Hari Pustakawan, Mengenal Tokoh dan Cikal Bakal Pendidikan Perpustakaan di Tanah Air

Hari Pustakawan, Mengenal Tokoh dan Cikal Bakal Pendidikan Perpustakaan di Tanah Air
info gambar utama

Hari ini, Indonesia kembali memperingati hari besar Nasional, yaitu Hari Pustakawan yang tepat jatuh setiap tanggal 7 Juli sejak tahun 1990. Menjadi peringatan ke-31 di tahun ini, Hari Pustawakan pertama kali dicanangkan oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Indonesia yang ternyata memiliki kaitan erat dengan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI).

Mengutip laman perpustakaan Universitas Airlangga, pada kisaran tanggal yang sama yaitu 5 hingga 7 Juli di tahun 1973, didirikan IPI dengan tujuan meningkatkan profesionalisme pustakawan Indonesia.

Berangkat dari hal tersebut, pencanangan hari pustakawan yang diinisiasi Perpunas diharapkan dapat membuat profesi pustakawan semakin berkembang mengikuti kemajuan zaman dan lebih berperan aktif bagi peningkatan literasi masyarakat Indonesia.

Tak dimungkiri, di era saat ini masih ada segelintir kalangan yang belum memahami betul apa makna dan peran dari seorang pustakawan yang sebenarnya. Jika didefinisikan secara singkat, pustakawan merupakan sebutan bagi orang yang bekerja dalam bidang perpustakaan atau kerap kali disebut sebagai ahli perpustakaan.

Namun jika bicara soal tanggung jawab yang dimiliki, seorang pustakawan bertanggung jawab dalam menghimpun, mengelola, menyajikan dan menyebarluaskan informasi yang terdapat di perpustakaan, agar sesuai dengan kebutuhan informasi yang diinginkan oleh masyarakat.

Di samping itu, seorang pustakawan jug memegang peran penting untuk upaya pengembangan literasi dalam berbagai cara, mulai dari pelatihan, pendirian taman baca, pembagian buku, menggelar lapak baca, dan masih banyak lagi.

Wajah Baru Perpustakaan Nasional yang Semakin Milenial

J.N.B. Tairas, tokoh pustakawan yang bercita-cita jadi ahli ekonomi

Potrer diri J.N.B Tairas
info gambar

Memiliki nama lengkap Jan Ngion Benyamin Tairas, pria kelahiran 19 Januari 1929 asal Kotamobagu, Sulawesi Utara, ini merupakan pustakawan pertama yang mewakili Indonesia dan sekaligus menjadi pemakalah dalam gelaran International Conference on Cataloguing Principles (ICCP) yang dilaksanakan di Paris, Prancis, pada Oktober 1961.

Melansir publikasi pada laman perpustakaan Universitas Diponegoro, Tairan merupakan seorang pustakawan yang menjalani karir sejak tahun 1952. Dirinya mengabdikan diri dalam dunia perpustakaan sepanjang hidupnya hingga wafat pada tanggal 27 Mei 2004.

Siapa sangka, jika menjadi seorang pustakawan ternyata bukan cita-cita awal yang dimiliki oleh Tairas, dirinya termasuk salah satu orang Indonesia yang masih mengenyam sistem pendidikan Belanda pada jenjang sekolah dasar hingga menengah.

Saat lulus dari sekolah tingkatan setara SMA pada tahun 1952, Tairas diceritakan memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Makasar, dan bercita-cita menjadi ahli ekonomi. Namun karena terhalang keadaan keuangan, Tairas muda pun akhirnya melamar pekerjaan dan diterima di Perpustakaan Rakyat Makassar yang pada akhirnya menjadi titik awal dirinya menggeluti profesi pustakawan.

Bukan Pustakawan Biasa

Perjalanan karir Tairas hingga menjadi pustakawan nasional

J.N.B. Tairas
info gambar

Dua tahun setelah bekerja tepatnya di bulan Oktober 1954, Tairas bertolak ke Jakarta guna mengikuti Kursus Pendidikan Ahli Perpustakaan (KPAP) yang merupakan program Angkatan ke-3 pada kala itu, di mana semua pengajar pada kursus tersebut mendapatkan pendidikan perpustakaan di Belanda.

Berkat potensi dan ketekunannya, berselang dua tahun kemudian Tairas diminta untuk menjadi pengajar paruh waktu untuk angkatan berikutnya. Dirinya juga menjadi guru pada kursus tertulis Pembimbing Pendidikan Masyarakat, Jurusan Perpustakaan di Kantor Pusat Perpustakaan Rakyat, Jawatan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Pengajaran pada tahun 1956.

Pada tahun 1959, untuk meningkatkan kemampuan keilmuannya di bidang perpustakaan Tairas bertolak ke New Zealand untuk mengikuti pendidikan profesional yang bertempat di The National Library Service. Tairas menamatkan pendidikan di New Zeland tersebut dengan membuat makalah yang berjudul “Toward to The National Library of Indonesia”.

Di tahun yang sama, Tairas merupakan sosok yang mengemukakan ide pendirian Perpustakaan Nasional (Perpusnas), walau kenyataannya pendirian Perpusnas baru terlaksana 30 tahun kemudian, tepatnya di tahun 1989 melalui dasar Keputusan Presiden RI Nomor 11.

Sekembalinya dari New Zealand pada tahun 1960, Tairas menjadi dosen tetap KPAP yang merupakan cikal bakal berdirinya Jurusan Ilmu Perpustakaan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, yang masih ada hingga saat ini.

Sepanjang perjalanan kariernya menjadi seorang Pustakawan, Tairas telah melahirkan banyak karya dalam bidang katalogisasi dan klasifikasi yang sangat penting dalam dunia perpustakaan. Beberapa di antaranya yaitu Perturan Katalogisasi Indonesia (1980), Pedoman Tajuk Subyek Perpustakaan (1990), dan Simplikasi Katalog Suatu Trend Katalogisasi Masa Kini (1995).

Karya-karya Tairas bahkan masih banyak digunakan di berbagai perpustakaan sebagai alat dalam pengolahan bahan Pustaka hingga saat ini.

Pria Ini Buka Perpustakaan Untuk Cerdaskan Bangsa Di Tempat Yang Mengejutkan

Cikal bakal pendidikan pustakawan di Indonesia

Pendidikan perpustakaan
info gambar

Profesi pustakawan memang tidak sepopuler profesi lain di Indonesia, namun peran dari profesi satu ini mengemban tugas besar nan mulia dan sama penting bagi perkembangan generasi, terutama di bidang literasi.

Karena itu, tidak heran jika saat ini program studi Ilmu Perpustakaan masih diutamakan oleh banyak perguruan tinggi di tanah air, guna menciptakan para pustakawan yang kompeten bagi perkembangan dan kemajuan generasi bangsa Indonesia.

Lantas, bagaimana perkembangan pendidikan pustakawan Indonesia yang ada sejak dulu hingga saat ini?

Pendidikan pustakawan di Indonesia dimulai dengan berdirinya program Kursus Pendidikan Pegawai Perpustakaan (KPPP), yang kemudian berubah menjadi Kursus Pendidikan Ahli Perpustakaan pada tahun 1955, dan diikuti oleh J.N.B. sebagaimana seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Melalui proses panjang dan beberapa kali perubahan, KPAP kemudian berubah menjadi Sekolah Perpustakaan dan dilebur dengan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Indonesia (FKIP UI) pada tahun 1962.

Selanjutnya, pendidikan perpusatakaan berubah menjadi Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (JIP FSUI) pada tahun 1964. Mulai tahun 2002, nama Fakultas Sastra berubah menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), dan di tahun 2004 jurusan ilmu perpustakaan UI sudah mengantongi akreditasi A hingga saat ini.

Dari perjalanan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa program studi Ilmu Perpustakaan yang dimiliki UI merupakan studi perpustakaan yang paling pertama dan tertua di tanah air.

Bukan hanya UI, saat ini berbagai perguruan tinggi tanah air juga memiliki program studi perpustakaan yang tak kalah kompeten, di antaranya Universitas Padjajaran, Universitas Islam Negeri Alauddin, dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, dan masih banyak lagi.

Masih Langka, 5 Jurusan Kuliah Jenjang Sarjana Ini Hanya Ada Satu di Indonesia

Konten di atas sebagian memakai konten yang ada di Wikipedia. Untuk melihat yang lainnya, silakan klik tautan berikut Arsip Wikipedia. Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini