Pertama di Asia Tenggara, Mengenal 10 Generasi Satelit Palapa Milik Indonesia

Pertama di Asia Tenggara, Mengenal 10 Generasi Satelit Palapa Milik Indonesia
info gambar utama

Selamat Hari Satelit Palapa!

45 tahun lalu di tanggal yang sama, tepatnya 9 Juli 1976, menjadi tonggak sejarah baru sekaligus membanggakan dalam industri komunikasi di Indonesia. Kala itu, keberadaan satelit buatan rupanya menjadi hal yang masih belum lazim dimiliki oleh banyak negara.

Indonesia yang pada dasarnya memiliki wilayah negara sangat luas namun terpisah dalam bentuk kepulauan, tentunya menghadapi kendala dalam hal komunikasi untuk menghubungkan antar-wilayah di tanah air.

Keberadaan satelit buatan manusia sendiri pertama kali diluncurkan oleh Uni Soviet pada tahun 1957 melalui Sputnik 1. Peluncuran satelit itulah yang memicu fasilitas ruang angkasa antara Soviet (yang saat ini menjadi bagian dari Rusia) dengan Amerika Serikat.

Selama beberapa tahun berjalan, persaingan ini rupanya juga turut dirasakan oleh berbagai negara lain di berbagai benua, termasuk Asia. Dalam sebuah buku berjudul “Jalan ke Bogor; Palapa dan Wanita Papua” yang ditulis oleh Klauss G. Johannsen, disebutkan bahwa satelit Palapa merupakan proyek yang mempertaruhkan gengsi nasional.

Bahkan, dalam sebuah buku berjudul “Dunia Penyiaran: Prospek dan Tantangannya” yang ditulis oleh Ishadi Soetopo Kartosapoetro dan Sumarsono Soemardjo--terbit pada tahun 1999, disebutkan bahwa Indonesia merupakan negara ketiga di dunia--setelah Kanada dan AS--yang membangun sistem komunikasi satelit domestik.

Karenanya, bukan tanpa alasan jika peluncuran Satelit Palapa generasi pertama menjadi hal yang sangat dibanggakan Indonesia di hadapan negara-negara Asia lainnya.

Sejarah Hari Ini (9 Juli 1976) - Palapa A1, Satelit Pertama Indonesia

Sejarah inisiasi Satelit Palapa

Presiden Soeharto melakukan sambungan langsung dalam peresmian pemakaian satelit bumi Palapa, 16 Agustus 1976
info gambar

Keputusan agar Indonesia memiliki satelit untuk keperluan komunikasi yang menyatukan berbagai wilayah di tanah air, merupakan gagasan dari Presiden Soeharto. Kala itu, langkah awal dimulai dengan membangun sumber daya manusia dan fisik sejak tahun 1974, dengan mengirim beberapa orang Indonesia ke luar negeri untuk mempelajari sistem komunikasi modern yang terintegrasi dengan satelit.

Kemudian di tahun 1975, Indonesia menandatangani pengadaan dua satelit yang dibuat oleh Hughes Aircraft Company, diikuti dengan pembangunan stasiun pengendali utama di Cibinong, Jawa Barat, dan 40 stasiun bumi yang tersebar di beberapa daerah.

Tiba pada saat yang dinantikan, tanggal 8 Juli 1976 tepatnya pukul 19.31 waktu Florida, Amerika Serikat, atau bertepatan dengan 9 Juli pukul 06.31 WIB di Indonesia, satelit komunikasi Palapa yang diberi kode nama A1 diluncurkan dari Cape Canaveral Kennedy Space Centre.

Akhirnya, satelit Palapa A1 tersebut mulai berfungsi sejak 16 Agustus 1976. Adapun tanggal dan waktu Indonesia dari peluncuran pertama satelit telekomunikasi geostationer pertama tersebut yang pada akhirnya diperingati sebagai Hari Satelit Palapa, hingga saat ini.

Satelit Palapa B2 Diterbangkan ke Luar Angkasa

10 generasi Satelit Palapa hingga saat ini

Visual satelit Palapa B1
info gambar

Sejak awal peluncuran hingga saat ini, Indonesia diketahui sudah memiliki 10 generasi satelit yang berhasil mengorbit di angkasa. Layaknya berbagai benda yang memiliki masa operasi, hal yang sama juga berlaku bagi satelit Palapa yang memiliki masanya masing-masing, dan mengalami pergantian setiap kali masa operasinya berakhir.

Adapun dalam hal pengelolaan, satelit Palapa sejak awal kehadirannya kerap kali berpindah ke beberapa pihak, meski berada di satu lingkup yang sama. Beberapa pihak yang pernah atau saat ini menjadi pengelola dari satelit Palapa, di antaranya Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel)--sekarang Telkom, PT Satelindo yang merupakan usaha telekomunikasi patungan antara Telkom dan Indosat, serta Indosat Ooredoo.

Satelit Palapa A2 menjadi satelit yang diluncurkan berselang setahun dari satelit Palapa A1, tepatnya di tahun 1977. Diluncurkannya satelit ini adalah sebagai satelit cadangan apabila satelit A1 mengalami kegagalan. Namun pada akhirnya, satelit A2 mulai menggantikan fungsi sepenuhnya secara mandiri saat satelit A1 berhenti beroperasi pada tahun 1985.

Satelit Palapa B1 menjadi satelit palapa generasi ketiga yang diluncurkan pada tahun 1983 dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan komunikasi tidak hanya di Indonesia namun juga negara-negara di kawasan ASEAN, satelit ini berhenti beroperasi di tahun 1990 yang kemudian digantikan oleh satelit Palapa B2.

Satelit Palapa B2 yang diluncurkan pada 3 Februari 1984 nyatanya mengalami kegagalan, karena salah satu bagian yang dilaporkan tidak berfungsi secara maksimal. Sebagai solusi, akhirnya dibuat satelit Palapa B2 Pengganti (B2P).

Satelit Palapa B2P diluncurkan pada 20 Maret 1987, 3 tahun sebelum masa operasional dari Palapa B1 selesai, satelit generasi kelima ini beroperasi selama 9 tahun dan berhenti beroperasi pada tahun 1996.

Satelit Palapa B2R kemudian menjadi satelit selanjutnya yang diandalkan, bukan satelit baru, B2R sejatinya adalah Palapa B2 yang sebelumnya mengalami kerusakan lalu diperbaiki, satelit ini beroperasi selama 10 tahun mulai 1992 hingga tahun 2000.

Melaju Sekencang 30 Mbps dengan Palapa Ring

Generasi selanjutnya dari satelit Palapa diikuti dengan kode nama B4, yang meluncur pada tahun 1992 dan beroperasi hingga 2005, diikuti Palapa C1 dan C2 yang sama-sama diluncurkan pada tahun 1996.

Bedanya, Palapa C1 lebih dulu berhenti beroperasi pada tahun 1999 sedangkan Palapa C2 memiliki waktu operasi lebih lama hingga tahun 2011. Dalam rentang waktu keaktifan Palapa C2, diluncurkan pula Palapa D pada tahun 2009, dan sudah menghentikan masa operasinya pada tanggal 1 Juli 2020.

Berbeda dengan 9 generasi satelit Palapa A1 hingga C2 yang dibuat oleh Hughes Aircraft Company asal Amerika Serikat, Palapa D dibuat oleh Thales Alenia Space asal Prancis.

Saat ini, orbit yang sebelumnya digunakan oleh satelit Palapa D kosong, pemerintah Indonesia sejatinya pernah meluncurkan satelit Nusantara 2 yang direncanakan akan menggantikan posisi Palapa D pada bulan April 2020 lalu, namun ternyata satelit tersebut mengalami gagal luncur sehingga tidak berhasil ditempatkan pada posisi orbit yang sebelumnya digunakan oleh Palapa D.

Mengutip rilis resmi dari laman Kominfo, salah satu dampak kegagalan peluncuran satelit Nusantara 2 adalah potensi penghapusan filing satelit Indonesia di slot orbit 113 BT (orbit Palapa D) oleh International Telecommunication Union (ITU), karena Indonesia tidak dapat menempatkan satelit di slot orbit 113 BT dalam batas waktu yang ditetapkan.

Sebagai gantinya, pemerintah melalui Kominfo dikabarkan sedang melakukan proyek satelit Multifungsi yang direncanakan meluncur pada tahun 2023, guna menghadirkan akses koneksi komunikasi gratis di 150 ribu titik layanan publik di berbagai penjuru nusantara.

Siap-siap. Indonesia Akan Bangun Satelit Terbesar di Asia

Konten di atas sebagian memakai konten yang ada di Wikipedia. Untuk melihat yang lainnya, silakan klik tautan berikut Arsip Wikipedia. Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini