Ritual Ruwat Desa, Representasi Rasa Cinta kepada Sang Babat Alas di Desa Pagerngumbuk

Ritual Ruwat Desa, Representasi Rasa Cinta kepada Sang Babat Alas di Desa Pagerngumbuk
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #InspirasidariKawan #NegeriKolaborasi

Masyarakat pedesaan masih mempercayai adat istiadat yang diwariskan oleh pepunden atau sang babat alas. Salah satu tradisi yang masih dilakukan sampai saat ini adalah ritual ruwat desa.

Tentunya beberapa desa di Indonesia melakukan ruwat desa dengan cara berbeda dan memiliki ciri khas tersendiri. Ada salah satu desa yang masih melaksanakan ritual tersebut, yaitu desa Pagerngumbuk di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Desa Pagerngumbuk terbagi menjadi tiga dusun, yaitu dusun Pager, dusun Ngumbuk, dan dusun Bendet. Ketiga dusun tersebut memiliki cara tersendiri untuk melaksanakan ritual ruwat desa.

Uniknya, di masing-masing dusun memiliki makam sang babat alas meliputi pepunden Mbah Noyo berada di dusun Pager, pepunden Dewi Kilisuci (Mbah Bajang), Mbah Glugosari, Mbah Glugo Samin, Syekh Ibnu, Mbah Jalaluddin, Mbah Joko Lelono di dusun Ngumbuk, dan pepunden Mbah Mustopa serta Mbah Muta’alim di dusun Bendet. Ritual ruwat desa sangat dipercayai sebagai sejarah asal-usul desa Pagerngumbuk. Tradisi tersebut dilakukan untuk mengenang sang babat alas dan sosok lainnya.

Tradisi Suku Sasak, Lumuri Lantai dengan Kotoran Kerbau untuk Perkokoh Rumah

Prosesi ruwat desa di Dusun Ngumbuk

Persembahan Kerbau Hitam untuk Ruwat Desa di Dusun Ngumbuk
info gambar

Tradisi tersebut diadakan di dusun Ngumbuk dengan tata cara yang tradisional. Rangkaian Ruwat Desa berupa menyembelih satu ekor kerbau hitam. Persyaratan menyembelih kerbau ini berasal dari Syekh Ibnu.

Persyaratan menyembelih kerbau ini merupakan perwujudan dari beratnya syiar agama Islam yang dilakukan oleh Syekh Ibnu, yang beratnya seperti memikul kerbau. Selain itu, terdapat rangkaian acara ruwat desa meliputi mengeluarkan syukuran atau asahan berisi makanan atau aneka jajanan yang ditutupi dengan jarik atau sewek dan tidak boleh menggunakan kain.

Nguyeuk Seureuh dalam Tradisi Pernikahan Adat Sunda

Memberi uang 6 riyal atau bisa dirupiahkan, lalu dipikul dengan meja bambu dan diiringi ke balai desa. Acara syukuran atau makan-makan dilakukan warga Pagerngumbuk di balai desa. Selanjutnya, daging kerbau dibagikan kepada warga Pagerngumbuk.

Pada malam harinya, diadakan pertunjukkan wayang kulit dimulai pukul 23.00 sampai subuh. Sebelum pertunjukkan wayang kulit, dibuka dengan tarian ronggeng. Pertunjukkan wayang kulit ini biasanya menampilkan lakon Babat Alas Negara Samartoloyo dengan pemerannya yakni Seno sebagai sang babat alas.

Lakon tersebut menceritakan proses pembabatan alas di Negara Samartoloyo pada masa dahulu. Lakon itu dimainkan oleh dalang dan diiringi tembang dari sinden. Tujuannya adalah warga Pagerngumbuk dapat menikmati pertunjukan yang ditampilkan.

Prosesi ruwat desa di Dusun Pager

Berbeda pula dengan pelaksanaan ruwat desa di dusun Pager, begitu sederhana tapi sarat akan filosofi kehidupan. Sebenarnya, tujuan dari mengeruwat desa adalah agar desa yang ditinggali itu selamat, penduduknya selamat dan berkecukupan, selalu diberikan kesehatan dan rezeki yang berkah, serta sawahnya subur.

Pelaksanaan ruwat desa di dusun Pager selalu bertepatan dengan HAUL (hari ulang tahun atau hari lahir) Mbah Noyo. Pada pagi harinya, penduduk Pager melakukan nyekar atau ziarah secara pribadi ke makam Mbah Noyo. Masyarakat Pager juga mengadakan syukuran di langgar atau surau (tempat beribadah umat muslim) pada malam hari.

Syukuran tersebut berupa nasi, lauk-pauk, aneka jajanan, dan air minum. Acara syukuran tersebut dilaksanakan secara bersama-sama agar kerukunan dalam masyarakat tetap bertahan.

Nyangku Panjalu Bukan Sekadar Tradisi Adat tetapi juga Aset Budaya

Prosesi ruwat desa di Dusun Bendet

Masyarakat Dusun Bendet cukup Islami meskipun di dusunnya ada makam pepunden Mbah Mustopa dan Mbah Muta’alim. Namun, mereka memiliki cara tersendiri untuk melakukan ruwat desa dengan mengadakan syukuran di masjid, berupa nasi yang ditaruh di piring lalu dihidangkan kepada orang-orang.

Perwujudan perilaku tersebut sebagai bentuk rasa syukur atau biasanya disebut sedekah. Hal yang menarik, jika penduduk di sana diajak syukuran atau makan bersama-sama di makam pepunden tidak mau datang karena mereka berpikir Kuburan kok tempatnya makan, kalau mau ke makam diniati untuk ziarah bukan makan”. Begitulah pemikiran masyarakat Bendet dalam memandang kebudaayan di tempatnya.

Akan tetapi, yang menjadi titik perayaan terbesar dan meriah tradisi ruwat desa berada di dusun Ngumbuk karena banyak makam pepunden serta sosok lain dan dikenal sebagai dusun pertama yang didirikan. Selain itu juga, masyarakat desa Pagerngumbuk menganggap dusun Ngumbuk paling tua dibandingkan dusun Pager dan dusun Bendet.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

EF
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini