Sosok di Balik Terpilihnya Pulau Komodo Sebagai Bagian dari 7 Keajaiban Dunia

Sosok di Balik Terpilihnya Pulau Komodo Sebagai Bagian dari 7 Keajaiban Dunia
info gambar utama

Aktivis lingkungan hidup yang pernah menjadi Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Nurul Almy Hafild, atau karib disapa Emmy Hafild, Sabtu (3/7/2021) meninggal di Rumah Sakit (RS) Pondok Indah, Jakarta setelah sebelumnya sakit kanker paru-paru. Emmy yang juga pernah memimpin Greenpeace Asia Tenggara, meninggal terpapar Covid-19 setelah sebelumnya menderita kanker.

Sesuai keterangan keluarga, almarhumah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Minggu (4/7) pukul 10.00 WIB. Berangkat dari rumah duka di Jalan Kenanga No.39 Bintaro, Jakarta Selatan, pemakaman dilakukan dengan protokol kesehatan.

Selain aktif di berbagai gerakan serta pernah menjadi penasihat di Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK), Emmy Hafild tercatat sebagai Ketua DPP Partai Nasdem bidang Maritim. Emmy juga dianggap sebagai penjaga moralitas politik NasDem.

Deretan Artis Indonesia yang Peduli Lingkungan

Debutnya dalam menyuarakan lingkungan hidup dan sosial dirinya lakukan sejak usia muda. Perempuan asal Pertumbukan, Sumatra Utara, itu juga pernah menjadi Direktur Walhi periode 1996-1999. Lain itu, beliau juga malang melintang selama 30 tahun dalam gerakan lingkungan.

Majalah Time pernah menganugerahkan gelar ''Pahlawan Planet" pada tahun 1999. Saat itu dirinya menyuarakan kritik atas PT Freeport yang menambang di Papua.

Emmy juga pernah menjadi Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara. Sebelum tutup usia, Emmy memegang posisi sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Komodo Kita. Selain konsern di bidang lingkungan, Emmy juga terlibat aktif dalam gerakan anti-korupsi di Indonesia.

Dirinya tercatat sebagai co-founder dan Direktur Eksekutif Transparency International Indonesia (TII), sebuah organisasi anti-korupsi yang berbasis di Jakarta.

Tahun 2015, dirinya terlibat dalam aksi menolak upaya pelemahan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui revisi atas Undang-Undang Nomor 30 tahun 2002 tentang KPK. Dirinya tidak pernah canggung menyampaikan opini, meski tahu bahwa pendapatnya tidak dipedulikan oleh mereka yang dikritiknya.

Sosok Emmy sebagai aktivis hanyalah satu dari berbagai sisi yang dimilikinya. Direktur Eksekutif Walhi Nasional, Nur Hidayat, juga mengenangnya sebagai pemimpin yang memiliki gaya komunikasi khas.

"Mbak Emmy kami kenang sebagai sosok yang selalu peduli dengan kondisi keluarga sahabatnya," ungkapnya dalam Antara.

Hal itu disampaikan oleh Risma Umar sebagai Dewan Nasional Walhi yang menegaskan bahwa kemampuan Emmy Hafild dalam mengkonsolidasikan gerakan masyarakat sipil dari berbagai sektor dan isu yang telah teruji. Khususnya pada peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di tanah air, seperti pada masa reformasi dan juga memimpin perhelatan Indonesia People Forum, Bali PrepCom pada 2002.

Sudah menyuarakan keadilan dan anti diskriminasi sejak kecil

Emmy lahir di Sumatra Utara, 3 April 1958. Ia sejak kecil menyerukan keadilan dan anti-diskriminasi, hal ini karena dirinya melihat langsung ketidakadilan itu saat berbagai fasilitas di perkebunan hanya boleh dinikmati oleh keluarga pegawai perkebunan.

Saat itu, ayahnya adalah seorang pegawai perkebunan sekaligus pendukung Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Saat Orde Baru, PSII dianggap terlarang dan Emmy kecil pernah mendapatkan perlakuan tak mengenakkan.

Masuk bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), sang ayah ditangkap pihak berwajib dengan alasan korupsi. Menurut penuturan keluarga, penangkapan itu terjadi karena ayahnya tidak mau menjadi anggota partai Golkar.

Saat kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), ia pun aktif dalam berbagai aksi dan organisasi yang mengkritisi pemerintahan Orde Baru. Lulus dari jurusan Agronomi IPB, Emmy memperoleh gelar master dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat dalam bidang Ilmu Lingkungan tahun 1994. Ia juga bergabung ke Yayasan Indonesia Hijau yang digeluti selama dua tahun.

Karirinya di lembaga swadaya masyarakat melesat cepat, ia masuk ke Walhi. Ia menjadi Direktur Walhi selama dua periode. Selama 34 tahun, dia terjun di lingkungan hidup, mulai dari mahasiswa hingga akhir hayat. Emmy pernah tergabung dalam berbagai organisasi lingkungan hidup, antara lain di Yayasan Indonesia Hijau, Walhi hingga jadi Direktur Greenpeace Asia Tenggara.

Dua Pemuda ini Terpilih untuk Mengikuti Program Lingkungan Hidup di Rusia

Dirinya juga pernah menjadi penasihat di Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Pada 2017, Emmy memutuskan dalam sistem politik, dan berlabuh di Partai Nasdem. Dia pun pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Nasdem.

Sandra Moniaga, Komisioner Pengkajian dan Penelitian Komnas HAM mengatakan, Emmy menjadi seorang teman yang selalu berbagi ilmu dan berani menyampaikan pendapatnya tanpa ragu. Sandra menilai, Emmy adalah seorang yang sangat peduli pada lingkungan hidup, menghormati kebhinekaan dan demokrat sejati. Menjelang lulus kuliah, Emmy mengajak Sandra untuk bekerja LSM.

"Ini pilihan yang tidak biasa untuk saya yang berlatar belakang keluarga pedagang dan PNS," katanya.

Emmy dianggapnya menjadi sosok teman kerja dan teman bermain, sama-sama mendorong pola hidup ramah lingkungan. Emmy pun selalu memberikan contoh tentang bagaimana advokasi itu harus berbasis data dan analisa solid dengan pilihan strategi beragam.

Sosoknya juga dianggap sebagai pemimpin yang konsisten dalam menyerukan isu gender dan perubahan iklim ke ruang publik. Ada pesan dari Emmy yang disampaikan sambil bekelakar soal permasalahan lingkungan hidup di Indonesia.

"Pertarungan perubahan untuk Indonesia (untuk isu lingkungan hidup) itu ada di dalam negeri, bukan di luar negeri," kenang Abetnego Tarigan, Deputi II Kantor Staf Kepresidenan.

Perjuangan menjadikan Pulau Komodo keajaiban dunia

Pada 2011, perjuangan Emmy mengusung Pulau Komodo sebagai bagian dari kejaiban dunia melalui ajang New 7 Wonders sempat menemui sandungan besar. Gara-gara sengketa antara Kementerian Budaya dan Parawisata (Kemendupar) dan pihak penyelenggara.

Namun, meski menyingkirkan Kemendubpar sebagai promotor resmi Pulau Komodo, pihak New 7 Wonders tetap mempertahankan jagoan Indonesia itu sebagai finalis. Polemik itu membuat suara untuk Pulau Komodo merosot tajam. Kampanye lantas diambil alih Pendukung Pemenangan Komodo (P2K) yang mendaulat mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai duta besar.

"Terserah mau ada konflik, Komodo masih ada di situ (finalis New 7 Wonders). Sayang kalau tidak ada yang mendukung," kata Emmy yang saat itu menyandang sebagai Ketua Pendukung Pemenang Komodo (P2K) 2011.

Perjuangan ini menunjukan hasil setelah terpilihnya Pulau Komodo menjadi tujuh keajaiban dunia versi organisasi New 7 Wonder. Saat itu Emmy menyatakan, terpilihnya Pulau Komodo merupakan kebanggaan bagi Indonesia.

"Karena masyarakat dunia akhirnya mengakui keistimewaan Pulau Komodo," katanya.

Peran Emmy memang sangat besar, saat itu Labuan Bajo bukan apa-apa. Daerah ini cuma desa yang sepi yang terdiri atas pesisir dan pantai, tidak berbeda dengan pantai-pantai dari ribuan pulau-pulau lain. Labuan Bajo waktu itu tidak pernah dilirik siapa pun, dan tidak pernah dikunjungi turis karena sulitnya akses menuju ke sana.

Kisah Desa Terong, Desa Peduli Perubahan Iklim dari Selatan Bumi Mataram

"Tetapi Labuan Bajo sekarang adalah daerah yang dikenal di seluruh jagad bumi karena jasa Emmy Hafild, yang berkampanye duet dengan Jusuf Kalla. Kebanyakan publik dan rakyat Indonesia mempunyai ingatan pendek, sehingga kenangan untuk Emmy Hafild ini penting untuk mengingat jasanya," jelas Prof Dr Didik J Rachbini, Rektor Universitas Paramadina.

Menurut Didik, langkah cerdas Emmy dengan menggaet Jusuf Kalla sebagai Duta Besar Komodo merupakan langkah yang tepat. Baginya sosok mantan wakil presiden itu terkenal sigap dan total dalam bekerja. Selain itu dukungan kolektif dari segala kalangan juga membantu terpilihnya Pulau Komodo.

"Gerakan kolektif berhasil karena semakin banyak dukungan, dari artis sehingga dukungan SMS tembus lebih dari 100 juta," ungkapnya.

Kesuksesan ini mengubah Labuan Bajo menjadi kota wisata yang mengagumkan karena eksistensi hewan purba, diakui sebagai sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Lapangan terbang dibangun, hotel-hotel bermunculan, dan turis-turis dari berbagai belahan dunia datang untuk melihat the New 7 Wonder ini.

"Kehebatan Emmy ini adalah legasinya yang mestinya tidak dan jangan dilupakan, karena usaha keras itu mengalahkan 440 saingan dari 220 negara. Sukses ini bukan merupakan hal yang mudah, sehingga saya mengusulkan Emmy mendapat bintang jasa dari negara," pungkas Didik.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini