namun, bila masih aman untuk dihindari coba untuk dihindari, dengan catatan harus melihat situasi dan kondisi," katanya.

Inilah Nama Kereta Api yang Diadaptasi dari Nama Hewan

Hal senada juga diutarakan oleh Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Suswana. Menurutnya, jika dengan menghindari bintang justru membuat celaka, tentu jadi tidak relevan. Apalagi tambahnya, saat berkendara memang sulit untuk menghindari bahaya dari binatang yang menyebrang.

"Susah (menghindari) kalau kucing, karena nyebrangnya lebih cepat, berbeda dengan anjing yang masih bisa diantisipasi. Maka dari itu pengemudi juga harus fokus dan cermat. Tapi juga pengemudi terlanjur menabrak binatang apapun (tidak hanya kucing), segera berhenti dan kuburkan," jelasnya.

Terlepas dari mitos, kucing merupakan hewan yang tak seharunya dibunuh atau disiksa. Mitos tersebut mungkin saja dapat terjadi pada mereka yang dengan sengaja mencelakai kucing hingga sampai membunuhnya.

Jika seseorang tak sengaja melakukannya, maka perlu bertanggung jawab dengan menguburkannya, serta mendoakan kucing tersebut. Mitos ini juga dapat dijadikan sebagai pengingat agar sealu berhati-hati dalam berkendara.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini