Napak Tilas Sunan Gunung Jati Keraton Kasepuhan Cirebon, Menyisakan Wasiat yang Sarat Arti

Napak Tilas Sunan Gunung Jati Keraton Kasepuhan Cirebon, Menyisakan Wasiat yang Sarat Arti
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #InspirasidariKawan #NegeriKolaborasi

Kreteg Pangrawit yang merupakan gerbang utama berupa jembatan itu menjadi portal untuk merasakan kembali sisa-sisa gugusan sejarah, terekam di setiap sudut Keraton. Tiap-tiap lekuk dan susunan bangunan yang berderet harmonis, memutar kembali memori masa-masa kekuasaan Kesultanan Cirebon.

Arsitektur Keraton Kasepuhan yang bergaya Majapahit, Hindu juga Islam, bahkan Eropa hingga Cina, diramu dan berpadu dengan kearifan tanah Cirebon. Dengan tepat merepresentasikan akulturasi budaya yang terjadi di dataran Cirebon, sebagai tempat bertemunya dua kutub budaya besar di nusantara, yaitu Jawa dan Sunda.

Keraton Kasepuhan Cirebon menyimpan singgasana tempat dahulu. Setiap Sultan memerintah dan membuat keputusan atas wilayah kekuasaan Kesultanan Cirebon yang mulanya terbentang dari Jaga Bayan di utara, hingga menyusuri Kali Sapu di selatan.

Di tempat ini, dahulu pernah memerintah seorang Sultan yang sangat berpengaruh, menjadi penguasa Kesultanan Cirebon dari 1479 hingga 1568 Masehi. Namanya abadi hingga kini di hati masyarakat, pepatah hingga wasiatnya masih dipegang teguh khususnya oleh masyarakat Cirebon. Ialah Syekh Syarif Hidayatullah atau kemudian digelari dengan sebutan Sunan Gunung Jati, yang telah meletakan dasar-dasar filosofi kehidupan masyarakat Caruban (Cirebon).

Nostalgia Penjara Glodok, Rumah Tahanan Hatta dan Koes Bersaudara

Munculnya Pembaharu di Tanah Caruban

Sebagai salah seorang dari Wali Songo, Sunan Gunung Jati menjadi pembaharu masyarakat kala itu. Peran dan pengaruhnya termanifestasi pada berbagai aspek kehidupan, dari mulai pengokohan ekonomi melalu perdagangan, sampai kebudayaan, keagamaan, juga dalam pemerintahan.

Di bawah kekuasaan Sunan Gunung Jati, Kesultanan Cirebon berkembang pesat dan kian meluaskan sayapnya melalui kerjasama dengan berbagai negeri dari beragam penjuru mata angin seperti Malaka, Campa, Arab, India dan Cina.

Cirebon menjadi pangkalan pelabuhan jalur perdagangan dan pelayaran, karena letaknya di pesisir utara Jawa yang merupakan pertemuan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Beberapa daerah yang tercatat menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Cirebon di bawah pemerintahan Sunan Gunung Jati kala itu adalah Banten, Sunda Kelapa dan Raja Galuh.

Petatah-petitih Sunan Gunung Jati

Simbol Keraton Kasepuhan Cirebon
info gambar

Kearifan sosok Sunan Gunung Jati semasa hidupnya, membuat setiap amanat yang dititipkan olehnya selalu berusaha dihidupkan masyarakat hingga hari ini. Pesan, amanat, atau nasehat itu diuntai dalam bahasa kawi (sastra). Menancap dan menafasi setiap sendi kehidupan tanah Caruban.

Amanat-amanat tersebut kemudian direkam di dalam ingatan masyarakat dengan sebutan Petatah Petitih yang berisi 42 kalimat sarat makna bersumber dari ucapan Sunan Gunung Jati. Petatah Petitih itu tertanam lintas generasi, bahkan relevan hingga hari ini.

Tepo saliro den adol” yang berarti tampilkan perilaku yang baik, “angadahna ing perpadu” takrifnya jauhi pertengkaran, dan “aja ilok ngamad kang durung yakin” yang bermakna jangan mencela sesuatu yang belum terbukti kebenarannya, adalah sejumput dari Petatah Petitih yang ditinggalkannya.

Melihat Rumah Adat dan Kuburan Batu di Desa Kete Kesu Tana Toraja

Wasiat “Ingsun Titip Tajug Lan Fakir Miskin”

Salah satu wasiat paling terkenang yang ditinggalkan Sunan Gunung Jati adalah “Ingsun Titip Tajug Lan Fakir Miskin” yang memiliki arti saya titip masjid dan fakir miskin. Kalimat ini sangat dikenal, khususnya oleh masyarakat Cirebon dan menjadi dasar dari kehidupan masyarakat Cirebon hingga hari ini. Wasiat tersebut berkonsekuensi pada dua dimensi hubungan manusia, yaitu hubungannya dengan Tuhan sekaligus hubungan sosialnya dengan sesama manusia.

Dengan wasiatnya, Sunan Gunung Jati meminta masyarakat untuk selalu memakmurkan masjid, mengisinya dengan ibadah-ibadah kepada Tuhan dan amalan saleh lainnya. Seraya mengingatkan manusia untuk selalu memupuk jiwa sosial dengan membantu sesama. Sunan Gunung Jati meninggalkan wasiat bermakna luhur sehingga menghujam pada nurani manusia sebagai hamba Tuhan sekaligus sebagai makhluk sosial.

Mengenal Gastronomi dan Perannya Terhadap Diplomasi Kuliner Indonesia

Tradisi Ngisis sebagai salah satu bentuk napak silas Sunan Gunung Jati

Keraton Kasepuhan memiliki berbagai tradisi yang masih dijaga kelestariannya hingga hari ini. Salah satunya adalah tradisi Ngisis, di mana setiap malam satu Suro dalam penganggalan Jawa, Keraton Kasepuhan mengadakan pagelaran wayang kulit yang telah berusia sekitar 500 tahun.

Wayang-wayang kulit pusaka itu hanya dipertunjukkan satu tahun sekali pada tradisi Ngisis, oleh dalang dengan dibantu para abdi dalem di Museum Pusaka Keraton Kasepuhan. Kebudayaan dan tradisi memang memiliki tempat khusus di hati masyarakat Cirebon.

Maka, selama masa hidupnya, Sunan Gunung Jati turut menggunakan kebudayaan sebagai media berdakwah, sehingga metode dakwahnya dikenang damai dan penuh toleransi dengan tidak menghilangkan kultur kebudayaan setempat.

Mangkatnya Sunan Gunung Jati tidak lantas menghilangkan semua residu kehidupannya. Ada wasiat yang masih tertanam, juga pusaka yang masih tersimpan. Hidup sang sunan yang diisi dengan penuh kearifan telah membekas begitu dalam, seiring semangatnya mengingatkan manusia untuk selalu mengenal Tuhan dan menyebarkan kebaikan.

Referensi:Kompas.com ׀ Republika.co.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IL
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini