Kisah Pria dari Papua, Lepas Kesempatan Jadi Bupati Demi Bina Anak Jalanan di Nabire

Kisah Pria dari Papua, Lepas Kesempatan Jadi Bupati Demi Bina Anak Jalanan di Nabire
info gambar utama

''Saya terlalu banyak kerja, dapat uang dan berkat, tapi saya terlalu jauh dari Tuhan,'' demikian pengakuan Amos Yeninar pada GNFI, Kamis (8/7/2021).

Pria asal Papua itu, belakangan mencuri perhatian masyarakat tanah air khususnya di media sosial, lantaran aksi kemanusiaan yang ia jalani dengan memberikan kehidupaan yang layak bagi anak-anak jalanan terlantar di Papua, tepatnya wilayah Kalibobo, Nabire.

Dalam berbagai informasi yang beredar belakangan ini, aksi humanis yang ia perbuat mendapat atensi besar karena kebaikan hati dan ketulusan tersebut dilakukan Amos di tengah kondisinya yang juga diketahui serba terbatas sebagai seseorang yang berprofesi sebagai tukang ojek.

Tak cukup sampai di situ, kehidupan Amos sebagai tukang ojek yang tetap dengan tulus menghidupi segelintir anak jalanan di Nabire nyatanya hanya secuil awal cerita mengharukan di balik pengorbanannya, demi menjaga anak-anak yang ia sebut sebagai 'Generasi Emas Papua'.

Faktanya, pilihan hidup yang oleh kebanyakan orang dianggap lebih baik sejatinya dimiliki Amos, jabatan penting dengan jaminan kehidupan yang lebih terjamin bisa saja ia dapatkan jika dirinya tidak memilih berada di posisi saat ini.

Tapi, pilihan menjanjikan itu ia kesampingkan demi memenuhi panggilan kemanusiaan yang diterimanya, dan menjadi titik balik dari kehidupan yang ia jalani saat ini.

PPIDK Amerop Adakan Webinar ke-2 "Mayari ke Timur" dalam Pengabdian untuk Papua

Teguran yang menjadi titik balik kehidupan

Amos Yeninar, pemilik Yayasan Siloam Papua
info gambar

Dalam obrolan dengan GNFI, Amos menceritakan perjalanannya dalam membina anak-anak jalanan di Nabire. Memiliki latar belakang yang cukup gemilang, Amos mengungkap bahwa dirinya merupakan lulusan dari Universitas Cenderawasih.

Setelah selesai menempuh pendidikan, Amos kembali ke kampung halaman di Biak dan mendapatkan pekerjaan sebagai staf honorer di sebuah Puskesmas. Karirnya kemudian meningkat setelah ia ditarik untuk bekerja di Dinas Kesehatan selama enam bulan.

Tak sampai di situ, setelahnya Amos mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Pada pekerjaannya kali ini, ia mengakui bahwa kehidupannya cukup baik tidak hanya dari segi pendapatan namun juga fasilitas yang ia dapatkan.

Di saat yang bersamaan, disertai dengan dorongan dari keluarga, Amos mengungkap bahwa ia memiliki cita-cita untuk menjadi seorang Bupati. Upaya untuk melancarkan cita-citanya tersebut bahkan sudah dijalankan saat ia bekerja di LSM, dengan membangun kepercayaan masyarakat agar dapat mendukungnya untuk maju mengisi posisi DPRD, dan membuka jalan menjadi Bupati.

Namun, kesalahan dalam menjalani kehidupan pada masa itu diakui Amos seakan memberi teguran berupa titik balik kehidupan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Amos mengungkap bahwa pada tahun 2015, dirinya sakit berat selama satu tahun. Setelah evaluasi diri, dia menyadari bahwa memang banyak yang salah dari kehidupannya kala itu. Salah satunya terbuai dalam kehidupan mewah dan membuat Amos melakukan kesalahan yang sejatinya sulit untuk dimaafkan bagi orang-orang terdekat.

“…Saya terlalu jauh dari Tuhan, akhirnya saya berkomitmen dan nazar kepada Tuhan kalau saya dipulihkan dan sembuh dari sakit, saya akan pakai hidup agar jadi berkat untuk orang lain…” tutur Amos.

Berangkat dari hal tersebut, Amos bercerita bahwa setelahnya ia mendapat mimpi mengenai seseorang yang memintanya untuk pergi ke Nabire. Merasa hal tersebut merupakan jawaban dari doa yang ia lakukan atas kesembuhan yang didapat, tanpa pikir panjang Amos langsung berangkat menyebrangi laut dari Biak ke Nabire bersama istrinya dan menetap di sebuah tempat tinggal kos.

Berbekal motor bekas yang dimiliki, ia lalu mulai bekerja sebagai tukang ojek untuk menghidupi kehidupannya bersama sang istri.

Mengintip Harta Kekayaan Kepala Suku Penyumbang Lahan Istana Presiden di Papua

Kisah awal aksi kemanusiaan

Amos Yeninar, pemilik Yayasan Siloam Papua
info gambar

Di sinilah kisah awal aksi kemanusiaan yang dijalani Amos hingga saat ini dimulai, dirinya mengungkap bahwa selama bekerja sebagai tukang ojek ia banyak mengamati anak-anak terlantar di jalanan Nabire dalam berbagai keadaan yang memprihatinkan.

“…banyak yang tidak pakai sandal, pakaiannya kotor, banyak juga yang dalam kondisi sedang menghisap lem aibon, akhirnya satu waktu saya mulai dekati dan ajak makan di satu warung makan sekitar,” ungkapnya.

Berawal dari kejadian itu, dirinya mulai mengenal anak-anak jalanan yang menceritakan bahwa mereka sudah tidak mempunyai orang tua dan sering kali tidur di pelataran toko pada malam hari.

Sejak saat itu, Amos sudah memiliki tekad untuk membina anak-anak jalanan tersebut dengan segala keterbatasan yang ada. Penghasilan dari menarik ojek yang sebelumnya ia pakai hanya untuk memenuhi kehidupannya bersama sang istri, pasca kejadian itu ia bagi setengahnya untuk ikut menghidupi dan memberi makan anak-anak jalanan di Nabire.

Tekad Amos mengurus anak-anak yang dibinanya dengan kondisi tersebut setidaknya berjalan selama kurang lebih satu tahun, bersamaan ketika dirinya bertemu seorang pemilik bangunan kosong di pinggiran kota, yang akhirnya dipinjamkan untuk menjadi rumah singgah bagi anak-anak tersebut.

Setelah mendapat pinjaman rumah singgah, Amos dan istrinya pindah dari kos dan tinggal bersama anak-anak jalanan yang ia bina. Amos secara detail menyebutkan bahwa ia dan istrinya melayani setiap anak-anak yang datang untuk sekadar mendapatkan makanan, mandi, mendapat pakaian, serta tidur di malam hari.

Saat itu, Amos masih menjalani pekerjaannya sebagai tukang ojek dengan penghasilan yang ia pakai untuk menghidupi semua penghuni di rumah singgah tersebut.

Mewah di Ibu Kota, Nyatanya Fortuner dan Pajero Justru Jadi Angkot di Papua

Jatuh bangun membina anak jalanan

Amos Yeninar membimbing anak asuhannya
info gambar

Menariknya, selama berbincang bersama GNFI, di samping menggunakan kata ‘mengurus’ atau ‘membina’ Amos lebih sering menggunakan kata ‘melayani’, yang seolah mencerminkan ketulusannya selama hidup bersama anak-anak jalanan yang ia bina.

Lebih lanjut, Amos juga membagikan cerita mengenai tantangan yang ia hadapi dalam membina anak-anak jalanan selama tinggal di rumah singgah. Latar belakang mereka yang sudah lama tertempa oleh kerasnya kehidupan di jalanan, membuat beberapa anak kerap kali melakukan tindakan yang merugikan dan membahayakan penghuni rumah singgah lainnya.

“Melayani anak jalanan tidak gampang, kadang kalau kita beri tahu sudah tidak dengar-dengar, kadang di rumah singgah ini mereka curi kita punya barang, ada juga yang tidak mau makan lempar kaca dan piring. Bahkan kami ada staff satu pernah dilempar, saya sendiri pun pernah dimaki…” ungkap Amos.

Tak cukup sampai di situ, Amos juga mengungkap bahwa rumah singgah yang sudah ia bangun itu pada akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menjadi Yayasan secara utuh, dengan nama Yayasan Siloam Papua dan panti asuhan Generasi Emas Papua.

Tepatnya di tahun 2019 Amos menyambut banyak donasi yang diterima, serta ada pihak yang menghibahkan lahan untuk dibangun rumah tinggal baru untuk yayasan yang ia bina. Namun di tengah pembangunan tersebut, terjadi kebakaran yang disebabkan oleh anak-anak binaannya sendiri.

“Saya sedang di luar waktu itu, jadi anak binaan di rumah ternyata masih mabuk lem dan mereka merokok yang pada akhirnya buat kebakaran, tau-tau ada anak lain yang melapor kalau rumah terbakar, akhirnya semua barang pun terbakar habis. Akhirnya saya bilang ya sudah, tidak apa-apa, sudah….” kenangnya.

Sekali lagi, berkat ketulusan yang Amos miliki, kejadian tersebut tidak melunturkan tekadnya untuk terus melayani anak-anak jalanan yang ia pandang berharga dan memunculkan nama Generasi Emas Papua.

Padahal, di tahun tersebut peluang meraih impian untuk menjadi anggota DPRD yang membuka jalan menjadi seorang Bupati kembali muncul lewat berbagai dukungan yang didapat dari masyarakat di sekitar kampung halamannya. Namun Amos bertekad untuk tetap tinggal bersama anak-anak dalam Yayasan yang sudah ia miliki.

“…itu harga dan perjuangan yang harus dibayar untuk melayani anak-anak ini” jelas Amos.

Akhirnya, semenjak kejadian tersebut Amos tidak lagi memaksa anak-anak yang sejatinya memang sulit dan tidak memiliki keinginan dibina untuk ikut tinggal di rumah yang ia bangun. Amos lebih memilih fokus melayani anak-anak yang ingin tinggal dengannya bersamaan dengan pemberian pendidikan dan kehidupan yang lebih layak.

“Tapi tetap satu hari dalam seminggu biasanya setiap hari Rabu, saya dan istri saya membuat makanan lalu memberikan kepada mereka yang sebenarnya anak binaan kita tapi tinggal di luar, bersamaan dengan pantauan rutin jadi kita tetap membina mereka.”

Kisah Pertimbangan Kilat 30 Detik Presiden Untuk Bangun Istana di Papua

Harapan untuk Generasi Emas Papua

Anak-anak asuhan Yayasan Siloam Papua
info gambar

Bersamaan dengan yayasannya yang sudah memiliki struktur kepengurusan, Amos menjelaskan bahwa saat ini dirinya memiliki usaha kecil lain yang menjadi sumber penghidupan untuk anak-anak yang ia layani, di antaranya peternakan lele, berdagang sayur, dan lain lain.

Saat ditanya mengenai harapannya akan keberadaan Yayasan dan program kemanusiaan yang ia bangun, Amos mengungkap bahwa keberadaan anak-anak jalanan di Nabire sama halnya seperti anak-anak lain yang menjadi penentu masa depan bangsa. itu tentu menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk dirinya untuk tetap membina dan melayani anak-anak tersebut.

Terlepas dari berbagai kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki, Amos memiliki tekad kuat untuk terus menjalankan program binaan untuk membina anak-anak dalam yayasannya.

“Semoga kedepannya akan ada perhatian lebih besar lagi dari pemerintah daerah Papua khususnya di Nabire untuk keberlangsungan anak-anak ini,” pungkasnya.

Masyarakat Papua Mendukung Pelaksanaan PON XX

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini