Ikan Belida, Bahan Baku Pempek yang Kini Populasinya Mengkhawatirkan

Ikan Belida, Bahan Baku Pempek yang Kini Populasinya Mengkhawatirkan
info gambar utama

Nama ikan belida bukan sesuatu yang asing di Indonesia. Di Palembang, Sumatra Selatan, ikan ini terbilang ikonis dan biasa dijadikan bahan baku hidangan seperti pempek, kerupuk, dan kemplang. Bahkan saking ikonisnya, terdapat patung ikan belida dengan tinggi 6 meter dan panjang 12 meter di tepi Sungai Musi, tak jauh dari Jembatan Ampera.

Ikan belida memiliki empat spesies, yaitu Chitala bornensis (belida Borneo), Chitala hypselonatus (belida Sumatra), Notopterus notopterus (belida Jawa), dan Chitala lopis (Belida lopis Jawa).

Meski nama ikan ini masih identik sebagai bahan makanan, tapi populasinya sudah mengkhawatirkan. Mungkin masih banyak yang belum tahu kalau ada Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, mencantumkan semua jenis dari genus Notopterus (belida Jawa dan lopis Jawa) dilindungi.

Pada Permen LHK No.20/2018, tercantum semua famili Notopteridae dilindungi: belida Borneo, belida Sumatera, belida lopis, dan belida Jawa. Peraturan ini kemudian memperkuat penyelamatan satwa dilindungi termasuk belida di dalamnya.

Legenda Ikan Dewa, Jelmaan Pasukan Siliwangi yang Menjaga Kolam Pemandian

Keberadaan ikan belida yang semakin langka

Terancamnya populasi ikan belida di Jambi terjadi karena banyak penangkapan yang tak memedulikan kelestarian. Sementara itu di Palembang, belida jadi bahan baku makanan seperti pempek, kemplang, dan pindang.

Tejo Sukmono, peneliti ikan air tawar Jambi sekaligus dosen Biologi Universitas Jambi mengatakan, ada beberapa alasan kenapa belida masuk daftar satwa dilindungi. Misalnya, populasi di alam liar semakin sedikit, distribusi di alam terbatas, habitat tak mendukung karena banyak sungai rusak, serta pemanfaatan berlebih pun berdampak besar karena secara ekonomi dan rasa ikan disukai banyak orang.

Menurut penelusuran Mongabay.co.id, sebagian besar kawasan rawa di sekitar Sungai Belida, salah satu sungai yang bermuara ke Sungai Musi, sudah menghilang. Ada yang dijadikan area persawahan baru, kebun sawit, kebun karet, hingga pemukiman.

Ditambah lagi, tepian Sungai Belida banyak mengalami erosi karena berkurangnya pepohonan besar di sana. Pada akhirnya, erosi ini membuat sungai mengalami pendangkalan dan pada musim penghujan, banyak rumah terendam banjir dari luapan sungai.

Ikan Bilih, Spesies Endemik Penghuni Danau Singkarak yang Terancam Punah

Upaya penyelamatan ikan belida dari ancaman

Pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengupayakan penyelamatan ikan belida di Sumatra Selatan. Menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, pada tahun 2017 pihaknya telah menebar sekitar 260 ribu ekor benih ikan endemik, termasuk belida, ke Sungai Musi.

Kemudian pada pertengahan tahun 2018, Pemerintah Palembang berencana mengembangkan budidaya ikan belida dengan melibatkan para pelaku budidaya ikan di Palembang yang tercatat berjumlah 700 kelompok.

Arif Wibowo, Kepala Balai Riset Perikanan dan Perairan Umum Palembang, mengaku tertantang untuk menyelamatkan belida dan ikan endemik lain yang tersisa. Sebagai upaya penyelamatan, ia mengembangkan special area for conservation and fish refugia dan menerapkannya di lahan seluas 50 hektare milik Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM).

Dengan konsep bernama SPEECTRA, Arif membuat lubang-lubang terintegrasi dengan anak Sungai Musi untuk tempat ikan-ikan endemik berlindung dan bertahan hidup. Konsep yang dibawanya tersebut pun dibuat di lahan rawa banjiran yang bisa sekaligus menjadi parit untuk mencegah perluasan kebakaran lahan di musim kemarau.

Belida Jawa dinyatakan punah

Upaya penyelamatan terhadap ikan belida harus terus dilakukan. Sebab, salah satu spesiesnya, Belida Lopis Jawa, telah dinyatakan punah.

Kata Veryl Hasan, Dosen Fakultas Perikanan Universitas Airlangga, klaim kepunahan tersebut berdasarkan situs resmi IUCN (International Union for Conservation of Nature), sebuah organisasi internasional yang didedikasikan untuk konservasi sumber daya alam.

Menurut penjelasan Veryl, spesies Belida Lopis Jawa hampir tidak ditemukan kembali sejak lebih 160 tahun yang lalu dan diduga akibat maraknya perubahan fungsi lahan di Pulau Jawa terutama pada kawasan sungai, danau, dan rawa-rawa. Bahkan ia menjelaskan bahwa satu-satunya yang bisa dipelajari dari spesies ini adalah koleksi spesimennya yang kemungkinan masih tersimpan di museum.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini