Dari Halaman Rumah, Seorang Pegiat Lingkungan Berikan Sumbangsih untuk Bangsa

Dari Halaman Rumah, Seorang Pegiat Lingkungan Berikan Sumbangsih untuk Bangsa
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #InspirasidariKawan #NegeriKolaborasi

Tergerak karena kerinduan masa kecil, Darmawan Denassa atau yang akrab disapa Denassa menyulap halaman rumahnya menjadi Rumah Hijau sejak tahun 2007. Ia memberi nama Rumah Hijau Denassa (RHD) yang merupakan kawasan konservasi untuk penyelamatan kenakaragaman hayati mulai dari tanaman langka, tanaman jenis endemik, sekaligus sebagai tempat belajar bagi anak-anak hingga orang dewasa.

Ia bercerita bahwa saat masih anak-anak, banyak warga yang sering berkumpul di halaman belakang rumahnya untuk mengambil buah asam yang jatuh. Saat itu, warga tak hanya sekadar bertemu tetapi juga terjadi transfer informasi dari berbagai kalangan.

Dari situ, Denassa berpikir bahwa pohon tidak hanya memberikan buah tetapi bisa menjadi mediator komunikasi antar masyarakat. Namun, sayangnya saat ia beranjak dewasa, suasana tersebut hilang bersama pohon di sekitar rumahnya karena harus ditebang. Hingga pada tahun 2007, ia tergerak menghadirkan kembali kehangatan tersebut di halaman rumahnnya.

Melestarikan Lingkungan, Tugas Kita Semua Wahai Penghuni Bumi

Sebelum kembali ke kampung halaman, Denassa yang merupakan lulusan Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin telah memiliki perpustakaan sejak tahun 1997. Namun, merasa kampung halamannya butuh dirawat, ia pun kembali. Denassa khawatir jika pohon yang memberikan banyak manfaat bagi manusia saat ini hanya tinggal cerita di masa yang akan datang.

Menurutnya, tanaman yang tumbuh tidak hanya memberikan buah, tetapi juga berfungsi sebagai habitat banyak hewan yang memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Ditambah Kecamatan Bontonompo, Sulawesi Selatam belum ada tempat konservasi sekaligus memberi edukasi secara langsung kepada masyarakat. Hal ini pula yang semakin memacu langkah Denassa mendirikan RHD.

“Ada hal yang perlu kita perkuat dalam diri kita bahwa, kita semua punya potensi yang tergantung oleh kita apakah akan digunakan untuk hal baik atau hanya dinikmati sendiri. Kita mau capek untuk diri sendiri atau capek untuk membantu orang lain, menyelamatkan lingkungan, menyelamatkan alam dan seterusnya,” Ungkap Denassa saat menjelaskan latar belakang berdirinya RHD, Minggu (20/6/2021).

Aksi Nyata Perusahaan Pupuk Indonesia Berkontribusi bagi Lingkungan

Mengelola kawasan konservasi dengan latar pendidikan sastra merupakan suatu tantangan baru baginya. Namun, hal itu tidak lantas menyurutkan semangat Denassa. Justru, menurutnya yang menjadi tantangan terbesarnya ialah saat RHD sudah semakin dikenal oleh banyak pihak.

“Dulu mungkin hanya orang-orang sekitar yang berharap, sekarang bahkan bangsa pun menaruh harapan pada kami agar RHD tetap ada dan mengembangkan diri. Mereka menawarkan peluang, kemitraan dan segala macam, itu tantangan baru menurut kami. Apakah kami mampu atau apakah ada orang lain yang ingin ikut terlibat?” tutur Denassa.

Di balik pertanyaan tersebut, ia terus berupaya menjawab tantangan yang ada di hadapannya.

“Yang pasti setiap pilihan punya tantangan dan setiap tantangan harus diselesaikan. Karena bisa menyelesaikan masalah dengan benar dan terbaik merupakan bagian dari proses belajar,” tandasnya.

Saat ini RHD telah bermitra dengan banyak pihak mulai dari pemerintah dan juga beberapa lembaga swadaya masyarakat baik lokal, nasional, dan internasional.

“Dari awal merintis, RHD membuka diri kepada pihak yang memiliki visi yang sama. Denassa sadar bahwa kolaborasi adalah kecakapan abad 21 yang penting dikuasai dan menurutnya tidak ada yang namanya superman yang bisa menyelesaikan persoalan sendiri,” katanya.

Atas upayanya, Denassa juga mendapat beberapa penghargaan dari pemerintah dan kementrian atas sumbangsihnya terhadap lingkungan. Pada bulan April lalu hingga tulisan ini terbit, ia terpilih menjadi nominator dalam penghargaan kalpataru 2021 yang dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup kategori perintis lingkungan mewakili Sulawesi Selatan.

Kegiatan Rumah Hijau Denassa

Dokumentasi Pribadi
info gambar

Sesuai dengan tagline RHD, yaitu Konservasi, Edukasi, Harmoni, Denassa merumuskan program yang bisa mencakup konservasi dan edukasi menjadi satu kesatuan. Agar lebih sadar akan pentingnya tanaman, dipadukanlah dengan edukasi.

Sejauh ini agenda yang terdapat pada RHD, yaitu konservasi tanaman, terutama pada tanaman langka yang berasal dari Sulawesi dan tempat edukasi. Program edukasi tersebut meliputi outing class, kelas Komunitas, dan diskusi tematik bersama warga, serta jurnalisme warga.

"Seperti yang dibahas sebelumnya bahwa tanaman juga berfungsi sabagai medium transformasi. Pada kedaaan sejuk dan baik itu RHD menyusupi pesan-pesan kebaikan dengan harapan mereka bisa menjadi seorang pejuang kebaikan," Paparnya.

Cerita Seorang Jenderal Tentang Lingkungan Pecinta Tanaman

Denassa mengakui dirinya termasuk orang yang gemar protes apabila terdapat kebijakan yang memojokkan rakyat. Ia mengatakan bahwa menjadi provokator adalah kemungkinan yang bisa ia lakukan, tetapi peran tersebut tak mau ia ambil dan tidak juga menjadi sakit hati akut terhadap keadaan. Denassa lebih memilih memberikan sumbangsih pada masyarakat dengan caranya sendiri, yaitu melalui RHD.

“Di mana pun kita, apapun usaha kita, apapun mimpi kita sesungguhnya kita masih bisa menyelamatkan diri sendiri sambil menyelamatkan orang lain dan menyelamatkan bangsa. Yang penting kita siap hidup sederhana tetapi apa yang kita lakukan memberi dampak yang besar,” nasihatnya.

Pesan dari Denassa

Denassa selalu menekankan untuk memperhatikan sekitar kita karena yang segala yang terjadi juga akan berdampak pada diri sendiri.

“Orang-orang dewasa yang keliru jangan beri kesempatan untuk mempengaruhi orang lain karena bisa merusak. Jika negara kita hancur maka kita ikut hancur. Seperti sebuah perahu akan tenggelam semuanya saat perahunya bocor," Tuturnya.

Denassa memberi contoh berupa pertambangan yang masih berlangsung di Kecamatan Bontonompo. Menurutnya, masyarakat tidak berpikir panjang akan bahaya yang ditimbulkan. Jika tanah terus digerus seperti longsor atau anak-anak yang bisa saja terjatuh dalam lubang bekas galian.

Dari kondisi tersebut, Denasa berharap pelaku kebaikan yang memberikan dampak kepada masyarakat bisa menggandakan diri hingga bisa menyelamatkan bangsa. Karena jika pelaku kebaikan menjadi minoritas, akan menyia-nyiakan perjuangan dalam mewujudkan mimpi-mimpi kebaikan atau akan membuat kebaikan tidak bertahan.

Titipan pesannya pada anak muda untuk segera merealisasikan mimpi yang diyakini benar dan baik. Agar lebih banyak yang bisa diselamatkan. Dan tak lupa untuk menyertai mimpi tersebut dengan kerja keras, ikhlas, jujur dan tidak mudah menyerah.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SI
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini